Rabu, 12 Mei 2021

Fase-fase brengsek dalam hidup

Semua orang memang selalu punya fase-fase terburuk dalam hidupnya, ada banyak masalah yang datang tanpa bisa kita temukan jawabannya. Namun, tidak semua kenyataan itu bisa kita bagikan pada semua orang. Melihat orang lain bahagia, akhirnya membuat kita membentuk stigma di dalam kepala kita sendiri seolah-olah tidak ada kamus menyedihkan di hidup mereka. Hingga akhirnya kita memaksa diri sendiri untuk merasa bahagia saat bertemu dengan orang lain dan sejenak melupakan badai yang tengah menimpa diri kita. Nyatanya, kehidupan orang lain sama adanya dengan yang kita alami, mereka hanya kebingungan bagaimana menunjukkan perasaan terburuknya pada orang lain. Karena kacamata mereka dalam menilai kita sama dengan kacamata kita ketika melihat kehidupan mereka. Kita sama-sama saling menipu diri hanya untuk menunjukkan kebahagiaan yang pura-pura agar hidup kita tidak terlihat sebegitu buruknya.


Percayalah, aku juga pernah menjadi bagian dari itu. Pernah yang entah kapan musnah. Bahkan sekarang, aku kembali mengalaminya, lebih tepatnya baru saja kemarin, dan satu-satunya jalan terakhirku untuk melampiaskan rasa gundah itu adalah dengan menulis. Menulis apapun yang ingin kutulis, entah sejahat apa aku membentuk kalimatnya. Karena menurutku di saat itu, badai kehidupan yang menyerang lebih jahat dari usaha yang aku hadapi untuk menghalaunya. Meski berhasil, badai itu cukup ganas untuk membuat rasa menyerah menjadi semakin besar, mempertegas bahwa rasa pasrah adalah jalan terbaik, saat aku kebingungan ke mana harus berbagi rasa sakit.


Mungkin sebagian orang mempercayai rumah sebagai tempat terbaiknya untuk menepis rasa gundah. Namun, itu sangat tidak berarti untukku, aku lebih memilih dunia luar sebagai kambing hitam atas semua rasa berantakan yang kualami. Bahkan di tengah-tengah seperti itu, aku meminta beberapa orang temanku untuk menemaniku. Tentu saja dengan alasan ingin berkumpul dengan mereka, bukan karena aku ingin mengeluh dan berbagi cerita. Karena aku belum sepenuhnya sanggup untuk percaya dan bercerita pada sosok manusia yang di hidupnya juga tidak kalah jauh berbeda denganku. Cukup dengan bertukar obrolan dengan mereka, perlahan-lahan kuusir benang kusut yang memenuhi isi kepala.


Di saat aku sedang merasa berantakan seperti itu, masih saja ada orang yang berani-beraninya menghubungiku entah itu untuk berbasi-basi yang sangat tidak perlu dan berbicara sejenak dengan candaan-candaannya. Namun, sayangnya saat itu aku sangat memaki habis-habisan dengan mereka yang begitu lepasnya tertawa, meski aku juga akan ikut tertawa. Bukan untuk menghargai candaannya, melainkan untuk semua hidup yang kualami dengan begitu tragis, sampai-sampai aku juga mampu menertawainya dengan cukup miris. 


Kuakui memang sulit rasanya mencari tempat ternyaman di mana kita bisa merasa bebas dan diizinkan untuk merasa berantakan. Berulang kali waktu meluruhkan kejadian lama, menghantam nalar dan memaksa tawa tercipta. Meski pelampiasan paling kecilku berhasil membuat dalih, tetapi amigdala tentang perih tak cukup mampu membuatnya beralih. Persetan dengan praduga orang-orang, karena mustahil juga rasanya orang lain mampu peduli. Sekalipun peduli, yang diawalinya adalah pertanyaan yang sama sekali tidak ingin kujawab. Sedangkan yang aku hadapi saja aku tidak menemukan jawaban apa-apa, bagaimana bisa aku merelakan diri untuk menjawab pertanyaan orang lain yang cukup ambigu dengan formalitas peduli.


Manusia kadang begitu sulit mengerti banyak hal, maka dari karena itu cara paling ampuh adalah tidak memedulikannya. Pun peduli, mereka tidak pernah mengerti bagaimana caranya mengasihani. Alih-alih memncoba untuk peduli, cara mereka untuk mencoba mengerti saja lebih pantas untuk dikasihani dari orang-orang yang merasa dirinya berantakan, tetapi masih cukup punya cara menentukan kemauan terhadap rasa paling brengsek yang bercokol di jiwanya. 


Manusia-manusia yang sering merasa nelangsa memang banyak maunya. Inginnya seperti ini, kenyataannya seperti itu, hingga penerimaan nggak ada di sana sebagai jawaban. Membuat waktu menjadi serba salah dalam menentukan, sedangkan detik waktu terus berjalan. Dan hal itu pula yang membuatku akhirnya merasa berantakan oleh salah satu pemicu yang tidak pernah kuduga bahwa kehadirannya akan menjadi perasaan paling brengsek. 


Percaya tidak percaya, rasa trauma tentang mimpi yang tidak pernah bisa kita atur kehadirannya mampu menentukan bagaimana perasaan kita setelah terbangun dan melewati mimpi tersebut. Kita memang tidak bisa memesan mimpi. Namun terkadang, mimpi-mimpi itu secara sukarela menghadirkan apa-apa yang tidak ingin kita hadirkan, saat kita sudah menikmatinya dengan begitu nyaman dalam lelap. Sialnya, kenyataan tentang mimpi itu hanya akan mencabik rasa sakit dengan leluasa dengan rasa percuma yang sangat sia-sia. Jika semua orang mengira bahwa sebagian besar tentang rasa gundah yang kita alami datang dari rasa cinta dan hati yang kita hidupkan untuk menempatkan kasih sayang, bukan tidak mungkin jika aku akan mengakui bahwa sebagian besarnya memang berasal dari sana, meski tidak sepenuhnya.


Kadang aku lebih memilih persetan dengan rasa sakit tentang cinta daripada harus berlarut-larut merasa nelangsa di dalamnya. Karena bagiku cinta hanya perkara pilihan bodoh yang akhirnya kita jatuhi oleh harapan-harapan tentang bahagia, dan saat kita tidak bisa mendapatkannya kita akan menjadikan semua yang kita pilih sebelumnya sebagai kambing hitam dengan semua bentuk kesalahan. Jelas sekali bodohnya, karena aku pernah melaluinya dan aku tidak akan pernah kembali mengulang untuk yang kedua kalinya. Jatuh di lubang yang sama bukan perkara mengais makna, melainkan menunjukkan betapa bodohnya kita dalam meletakkan harapan.


Pada selasa pagi tanggal 11 Mei 2021 pukul 02:00 wita, sebuah lagu dari Lewis Capaldi yang berjudul Someone You Loved yang diputar dari laptopku ketika aku sedang membaca buku, tiba-tiba sampai di kedua telingaku dengan penuh pemaknaan dan hasratku untuk menuliskan semua yang aku rasakan. Aku bergegas membuka laman blogku dan secara perlahan menuliskan semuanya. Meski sulit, semua yang berhasil dilalui di hari kemarin juga masih memiliki rasa getir akan kehawatiran bahwa badai yang berlalu akan kembali oleh kejamnya hidup yang sesuka hati mendatangkan hal-hal yang sama sekali tidak kita inginkan kedatangannya.


Namun, aku percaya semakin jauh hari membawakan usia dalam hidup kita, semakin besar pula masalah yang datang untuk memastikan kebijaksanaan kita dalam memilih, dengan cara apa kita akan menghadapinya nanti. Dan satu-satunya hal yang paling kusyukuri dalam hidup adalah saat aku sedang merasa berantakan, aku tidak pernah memilih pelarian dengan hal-hal gelap yang biasanya dilakukan oleh banyak orang yang nasibnya tidak jauh berbeda denganku. Hanya saja pilihanku tidak jatuh di sana sebagai sebuah keharusan bahwa aku juga pantas memilihnya.

Share: