Pada tanggal 26 April 2021 kemarin, saya kembali melakukan kegiatan motret Street di kawasan Pasar Besar Sudimampir. Karena kebetulan waktu itu masih bulan Ramadhan, saya dan teman saya memutuskan untuk berangkat sore hari agar saat nanti kelelahan, waktu berbuka puasa sudah menjelang dekat.
Meskipun saya datang saat sore hari, suasana di kawasan pasar tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Setidaknya masih ada beberapa pengunjung dan penjual yang masih berada di kawasan pasar tersebut. Dari parkiran saya dan teman saya perlahan-lahan menyusuri area sekitar pasar yang masih terparkir beberapa sepeda motor, ada juga orang-orang yang sibuk mengangkut barang, membersihkan toko, memungut sampah, semua kejadian-kejadian itu terekam di kepala saya dengan makna-makna kecil yang cukup berarti.
Hingga kemudian langkah kaki saya mengajak saya dan teman saya ke arah kerumunan anak-anak yang sedang asyik bermain, saya mulanya cukup segan untuk memotret kegiatan bermain mereka, dan akhirnya saya menyerahkan kamera saya kepada teman saya dan menyuruh dia untuk memotret kegiatan anak-anak tersebut. Reaksi mereka awalnya terlihat begitu malu-malu ketika tahu bahwa teman saya akan memotret mereka, tetapi setelah diajak berbincang sejenak dan ditawari berfoto lagi, mereka mengiakannya.
Kamera pun beralih ke tangan saya dan giliran saya yang meneruskan untuk mengambil view angle kegiatan mereka. Tercipta tawa yang begitu ringan di wajah mereka, kebahagiaan yang cukup sempurna untuk anak seusia mereka kala melihat dirinya dipotret dengan hasil yang mereka lihat sangat profesional. Meski saya cukup mengetahui bahwa keahlian saya jauh dari kata profesional, karena kegiatan ini hanya menjadi bagian dari hobi yang perlahan-lahan ingin saya tekuni.
Seorang kawan saya pernah berkata, "Entah yang di belakangmu tertawa atau tidak peduli denganmu ketika sedang jatuh, maka tidak ada pilihan lain selain bangkit." Kalimat tersebut begitu hidup jika diselaraskan dengan gambar di atas, dan maknanya benar-benar begitu terasa. Saya menjadi teringat dengan cerita di Novel Kala karya Syahid Muhammad dan Stefani Bella yang ceritanya menggambarkan seorang fotografer dan penulis yang saling mencocokkan karya keduanya. Dari sekian banyak saya memotret Street Photography, baru kali ini saya memiliki kesan secara mendalam. Bahkan sebelum hasil fotonya saya edit, saya dan anak-anak kecil tersebut bersama-sama melihat preview foto yang saya ambil, dan reaksi mereka terlihat senang, bahkan ada yang meminta difoto ulang.
Salah seorang anak laki-laki yang memakai sepeda berkata ingin difoto saat sedang bersepeda dengan melepas kedua tangannya. Namun, sangat disayangkan karena hasil fotonya sedikit blur sehingga tidak saya muat ke dalam blog ini, tetapi saat saya menunjukkan hasil foto yang jauh dari kata cukup, dia sudah terlihat senang, melihat dirinya dipotret ketika sedang melakukan atraksi lepas tangan. Sepele memang, tetapi itu sangat menyenangkan. Dulu saya persis mengalami hal itu, bedanya hanya pada waktu dan keadaan, tidak dengan rasa bahagia yang didapatkan. Dari sana saya seolah-olah kembali di bawa ke masa lalu yang membuat saya semakin mensyukuri waktu di hari ini.
Melihat teduh senyum mereka membuat saya teringat dengan masa kecil saya dulu. Rupanya memang terlihat menyenangkan menjadi anak-anak. Namun, kita juga masih harus menyadari keadaan bahwa mengenang bukan berarti mengulang.

Bahkan salah seorang anak laki-laki yang sedari tadi bersepeda dengan melakukan atraksi melepas kedua tangannya, tiba-tiba berhenti dan menghampiri saya untuk mencoba seperti temannya. Katanya dia ingin menjadi youtuber--sembari tangannya meraih kamera yang sedari tadi sudah berada di tangan saya--jelas saya terkekeh pelan ketika mendengarnya. Entah bagaimana harusnya saya bereaksi terhadap kalimat tersebut, di satu sisi memang terdengar klise, tetapi di sisi lain terdengar seperti cita-cita yang pernah kita gaungkan semasa SD dulu, saat beberapa orang guru bertanya kepada kita mengenai apa cita-cita kita nanti. Tanpa pernah kita tahu, sekian tahun setelahnya seberapa kuat kita menyadari akan sulitnya menemukan cita-cita tersebut. Meskipun sulit, bukan berarti itu tidak mungkin ya.
Saat itu hari sudah menjelang senja, dan kawasan sekitar pasar sudah mulai sepi. Namun, ada beberapa potret yang cukup menceritakan dengan visual yang saya tangkap ini. Semua bentuk kesinambungan hidup saya rasa cukup logis dengan melihat dengan sisi-sisi seperti ini.
Setelah dari kawasan pasar, saya melanjutkan perjalanan menuju depan kantor walikota Banjarmasin sekaligus ingin mencari takjil untuk saya berbuka nanti. Dulu sebelum pandemi Covid-19, di depan kantor walikota ini pernah menjadi tempat pasar ramadhan yang bagi saya memiliki atmosfernya di kepala masing-masing orang. Terutama dari bagaimana tempat dan keramaian yang saat itu terekam di ingatan, juga dengan panorama senja yang berlabuh di ujung barat sana, keindahannya cukup mampu mengisi pemandangan di kawasan ini. Namun sekarang, semuanya sudah terlihat berbeda. Meskipun tempat ini masih sama.










