Saya pertama kali memulai perjalanan ngopi dengan sebenar-benarnya ngopi sejak tahun 2019, waktu itu saya diajak oleh salah seorang teman untuk menikmati kopi di salah satu kedai kecil sederhana.
Kalau saya tidak salah, dulu itu masih cukup sulit untuk menemukan kedai kopi sederhana yang menyuguhkan kopi hasil racikan dari biji asli, karena sejauh yang saya temukan saya selalu mendapati warung kopi yang menyeduh kopi sachetan.
Saya masih ingat betul pesanan saya pertama kali karena begitu penasarannya dengan menu kopi americano, bahkan lebih parahnya saya memesan kopi tersebut dengan varian dingin, bukan panas.
Perlu diingat, sebagai seseorang yang baru pertama kali mengecap rasa kopi dari biji asli, tentu saja lidah saya langsung merasakan tidak enak yang luar biasa, saya tidak bisa menemukan rasa enaknya untuk dinikmati dari kopi tersebut, karena sebelum-sebelumnya saya hanya menikmati kopi sachet dengan tambahan gula yang menyeimbangi rasa kopi tersebut. Kemudian saya bertanya kepada teman saya apakah memang rasa kopi yang saya pesan ini memang demikian? Teman saya langsung menyambar gelas kopi milik saya lalu meminumnya, kemudian dia berucap bahwa memang rasanya seperti itu dan rasanya benar-benar pas. Karena sudah terlanjur memesan seperti itu, mau tidak mau saya harus bisa menghabiskannya. Memang selalu ada penolakan di lidah saya pada awalnya ketika meminum kopi tersebut.
Di lain waktu, saya kembali mendatangi kedai kopi tersebut dan mencoba untuk memesan kopi susu sebagai penyesuaian di lidah saya, dan benar saja jika kopi susu yang saya rasa itu sungguh jauh berbeda sebagaimana kopi susu yang biasanya saya minum dalam bentuk sachetan. Pahit dan manisnya benar-benar beradu di lidah, tidak lantas salah satunya mendominasi.
Lambat laun, seiring berjalannya waktu, lidah saya mulai terbiasa dengan cita rasa kopi yang sesungguhnya, yang berada jauh di luar jangkauan oleh pengaruh gula. Cita rasa kafein yang dikecap oleh lidah menuju lambung, membentuk suatu dialektika terindah dari dalam kepala, beberapa hal terasa lebih ringan untuk dipikirkan bahkan direnungkan. Tetes demi tetes regukan yang lewat dari tenggorokan, menjadi salah satu opium dalam mencerna banyak pengertian.
Sejak saat itu, saya jatuh cinta secinta-cintanya pada kopi, dengan batas-batas yang diciptakan oleh tubuh, juga cita rasa yang lahir, tidak pernah alpa dari tiap gelas yang terseduh. Hingga kapan pun, ketika saya perlu mengurai benang kusut di kepala, kafein akan menjadi jawaban paling sederhana dengan sederet bacaan-bacaan yang saya suka. Kiranya memang demikian, kafein dan nikotin yang sesekali saya sulut lewat mulut, menjadi salah satu simfoni paling maknawi di tiap rangkaian nada bicara yang berbunyi.
Dalam beberapa kejadian, saya sering menulis perihal kopi yang menjadi teman penenang paling diam, di balik kepekatannya yang paling purba dan melampaui banyak masa. Ada banyak rentetan huruf yang merangkai serpihan kalimat menjadi utas tulisan paling lugas. Sebagaimana Usman Arrumy menitahkan surah kopi pada puisi, pun demikian dengan aku yang lancang mengikuti beserta kejahilan diri. Begini aku menuliskannya;
Kulihat di ujung bangku jalan, kekasihku tengah duduk sendirian
Isi kepalanya tengah bercengkerama pada sepi
Berdialog syahdu bersama secangkir kopi
Manakala kopi menjelma waktu
Aku akan hangus terbakar oleh rindu
Sebab kopi adalah sebuah detak
Bagi rindu yang membuat diri berontak
Manakala kopi menjelma sunyi
Aku akan terjebak dalam keheningan
Hening yang menjelma suara
Saat sepi menjelma aksara
Tatkala kekasihku telah menuliskan puisinya
Maka sejauh itu pula kehidupan tak kunjung nyata
Hening dan sepi yang kekasihku rasa
Hanyalah perjumpaan kami yang paling purba;
Berupa kata-kata
2019
Kopi-kopi itu adalah napas kehidupan bagi kata-kataku, ketika debar di dada sedang berdenyut menyebut namamu.
2020
Bahkan lebih jauh dari itu, karena berbasis kutu buku yang gemar membersamai bacaan dengan kopi, saya sempat menulis sebuah narasi seperti ini;
Secara sederhana, hubungan antar kopi dan buku bagi para pembaca adalah sekadar untuk melepas kantuk saat mata sedang khusyuk menyelami kata-kata. Namun lebih jauh dari itu, makrifat kopi adalah makna, saat mata melaksanakan syariatnya tatkala membaca. Dan kata-kata hanyalah tarekat, bagi sepasang mata yang mengais makna dalam sebuah hakikat.
2020
Di tahun 2019 saya mempunyai satu projek naskah untuk dibuat buku, ketika saya sudah terbiasa nongkrong di kedai kopi tersebut, saya mencoba mencari suasana baru dengan mencoba menulis di sana, dan saya benar-benar sendirian. Tahun-tahun tersebut masih menjadi tahun yang ideal untuk seseorang yang terbiasa sendiri ini, menikmati waktunya dengan penuh kedamaian, pun orang-orang sekitar yang kiranya sama seperti yang saya lakukan.
Selain dengan tempat yang berbeda, tulisan tersebut kini menjadi salah satu bagian dari isi yang saya masukkan di dalam buku pertama saya yang berjudul "Memeluk Duka". Transisi tempat yang saya pilih jelas saja karena perbedaan harga yang jauh lebih terjangkau dan utamanya karena rasa yang jauh lebih berbeda, ditambah bonus dengan barista yang sangat ramah sehingga dapat membentuk satu obrolan berarti perihal kopi.
Selain terbiasa sendiri untuk barang kali menulis dengan nuansa coffeshop sederhana, saya juga banyak menghabiskan waktu sendiri saya di tempat kopi sembari membaca buku.
Tatkala buku pertama saya selesai terbit, media informasi dunia sedang gempar memberitakan bahaya pandemi covid-19 yang muncul di Wuhan dengan segala dampaknya. Dua bulan kemudian Indonesia resmi melakukan Lockdown atas paparan pandemi yang mulai menyebar luas, tatkala itu juga tempat saya biasa menikmati kopi dibatasi penjualannya.
Namun ada satu, kedai kopi langganan saya yang pernah begitu saya banggakan dulunya, musabab karena pemiliknya yang begitu ramah dan enak diajak berbincang, hingga waktu yang dilalui menjadi tidak terasa panjang.
Bahkan sebagai bentuk apresiasi sang pemilik kedai, beliau berkenan memajang buku pertama saya di salah satu rak buku yang dapat dibaca secara umum oleh para pengunjung yang datang ke kedai kopinya. Sebuah kebanggaan yang cukup berarti dalam proses saya berkarya.
Di lain waktu saya juga terbiasa mencoba mencari suasana baru tentu dengan rasa kopinya dengan mengunjungi kota tetangga dari tempat tinggal saya, dan itu benar-benar menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Tatkala malam tiba, lalu pergi menyambangi kedai kopi langganan saya untuk barang sejenak menyeruput satu atau dua gelas kopi dengan percakapan isi kepala yang tidak jelas, kemudian pulang kembali dengan semua tenang yang tiba-tiba terhimpun rapi.
Hingga semakin jauh waktu berlalu, semakin momentum diadu. Rangkaian-rangkaian ketenangan yang dulunya terhimpun mesra, runtuh dalam amuk tawa yang tumpahkan suara sekencang-kencangnya. Manusia memang sebegitu menderitanya, dan kita memang akan memilih satu tempat terbaik bagi segala penderitaan untuk bertandang, mengusir segala sesak yang dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan keresahan.
Dengan demikian, gaduh dan berisiknya isi kepala orang lain yang tumpah di mana-mana, tidak sebanding dengan apa yang tengah saya upayakan dari isi kepala untuk tidak sembarang menumpahkan segalanya. Perlahan-lahan saya tergerus oleh banyak momentum yang dikalahkan oleh kuantitas, segala hal yang mudah didapat memang akan selalu jadi panggung perebutan paling hebat, ya?
Hingga di satu titik, saya menemukan satu kenyamanan paling mesra bagi tenang yang berkontemplasi pada isi kepala, memilih tempat yang tidak semua orang rela memilihnya, menjadikan kemampuan saya dalam menjalaninya dengan penuh rela. Sebab memang segala tenang dan nyaman itu mempunyai harga yang harus dibayar oleh segala pilihan yang kita ambil dengan semua resikonya. Karena bagi seseorang yang terbiasa sendiri, tempat terasing yang katanya bergengsi akan menjadi pilihan yang layak diamini. Kendati setelahnya, hidup saya akan habis-habisan dijustifikasi.


