Karena banyaknya orang-orang yang berbicara dengan menunjukkan kebijaksanaannya, membuat sebagian orang yang tidak seberuntung dengan dirinya membentuk stigma dan rasa takut tentang apa yang sedang dialaminya. Kadang, kita memang terlalu pandai berbicara sampai-sampai kita lupa bagaimana caranya menjadi seorang pendengar.
Bagian paling naif dari diri manusia adalah sebegitu beringasnya ingin mencuri perhatian manusia lainnya, dengan menunjukkan bahwa ia punya kelebihan yang kebanyakan orang lain nggak punya. Kita semua tentu percaya dan sepakat jika setiap masing-masing manusia punya cerita hidup yang berbeda-beda, dan tugas kehidupan kita sebagai makhluk sosial lainnya adalah dengan berbagi cerita satu sama lain, bukan membanggakan satu cerita diri dengan cukup egois.
Masalah utamanya tentu berada pada setiap orang yang terlanjur kehilangan rasa percayanya untuk bisa diizinkan bercerita dengan leluasa, karena memang terkadang kita juga perlu menceritakan apa yang sebenarnya perlu kita bagi agar kita merasa bahwa hidup yang kita jalani nggak hanya ada kita sendiri. Namun, kehilangan rasa percaya untuk bercerita membuat kita merasa tidak layak untuk menceritakannya, terlebih dengan rasa takut jika nantinya akan dibandingkan dengan cerita mereka yang tentu kita tahu akan jauh lebih nelangsa. Namun, melepaskan apa yang kita rasakan cukup berat, tidak harus dengan membandingkan hal-hal berat yang berhasil dilalui oleh orang lain.
Itu semua terjadi karena kita tidak cukup mengerti bagaimana caranya menjadi seorang pendengar yang mampu menyembuhkan perasaan-perasaan berat di hidup orang lain. Kita sudah terlanjur buta mengejar bagaimana caranya mendapatkan reputasi sebagai seseorang yang bijaksana, tetapi kita terlampau dungu bagaimana caranya menjadi seseorang yang bijaksana, terutama jika kita dihadapkan sebagai seorang pendengar yang diminta berbicara untuk menengahi keadaan yang tidak kita mengerti adanya.
Di luar dari itu semua, saya juga pernah merasakan hal terberat dalam hidup saya, dan di saat saya merasa mempunyai orang-orang terdekat yang saya percaya jika saya bisa bercerita banyak hal pada mereka. Namun sialnya, di saat saya tengah merasa berantakan seperti itu, orang-orang terdekat sekali pun seolah terasa seperti tidak peduli dengan saya, padahal mereka ada, mereka cuma tidak tau karena saya tidak pernah mau cerita. Namun pilihan untuk bercerita bagi saya di saat sedang berantakan seperti itu seolah-olah menjadi aib terburuk yang begitu enggan saya bagi, karena saya merasa seperti sudah kehilangan rasa percaya dengan mereka yang sudah mendengar cerita saya, karena bentuk stigma negatif yang memenuhi isi kepala lebih dominan menguasai ketimbang perasaan lega yang nyatanya bisa didapat jika saya selesai membagikan semua ceritanya. Dan bagi saya stigma tersebut terbentuk karena banyaknya kenyataan yang saya lihat bahwa setiap kali kita bercerita, kita akan dihakimi oleh sebuah perbandingan yang jelas-jelas tidak ingin kita bayangkan