Sabtu, 29 Mei 2021

Dunia, manusia, dan perubahannya

Saat dunia semakin menunjukkan perubahan, anehnya ada banyak manusia yang berada di dalamnya dan rela menghanyutkan diri dalam perubahan tersebut.


Perubahan zaman memang tidak bisa dilawan, tetapi perubahan zaman bisa dikendalikan, dan kita yang berada di dalam perubahan tersebut mampu mengendalikannya untuk diri kita sendiri. 


Kadang banyak orang yang secara tidak langsung merelakan diri mereka menjadi babu bagi perubahan zamannya. Seperti ingin tampil keren, ingin dipandang hebat, dan merasa sudah membawa manfaat untuk orang banyak. Namun, terkadang mereka mungkin lupa, kehidupan nyata tidak sedemikian rupa dalam memandang mereka untuk seperti itu, dan mungkin jalan keluarnya adalah sosial media. 


Bisa dikatakan bahwa sosial media adalah kehidupan kedua bagi orang-orang yang latah hidup dengan dunianya, karena kehidupan nyata sering kali memiliki wadah yang sempit untuk menerima mereka sebagai figur yang dirasa cocok untuk membawakan manfaat. Bisa dilihat dari seberapa besarnya mereka ingin memuaskan orang lain, dan tidak sempat memandang bahwa diri mereka sendiri ditindas habis oleh yang namanya tuntutan. Merasa harus seperti ini dan itu. 


Bahkan, orang-orang seperti itu kerap kali membantah aksinya dengan hobi yang disukai, sedangkan hobi adalah aktivitas yang dilakukan tanpa adanya tuntutan dengan lebih banyaknya waktu untuk menikmati. Meskipun orang-orang yang menganggap itu sebagai hobi karena memang menikmati, tetapi mereka tidak mampu menghilangkan tuntutan yang menjadi landasan mereka dalam menikmati. Apabila tuntutan tidak terlaksana, hobi yang disukai masih belum layak dinikmati.


Anehnya lagi, banyak orang yang terjun ke sana hanya karena memandang sepintas dengan aksi-aksi yang heroik. Merasa diri berguna bisa jadi meningkat di ranahnya. Dari sini, kesadaran diri untuk menyayangi keinginan dalam menikmati hidup menjadi terabaikan. Mereka terbiasa hidup bersama tuntutan-tuntutan yang menjadi landasan mereka untuk akhirnya bisa menikmati. Padahal, sejatinya hidup adalah menikmati apa yang kita sukai, tanpa harus ada tuntutan yang dibentuk oleh orang lain dengan dalih agar bisa saling membagikan rasa suka dan bahagianya. Karena menikmati dan membahagiakan sudah menjadi tugas masing-masing diri.


Saat kita sudah merasa bahagia pada diri kita sendiri dengan standar kesederhanaan yang kita ciptakan, kita menjadi mudah untuk berbaur dengan orang lain dengan sikap yang tidak lagi diubah-ubah, karena kita lebih dari sekadar tahu bahwa kita tidak perlu berupaya keras memandang luasnya dunia, sebab dunia sudah memandang kita sebagai sesuatu yang ada di dalamnya.

Share: