Sabtu, 20 Mei 2023

Bias emosional manusia dalam bersosial media

Kerancuan banyak orang dalam mengomentari banyak hal sering kali terjadi oleh bias-bias emosional, sehingga di suatu wadah yang menampung kebebasan berekspresi, kehadirannya justru mengintimidasi


Begini, bias emosional manusia tuh kan paling sering terjadi dan tervalidasi adanya dari sosial media, dan kita semua punya kesempatan untuk merasakan hal itu. Nah, yang menjadi persoalan adalah, di tengah ledakan bias-bias emosional yang ada, kita kalap oleh sesuatu yang terbatas dari pemahaman kita. 


Ketika kita mendapati ada perbedaan pendapat dengan orang lain, dan kita tidak setuju dengan statementnya, atau bahkan sudah bisa dikatakan keliru. Ya, katakanlah seperti itu, sebagai analogi sederhana saja untuk menggambarkan bagaimana akhirnya bisa emosional itu tumbuh di benak kita. Sehingga akhirnya kita punya potensi untuk menyerang personalitas dia atas dasar kesalahan yang dia lakukan. Nah, penyerangan kita atas dasar potensi yang kita dapat dari kesalahannya, itu hanya akan memenangkan ego kita, dan itu tidak menjamin bahwa yang kita lakukan itu adalah hal yang benar. bisa menjadi selalu benar.


Makanya hal paling sulit untuk menolak perbedaan asumsi itu adalah ketika kita terlanjur melampiaskan bias-bias emosional itu ke ranah personal. Misal, ada orang yang sedang merasa marah atau kecewa, lantas dia mengeluhkan dan mengeluarkan unek-uneknya itu lewat sosial media menggunakan karakter tulisan yang dia punya, hasil keluhannya yang keluar itu kan bisa jadi cuma statement untuk memvalidasi perasaannya, nggak ada hubungannya sama personalitasnya. 


Jadi, ketika memang kita berbeda pendapat atas unek-uneknya yang berupa statement itu tadi, ya emang cuma statementnya aja yang nggak relevan sama hidup kita, bukan personalnya. Kita malah keliru dan keduluan memandang personalnya ketimbang membenahi statementnya.

Share: