Senin, 12 Juni 2023

Terpapar anxiety dari self diagnose yang berujung ilusi

Kekuatan media sosial dalam meromantisasi segala penderitaan tuh jadi ngebuat kita tervalidasi dan rasanya bisa jadi menenangkan gitu ya. Mungkin ini bisa jadi nilai positif, tapi kok makin ke sini pembawaan yang dikemas rapi dalam sebuah konten dengan mengusung konsep penderitaan, rasa-rasanya kayak cuma jadi permainan atau pamer situasi dengan elegan, dan utamanya bisa jadi mengandung keinginan untuk dinotice tanpa menggunakan cara yang norak. 


Tanpa bermaksud untuk menghakimi, apalagi menyudutkan seseorang yang memang mempunyai gangguan mental, tulisan ini saya buat semata-mata untuk menggambarkan penafsiran saya tentang imitasi yang diangkat dan dikemas oleh orang-orang di media sosial dengan effort yang begitu potensial. Dan kayaknya emang konsep mengenai penderitaan tuh adalah jalan pintas paling memudahkan ya, buat memvalidasi kekacauan pikiran dengan begitu elegan. Dengan begitu, kita bisa menarik simpati orang lain dan membuat mereka berbaur dengan kita melalui rasa kasihan yang berhasil kita dapatkan, sehingga energi untuk berbagi jadi meluap-luap sebagai obsesi. 


Fenomena anxiety ini sebenarnya menjadi persoalan yang cukup serius dalam ranah psikologi, anxiety sendiri merupakan gangguan kecemasan berlebih yang dihasilkan oleh stimulus dalam otak kita berupa pre frontal cortex dalam merespon kecemasan tersebut secara alami, hal ini ditandai dengan detak jantung kita yang menjadi berdebar lebih kencang, dan itu tidak bisa dimanipulasi. Maka yang bisa kita lakukan adalah menyadari rasa cemas tersebut karena itu adalah hal yang wajar. Namun, kalau kecemasan ini sudah sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari dan membuat kita tidak nyaman secara fisik apalagi psikis, maka sangat dianjurkan untuk mencari bantuan profesional untuk menangani hal ini.


Nah, permasalahannya, dari beberapa pemicu yang telah disebutkan melalui asal kecemasan tadi, kita sering kali malah mendiagnosa diri kita bahwa kita sedang mengalami anxiety. Memang bahwa pengakuan anxiety yang kita alami itu sangat tidak menyenangkan, terlalu kacau, ditambah dengan pikiran-pikiran berlebihan yang berdampak pada kesulitan tidur. Sehingga membuat kita yakin bahwa kita tengah terpapar anxiety dengan argumen-argumen data yang telah kita ketahui. Namun, jika dengan demikian kita memang merasakannya, apakah sebenarnya hal itu berpengaruh pada aktivitas kita sehari-hari, atau cuma sekadar datang ketika kita memang terlalu berlebihan dalam memikirkannya? 


Tentunya hal tersebut bisa dijawab oleh diri kita masing-masing yang merasakannya. Namun, poin pentingnya adalah, anxiety tidak sesederhana perasaan cemas, kacau, dan berantakannya isi kepala kita yang datang hanya di saat kita tengah menyadari dan memikirkannya. Anxiety ini justru lebih dari itu, dia merupakan gangguan kecemasan yang bahkan ketika kita tidak memikirkannya, kita justru sedang mengalaminya, dan itu memicu kepada kondisi fisik yang sangat tidak nyaman dan mengganggu pada kehidupan sehari-hari, hingga bisa memicu kita pada serangan panik akibat kecemasan yang berlebihan tadi.


Maka dari karena itu perlu penanganan profesional psikolog untuk membantu menanganinya. Bukan malah mendiagnosa diri kita sendiri dengan gejala-gejala yang ada dan kita masih tetap bertahan di dalamnya. Namun, perlu digarisbawahi juga bahwa kita perlu mengapresiasi orang-orang yang masih bisa bertahan melawan pikiran-pikiran yang berlebihan tentang kecemasan itu. Bisa jadi bahwa anxiety yang kita anggap dari hasil self diagnose itu hanyalah ilusi dari kekacauan-kekacauan isi kepala kita yang berlebihan sehingga membuat pikiran kita menjadi tidak nyaman, padahal sebenarnya kita tidak sedang mengalami anxiety secara benar-benar nyata yang justru menjadi persoalan yang cukup berat. Kita malah jadi orang yang cukup kuat untuk bertarung dengan kekacauan pikiran kita dengan batas-batas kewajaran yang masih terjaga, kendati hal tersebut memicu sesak di dada, tetapi kita masih bisa melaluinya, dan hari-hari yang kita lewati masih sama seperti sebelumnya.


Poin seperti itulah yang harusnya disorot ketika pikiran tengah kacau, meski kadang kalut, kadang abu-abu, selama kita masih tetap bertahan atas rasa sakit itu, bukan menjadi alasan mengapa kita harus menggelar anxiety sebagai validasi atas rasa sakit yang kita alami. Karena selama kita masih bisa bertahan atas rasa sakit tersebut, meski semenderita apapun kita menghadapinya, kita belum benar-benar ada di situasi sebagaimana orang dengan penderita anxiety yang hidupnya bahkan lebih menyeramkan dari kita. 


Namun, orang-orang yang terkena anxiety atas dasar pertimbangan dari seorang profesional psikolog, bahkan hidupnya jauh lebih beruntung karena telah berani untuk berkonsultasi kepada yang benar-benar ahli, ketimbang kita yang hanya menggelar validasi atas sebuah story yang kemudian kita amini. Anxiety tidak sesepele itu untuk dijadikan pilihan, karena itu bukan jawaban, dan solusi terbaik dari semua rasa sakit, adalah tetap menerimanya meski semenderita apapun diri kita, karena semua tempat berpulang ada pada diri kita sendiri, pada semua keputusan-keputusan yang kita ambil dengan semua keberanian untuk berkonsultasi kepada yang memang benar-benar ahli atau hanya sekadar untuk mencari validasi.

Share: