Minggu, 26 November 2023

Bait-bait renjana di tiap tanya

Gemericik air dari langit menebarkan sensasi dingin sekaligus menguarkan takjub dari lubuk hati, ada yang selalu aku suka ketika harus menerjang hujan di malam hari, entah itu deras atau gerimis, selalu ada satu alasan kecil mengapa aku begitu leluasa menikmati limpahan-limpahan basahnya.


Karib dengan kesendirian, kerap membawaku terbiasa untuk menjadi diri sendiri yang sulit berubah, kendati situasi membawa orang lain di tengah-tengahnya. Namun, aku akan selalu menjadikannya misterius di segala keadaan, dengan segenap percaya yang dilapangkan.


Langkah kakiku sudah hampir tiba di depan pintu mall, tetapi dari arah samping ada derap langkah kaki yang bergegas menuju ke arahku dengan suara samarnya memenuhi indera pendengaran. Aku tak menggubris sapaannya, saat tubuhnya sudah berada di samping langkahku, ia langsung menggait pergelangan tanganku dengan tangannya, langkah kakiku tetap melaju memasuki mall. Kadang dia pendiam, kadang juga impulsif, sikapnya begitu kondisional di situasi tertentu.


"Buset cuek amat, ngomong dikit nggak bisa apa?" tukasnya mendadak cemberut, lekas ia memalingkan muka ke sembarang arah. Langkah kaki kami berhenti di atas eskalator yang terus berjalan.


"Iya cantik, kenapa?" sahutku terlampau pelan, entah apakah dia mendengar atau tidak. 


Kepalanya memutar pelan, kali ini pandangannya lurus ke depan, bola matanya melirik ke arahku seakan seperti sedang mengintip sesuatu. Hoodie berwarna biru yang cukup mentereng itu terlihat kebesaran di tubuhnya, sekilas aku melirik penampilannya yang terlihat tidak begitu menonjolkan eksposur untuk memperoleh atensi. Namun aku selalu salah tingkah sendiri melihat penampilannya seperti itu, sekilas lagi aku menatap pada diriku sendiri. Ya ampun, apa yang bisa aku banggakan? Gumamku dalam hati.


Hilir mudik orang-orang di pusat perbelanjaan menjadi tontonan monoton di tempat duduk kami, hidangan makanan serta minuman yang sudah tersaji di depan kami seakan hanya menjadi ornamen di atas meja dari sebuah pertemuan yang entah akan membawa apa. Kami terus berdialog tanpa arah, bercerita banyak hal dari pertemuan yang terkesan sulit untuk digapai dari realita yang sedekat sekarang.


“Gue penasaran deh, berapa banyak sih orang yang penasaran sama semua isi kepala lo?” 


Aku terkekeh pelan, senyumku mengembang lebar di kedua sudut bibir. Mengundang senyumnya yang tak kalah menarik untuk dipandang sedekat ini. Kedua pipinya menyembul dengan secercah keindahan tersirat di balik tudung kepala dari hoodie yang tengah ia kenakan. Udara dingin Banjarmasin malam ini yang gerimisnya sesekali masih turun berhasil membuat tubuh kami memagut dingin, tidak seperti malam-malam biasanya yang berlalu dengan menyertakan gerah di tubuh. 


“Kenapa, lo mau nambahin peserta lain setelah diri lo?“ jawabku menimpali pertanyaannya tadi.


“Dih, ogah, najis banget, sorry aja nih ya, gue nggak tertarik buat ngerti sama isi kepala lo, sama isi kepala sendiri aja udah rumit buat ngertiinnya.”


“Nah bagus, itu yang paling penting.” 


Senyumnya tergelar tipis, samar suara gelak tawa hadir memenuhi indera pendengaranku. Dia menundukkan kepala hingga sejajar dengan meja yang memisah tempat duduk kami. Tanpa memungkiri apa-apa, aku mendaratkan telapak tangan tepat di atas ubun-ubun kepalanya, sementara jemariku mengelus kepalanya dengan perlahan.


Mendadak tubuhnya bergeming. Mendapati ia yang tidak merespon, aku malah menempatkan dagu di atas kepalanya sembari memajamkan mata, telapak tanganku turun ke belakang lehernya yang masih ditutupi oleh tudung kepala hoodie yang tengah ia kenakan. 


Kami menciptakan keteduhan yang menjelma energi positif, degup jantung kami berdenyut dengan penuh irama. Sejenak, segala sesak tetiba luruh seiring hembusan napas yang kami hela.


“Eh tapi serius ya, lo itu orang yang paling cocok buat numbuhin kenyamanan, semua kebingungan yang lo buat ke gue selama ini, bikin gue berhasil jadi diri gue sendiri.” 


Aku menautkan alis dan menanggapi ucapannya dengan cukup skeptis. "Maksudnya? Kebingungan, kenyamanan, hubungannya sama gue? Terus, selama ini, maksudnya?" imbuhku tak mengerti dengan maksud ucapannya.


"Giliran gue yang sekarang nggak ngerti sama semua pertanyaan lo?" tegasnya mendadak kesal.


Aku terus bergeming di tengah kekesalannya, karena jujur saja aku masih tidak menangkap penuh maksud dari ucapannya tadi. Kendati demikian, aku tetap harus mengambil alih suasana hatinya yang sudah benar-benar rusak. Sejenak aku memutar otak untuk berusaha mencairkan suasana di tengah kesalnya yang masih berkabung. Kini ia malah fokus memainkan hp nya tanpa sedikit pun memperhatikanku yang masih kebingungan.


"Mau dengan alasan apapun, kalau untuk jadi diri sendiri kayaknya nggak perlu berlebihan untuk ngelibatin gue, deh. Takutnya lo kecewa. Jadi diri sendiri itu cukup dengan kesadaran-kesadaran yang selama ini lo bentuk. Cukup dari perhatian-perhatian kecil yang lo kumpulkan. Cukup dari rasa syukur dan terima kasih yang berhasil lo panjatkan."


"Tapi, emangnya lo ada niatan buat ngecewain gue?" tanyanya kemudian saat atensinya berhasil aku raih kembali.


"Kalau realitanya lo kecewa karena gue?" tanyaku balik.


"Nggak mungkin," tegasnya lantang.


"Nggak ada yang nggak mungkin, orang kasmaran aja kalau udah pisah, sakit hatinya yang paling awal justru dengan nyalahin mantannya, kan?" timpalku memberikan argumen.


"Emang lo begitu?" tanyanya balik.


"Gue pribadi enggak, bisa jadi mantan gue yang nganggapnya begitu," jawabku jujur.


"Terus lo terima disalahin gitu?"


"Ya terus gimana, mau nolak? Asumsi orang lain nggak bikin gue kenyang apalagi menderita, lagian kalau kita sudah kepalang sakit hati, kenapa kita masih punya energi untuk menyelipkan kebencian di dalamnya apalagi sampai nyari-nyari celah kesalahannya? Emang opsi untuk menerima ada di urutan ke berapa?" ungkapku panjang lebar.


"Eh tapi bentar dulu deh, gue jadi kepikiran, emangnya dulu lo pisah karena apa?" 


"Gue mau jawab pisah dengan baik-baik, tapi realitanya banyak orang kan enggak pernah mau menerima bahwa ada perpisahan yang benar-benar baik, yang bersangkutan juga kayaknya enggak menganggap itu perpisahan yang baik kala itu. Tapi ya pada intinya, ada kepercayaan yang nggak bisa gue lanjutin, ada prinsip yang nggak bisa diterusin, dan ideologi yang udah enggak bisa sejalan lagi. Mau diterusin paksa bagaimana pun juga, bakalan ada yang terus tersakiti di dalamnya, karena gue gak mau itu terjadi, makanya gue mau menyudahi itu."


"Kita?" lirihnya pelan. Aku menyadari ada keanehan dari cara dia menyimak ucapanku, lantas dengan segera aku kembali merubah topik pembicaraan.


"Daki lo, tuh, kita." 


"Apasih, serius tau nanyanya," ketusnya seraya berdecak sebal.


Aku sendiri bingung mau menjawabnya bagaimana lagi, kali ini lekas kuraih kepalanya yang masih terasa berat untuk digerakan mendekat ke arahku, sebab kesalnya yang masih membumbung di perasaannya. Dengan cepat kukecup puncak kepalanya yang tidak lagi tertutupi oleh tudung hoodie yang ia kenakan.


"Jalani apa yang kita yakini sekarang. Kalau lo udah percaya, nggak usah lagi khawatir sama apa yang udah lo percayai. Karena gue menghargai besarnya kepercayaan." 

Share: