Senin, 26 April 2021

Seraut Wajah Diringkas Purnama

Malam itu, aku sedang bercengkrama dengan beberapa orang teman, mereka membicarakan banyak hal, larut dalam renyahan tawa yang menghanyutkan drama dan melankolia kehidupan. Aku duduk takzim, mencerna tiap-tiap percakapan. Tetiba di antara salah satu temanku menatap rembulan, kemudian semuanya ikut mendongakkan kepala, termasuk aku. Hanya beberapa saat, tidak denganku yang menatapnya begitu lama. 


Obrolan kembali tercipta karena rembulan, namun tidak denganku yang hanya mengacuhkannya begitu saja. Enggan membuka suara. Aku masih setia mengamati rembulan yang sudah beranjak purnama. Tepat di atas kepalaku, di sampingnya ada beberapa bintang yang juga ikut menghiasi langit malam. Indah sekali. 


Namun tiba-tiba pikiranku meracau, ketenangan yang semulanya terkendali dengan baik-baik saja tiba-tiba runtuh. Dadaku berdesir hebat, degup jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Layaknya seseorang yang habis berlari mengelilingi kota tanpa henti. Aku berusaha mengembalikan ketenangan itu. Meredam sesuatu yang tiba-tiba tumbuh sebagaimana sebuah harapan. Padahal itu sudah jauh lama tenggelam, saat aku menyudahinya dengan begitu banyak pertaruhan. 


Namun tidak dengan malam itu, malam di mana aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Naluri menguasai tubuh, perlahan-lahan melukis sebuah kenangan. Lama sekali aku mengingatnya, bahwa dulu aku memang pernah melaluinya. Sebuah wajah terbentuk, persis di tengah-tengah purnama yang bersinar terang, beberapa bintang ikut menguatkan lukisan itu. Cantik sekali. Aku semakin kehilangan kendali. 


Tidak berapa lama, aku kembali menemui diriku, ketengan kembali merebak, meski tidak penuh. Tubuhku kembali terkendali, ingatan itu kembali buyar, namun tidak dengan sebuah kenyataan yang tertampar telak. Aku mencintaimu. Namun, aku masih bungkam. Tidak memiliki kuasa untuk mengatakannya. Aku menunggu waktu. Menunggu nasib. Menunggu takdir. Hanya menunggu. 


Hingga seraut wajah di ringkas purnama menyadarkanku. Menampar dadaku dengan begitu keras. Bahwa aku memang benar-benar mencintaimu, tanpa kesudahan dalam detak waktu.


Malam ke-14 di bulan ramadhan 1441H

Share: