Minggu, 06 Agustus 2023

Keparat cilik yang licik

Masing-masing orang punya posisi, masing-masing orang punya tragedi, dan masing-masing orang punya solusi, tinggal bagaimana dinamika yang kita lakukan berjalan sesuai konsistensi sebuah pilihan. 


Di mata orang yang mengerti segalanya, justifikasi menjadi panggung utama dalam membela diri. Egosentrisme yang dipelihara memainkan peran dengan sebaik-baiknya, menjadikan semua hal yang berbeda sebagai kesalahan yang tak terbantahkan oleh realita. Karena semua perihal bijak adalah isi kepala yang mengerti banyak hal dari seisi dunia, kiranya.


Sadar sama semua cetek yang diri alami atas sebuah justifikasi, aku menolak mentah perihal persepsi yang saling tumpah. Ketimbang terus memaksakan arus, lebih baik tenggelam jauh ke lubuk paling dasar yang sulit terjamah oleh apapun itu.


Bahkan saking sadarnya sama semua omong kosong diri yang tidak dihargai, membuatku jauh lebih lapang atas tenang ketimbang dijustifikasi. Sebab aku tidak pernah menempatkan kompetisi sebagai sebuah persaingan, sekitar aja yang begitu rentan mengambil kesimpulan dengan demikian. Padahal yang menyulitkan dari hidup kan pilihan-pilihan yang kita ambil dari sebuah perbandingan, tapi tetap aja ngotot memilihnya sebagai keputusan. Ujung-ujungnya pasti akan selalu ada korban untuk dijadikan sebaai ajang kesalahan yang digaungkan.


Karena ironi paling dekat dari hidup manusia, adalah orang-orang yang kita tempatkan rasa percaya di dalamnya. Namun, realita atas hidup dan waktu yang berlalu, tidak menunjukkan hasil apa-apa, selain harapan yang rapuh atas kecewa yang begitu penuh.


Apa yang bisa kita harapkan dari orang lain? Bisa saling silaturahmi aja udah syukur. Ketimbang merelakan ego berperang untuk merebutkan kemenangan, lebih baik tidak ikut terlibat jauh dari semua masalah yang berlabuh. Pasang topeng terbaikmu pada dunia dan sekitarmu yang begitu rentan menginjak nilai-nilai yang selama ini kamu bangun, dunia memang dipenuhi oleh keparat cilik yang merasa mahir memainkan posisi. Dengan begitu, kau aman di balik semua kepolosan yang kemudian berhasil kita tertawakan.


Tawa yang tercipta dari sebuah realita tentang ironi manusia, atas kosong yang menjelma makna dalam ruang hampa, bagi diri yang runtuh dalam amuk logika. Karena, toh siapa yang rela, kalau sudah begini ceritanya?

Share: