Udah lama kan ya enggak nge share hasil-hasil motret, ya karena emang ga ada effort lagi aja buat nyalurin emosinya ke sana. Aku terlalu banyak pilihan dalam meluapkan ekspresi-ekspresi atas segala situasi yang dihadapi.
Nah di kesempatan kemarin, kebetulan aku ada effort buat motret lagi, sembari gabut lah itu ya masuknya. Pergi lah malam-malam aku ke bukit Tahura, dari jam 12 sampai jam 3 malam mandek di sana, motret-motret langit. Sebenarnya alasan kenapa aku mendadak tiba-tiba ingin pergi ke Tahura karena di hari itu cuaca siang sampai ke malamnya benar-benar cerah, untuk musim penghujan seperti Desember sekarang, kecil sekali kemungkinan untuk menemui di mana situasi tidak dijatuhi hujan, dan kebetulan hari itu hujan tidak turun bahkan sampai aku menjejakkan kaki di bukit tersebut, kendati beberapa saat setelahnya awan mendung mulai berkabung.
Dari sini yang kemudian momen-momen indah dan penuh kedamaian mulai muncul buat aku sadari, sejak aku mendirikan tripod dan naroh HP di situ buat ngerekam lintasan milky way, aku perlu nunggu sekitaran 40 menitan buat menuhin hasil foto sebanyak 80 file. Karena untuk ngedapetin lintasan milky way harus ngarahin kamera ke arah matahari terbit, jadi satu HP yang ada di tripod benar-benar standby di sana sembari terus ngejepret otomatis terus-menerus.
Sementara di arah sebaliknya, dari arah-arah matahari tenggelam, lintasan kilat terus menyambar indah, dalam sepersekian detik langit menjadi terang, merah jingga menyala terpampang di ujung cakrawala, bahkan gumpalan-gumpalan awan terus mengepul di bawah sana. Kendati gelap, panorama cantiknya langit benar-benar memeluk penglihatan dengan penuh pemaknaan.
Karena satu HP masih digunakan untuk memotret lintasan milky way, jadilah aku inisiatif untuk menggunakan HP satu lagi untuk memotret dari arah langit yang di sana kilat terus menyambar. Hanya bermodalkan dua batu yang cukup menopang HP untuk berdiri tegap, aku akhirnya mengatur pengaturan kamera untuk menghasilkan foto otomatis sebanyak 30 foto dalam Shutter speed 30 detik.
Sembari menunggu HP melakukan pekerjaannya, aku dengan santai duduk melihat ke segala arah, langit yang dipenuhi bintang, bukit-bukit di sekitar yang dipeluk awan, kilat yang terus menyambar, sejuk angin yang memagut dingin dari tubuh. Diamku ditemani oleh kepulan-kepulan asap rokok yang berhembus, tenang sekaligus damai merebak, isi pikiran berurai penuh irama, lantunan syukur terpanjat erat. Nikmat mana lagi pada saat itu ketika mata begitu leluasa melihat keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan, lalu aku dengan kebisaan yang aku punya juga sedang mengabadikannya. Bukan hanya sekadar lewat dan dilihat lalu diingat, tetapi juga dibawa pulang dalam bentuk visual yang tak terkalahkan indahnya.
Aku rasa, menjadi seorang hamba yang dianugerahi kesadaran untuk bisa bersyukur ketika melihat sesuatu dan selalu menghadapi situasi dengan pemahaman yang penuh arti, ngebuat aku jadi enggak pernah punya alasan buat ngeluhin apa-apa atas hal yang ada di luar dari kontrol diri kita. Padahal langit malam itu gelap, bulan pun enggak ada, langit nya juga enggak begitu cerah-cerah amat, gumpalan-gumpalan awan terus mengitari langit oleh hembusan angin yang membawanya terus berjalan, bahkan dengan kilatan cahaya yang sesekali menyambar, menandakan bahwa hujan bisa turun kapan saja. Namun begitulah aku, aku yang enggak pernah punya kemampuan buat ngeluhin atas situasi yang sedang dihadapi, aku selalu menerimanya dengan penuh penerimaan.
Bahkan ketika di jalan pulang pun, saat waktu sudah menunjukkan jam 4 pagi, hujan mulai turun di perjalanan pulang saat hendak menuju Banjarmasin. Kendati demikian, aku tetap melaluinya, toh aku juga sudah menyiapkan jas hujan dari balik jok motor. Setelah digunakan, lanjut aja jalan pulang, hujan semakin deras mengguyur sampai kemudian aku tiba di kota, lampu-lampu jalan yang bergradasi di pantulan jalan tampak indah di penglihatan, lagi-lagi di situasi seperti itu aku masih bisa melantunkan syukur betapa banyaknya momen yang masih bisa aku temukan dan bisa aku nikmati. Aku juga sempat mengabadikan momen jalanan yang sepi dan dipenuhi oleh gradasi lampu jalanan di hamparan aspal basah yang cukup memukau keindahan. Bahkan ketika sudah di dekat rumah, lantunan adzan subuh mulai melengking dari setiap mesjid yang aku lewati, sesampainya di rumah aku langsung meluapkan rasa syukur tersebut dalam kewajiban yang aku segerakan.
Tuhan, betapa indah dan cantiknya segala hal yang kau ciptakan, terlepas itu makhluk hidup atau benda mati, semua yang Kau jadikan di muka bumi tampak begitu menawan untuk dinikmati. Bahkan dalam ciptaanmu yang begitu agung laiknya Kau ciptakan seorang kekasih yang sangat dicintai, demikian pula aku yang juga menghimpun segenap rasa dan mendebarkan degup jantung dari hati yang tertawan oleh kecintaan ini.
Tuhan, aku benar-benar ingin mencintaimu lewat kekasihku, sebab binar tatap matanya berhasil mengantarkan pancaran ilahiahMu kepadaku. Bahkan ketika aku sedang memuji cantiknya, aku begitu yakin tengah berzikir kepadaMu yang telah berkuasa menciptakan hadirnya. Semua perasaan itu hadir karenaMu Tuhan, tetapi kehadirannya menuntunku dalam perjalanan kehambaan.
Dari langit yang indahnya aku nikmati begitu leluasa, aku menitipkan banyak pesan dalam luapan penuh rasa. Semoga mataku tidak buta dalam melihat keindahan, kendati situasi tidak serupa seperti ekspektasi. Karena yang dituju dari langit adalah indah yang mengejutkan, bukan indah yang direncakan.




