Pada malam terakhir di bulan Ramadhan tahun 1442H, saya menyempatkan diri untuk memotret street di daerah kawasan wisata Taman Siring Banjarmasin. Sederhana saja mengapa saya begitu ingin melakukan kegiatan street photography di saat malam lebaran seperti ini, di saat banyak orang berkumpul dengan keluarganya entah itu usai mengantar beras zakat fitrah, atau sedang disibukkan dengan kegiatan memasak untuk menjamu keluarga besar besok harinya. Saya justru meminta izin barang sejenak untuk keluar dari rumah tanpa ditanyai banyak hal selain (memang akan selalu) diberikan izin.
Saya berangkat dari rumah setelah selesai sholat isya dan langsung menuju ke rumah teman saya untuk menjemputnya. Di sepanjang jalan, lantunan takbir yang saling bersahutan di pengeras suara tiap-tiap masjid mengisi indera pendengaran. Sedari kecil, saya selalu merasakan perubahan yang begitu kentara terhadap nuansa Ramadhan dan lebaran. Sebelumnya, saya ingin berbagi cerita sedikit sebelum saya menuliskan kegiatan motret ini.
Sedari kecil saya memang sudah diajarkan untuk berpuasa, dan semenjak dari kelas tiga SD hingga di usia saat ini, saya selalu berpuasa penuh di tiap tahunnya. Meskipun pernah di suatu waktu saat saya merasa sangat kelelahan beraktivitas dan berkeinginan untuk membatalkan puasa, saya lantas memikirkan apa makna dan esensi puasa yang selama ini dipelajari. Untungnya hal itu mampu ditepis begitu saja saat saya sudah tiba di rumah dan langsung menenggelamkan tubuh di kasur dengan mengatur suhu pendingin ruangan menjadi yang paling dingin.
Puasa memang menjadi suatu kewajiban ibadah bagi setiap umat muslim, dan dari karena itu pula saya menjalankannya. Selama saya kuat menahan diri untuk tidak membatalkan puasa tanpa adanya udzur, saya akan menunaikannya. Namun, saya lihat ada banyak juga orang yang bahkan dengan entengnya membatalkan puasa mereka dengan beragam dalih bahwa saat tubuh sedang lelah, tidak diperkenankan untuk meneruskan puasa dikhawatirkannya akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, bagi saya stigma seperti itu cukup mampu dibentuk dari masing-masing orang, dengan setulus apa kita meniatkan hati sehingga diri mampu menjalani puasa bahkan apapun halangannya.
Selain itu, ada banyak juga orang yang berpuasa, tetapi mereka tidak menunaikan sholat lima waktu. Bahkan fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita adalah dengan adanya momentum buka bersama, mereka menghabiskan waktu tanpa adanya melakukan sholat Maghrib. Seolah-olah ibadah sholat fardhu tidak sewajib dengan ibadah puasa. Ah tapi persetan lah, saya juga bukan orang agamis yang cukup mampu menilai mereka dari segi nilai agama. Meskipun saya beritikad bahwa saya tidak boleh meninggalkan ibadah wajib, tentu hal tersebut tidak menjadi barometer diri saya atas keimanan yang saya miliki. Saya melakukannya karena memang itu sudah menjadi kewajiban.
Dari karena itu, di malam lebaran ini, dengan maksud terselubung yang entah akan berarti apa, saya ingin memahami sekitar dengan saksama. Namun, dengan kegiatan motret inilah cara saya melakukannya. Karena menurut saya, sahabat paling dekat adalah waktu, dan teman paling akrab adalah kejadian. Dalam seni fotografi, keduanya cukup mampu untuk diabadikan.
Sesampainya di tempat yang dituju, saya terlebih dahulu memarkirkan motor dan meneliti spot-spot menarik yang bisa saya abading. Hal pertama yang saya ambil saat itu adalah menangkap keindahan kota Banjarmasin di malam hari dari beberapa sudut, ditambah dengan kembang api yang sesekali menghiasi langit. Karena saat itu pandemi masih melanda, jadi tidak ada kerumunan di sekitar tempat saya dan teman saya berada. Apalagi ada banyak polisi yang berjaga-jaga mengamankan lalu lintas dan menegur orang-orang yang melakukan kerumunan.
Ironis juga memang, dari Ramadhan tahun 1441H sampai 1442H, masyarakat tidak bisa mencari hiburan di tengah keramaian. Bahkan tahun-tahun sebelumnya selalu ada pawai keliling menggunakan mobil pickup yang sudah dihias sedemikian rupa untuk menyambut hari kemenangan, ditambah lagi dengan suara lantunan takbir yang diputar oleh pengeras suara. Namun sekarang apa daya, kita hanya bisa menerima semua keadaannya.

Setelah saya puas mengambil keindahan kota Banjarmasin, saya bergegas mengganti lensa kamera saya. Di samping tempat saya berdiri, ada beberapa orang tua yang membawa anaknya bermain di sana, tidak banyak memang. Namun, saya cukup terharu melihat kebahagiaan mereka bermain di sana. Bagaimana tidak, kondisi sekitar saat itu minim cahaya, bahkan boleh dikatakan cukup gelap, hanya ada beberapa lampu yang menerangi jalan, tetapi anak-anak itu mampu bermain dengan riangnya. Orang-orang yang berjualan, setia menunggu dagangannya untuk dibeli, sebab suasana memang tidak ramai. Namun, mereka tetap ada di waktu-waktu seperti itu untuk memenuhi waktu dengan pekerjaan mereka. Semoga kebahagiaan mereka tak ubahnya dengan kebahagiaan kita semua, meski cara kita menikmati kebahagiaan akan selalu berbeda.

Saya dan kawan saya lanjut berjalan menyusuri taman Siring kota Banjarmasin, di beberapa titik saya melewati anggota-anggota polisi yang sedang bertugas menjaga keamanan. Cukup jauh saya berjalan kaki mengelilingi Siring tersebut, dan sangat disayangkan saya tidak banyak menemukan momentum berkesan yang bisa saya abadikan. Saya lanjut berjalan dan kini harus menaiki trotoar yang ada di jembatan Merdeka untuk menyeberangi sungai Martapura yang membentang di bawah sana. Di tengah-tengah saya berjalan menaiki jembatan, saya mendapati dua orang anak kecil sedang tertidur pulas beserta dengan satu orang tua yang jika saya lihat usianya cukup renta. Mereka semua tertidur beralaskan karpet tipis kecil yang hanya cukup ditempati oleh mereka.

Saya hanya berani menangkap momen ini dari kejauhan, saya takut mengganggu tidur mereka dan saya pikir akan kurang sopan mengambil gambar mereka dengan kondisi seperti itu. Setelah itu saya lanjut berjalan dengan mengambil sebagian jalan raya yang cukup ramai dilintasi oleh pengendara motor dan mobil, sesekali para pengendara yang melintas di jembatan itu menengok ke arah mereka yang sedang tertidur. Saat langkah kaki saya tepat melangkah di samping tubuh mereka, saya melihat ada beberapa barang dan makanan di sana, terutama di kedua tangan anak kecil itu sedang menggenggam sebuah camilan. Kepala saya tiba-tiba penuh dengan bayangan tentang hidup mereka, semoga rasa syukur mereka tidak seburuk dengan kehidupan mereka.

Sekitar hampir dua jam saya berjalan dan mencari momen-momen berkesan yang bisa saya abadikan, kendati hanya ada beberapa momentum yang bisa saya dapat dan abadikan. Semuanya tidak lepas dari sebuah keluarga kecil yang tengah memberikan kebahagiaan untuk anaknya, di samping itu ada pula ada orang-orang yang bersedia membagikan kebahagiaannya dalam bertukar manfaat, bertukar senyum, dan bertukar kasih.
Pada malam menjelang lebaran di hari esoknya, masih ada banyak orang-orang yang sedang berjuang menghadapi alur cerita kehidupan. Mereka hadir untuk berbagi, untuk kemudian dicari dan ditemukan sebagai rasa terima kasih, lalu dibayar dengan sebuah kebahagiaan.
Kita dan mereka sama-sama ada, hadir untuk saling berbagi, memahami setiap sisi hidup dengan isi kepala yang secara sukarela menerjemahkan banyak makna.
Satu-satunya alasan mengapa saya begitu ingin mengejar momentum di malam lebaran kali ini, karena saya tidak ingin egois merasakan apa yang menjadi kesenangan saya setiap kali lebaran tiba. Saya rasa, ada banyak manusia yang tidak seberuntung dengan saya nasibnya, dan saya begitu ingin merasakan barang sedikit pun apa yang mereka lewati di hari itu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi perjalanan motret saya belum berakhir saat itu. Salah seorang teman saya berkata ingin menyusul kegiatan saya. Sembari menunggu kedatangan teman saya itu, saya menyempatkan diri memotret keadaan-keadaan di sekitar tempat saya menunggu yang cukup ramai diisi oleh masyarakat.
Saat teman saya tiba menghampiri, kami kemudian lanjut berjalan ke kawasan yang di sekitarnya dominan menjual jagung bakar, kata salah seorang dari teman saya menyebut nama tempat itu 'Tarakan.'

Saat itu jam sudah menunjukkan setengah sebelas lebih, tetapi masih ada banyak orang yang bersantai di sana. Beberapa momentum sempat terabadikan di kamera saya, di mana saat itu mereka-mereka yang berbincang entah membicarakan apa, terlihat begitu riang kelihatannya.
Ya, bagi saya adalah hal yang wajar jika orang-orang ingin menghabiskan waktunya lebih lama di malam menjelang lebaran ini, bisa jadi mereka ingin merasakan nuansa malam terakhir di bulan Ramadhan. Namun, pandangan utama saya bukan tertuju pada keramaian mereka, melainkan pada para-para penjual yang dengan senang hatinya membuka dagangan mereka.
Secara tidak langsung, mereka sama-sama menikmati malam terakhir di bulan Ramadhan dengan cara yang berbeda, tetapi kebahagiaan yang mereka rasakan sudah semestinya setara.
Saat saya tengah asyik memotret, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang tengah menjadi tukang parkir mobil menyapa saya dan meminta juga ingin difoto. Saya pun mengiakannya, tetapi sangat disayangkan hasil fotonya kurang bagus, dan di saat saya meminta dia untuk berfoto ulang ada mobil yang datang. Sontak saja ia langsung mengatur arah parkir mobil tersebut, setelahnya dia enggan untuk difoto oleh saya. Karena saya cukup canggung saat berbicara dengan orang lain, otak saya selalu terlambat memikirkan apa yang harus saya bicarakan dengannya, bahkan bertanya nama pun saya tidak sempat mengutarakannya.
Untungnya ada teman saya yang cukup piawai mengajak orang lain berbicara, katanya usianya dia 13 tahun dan telah menekuni pekerjaan seperti itu dari umur 10 tahun. Setelahnya, obrolan teman saya anak itu terpotong karena tiba-tiba ada orang tua yang menegur anak itu dan menegaskan padanya untuk kembali bekerja. Kata dia, orang itu adalah ayahnya, sontak kami mengerti dengan situasinya saat itu.
Padahal, jika saja saya dan dia dapat mendengar ceritanya lebih panjang, saya ingin menghadiahi anak itu dengan hadiah yang mungkin saja baginya cukup bernilai. Karena jujur saja, saya sangat jarang biasanya memiliki keinginan untuk memberikan apa-apa saat bertemu dengan orang lain. Namun, setelah saya pikir ulang, saya menjadi ragu. Di satu sisi, langkah saya sudah jauh dari anak itu. Di sisi lain, saya menjadi ragu karena saat melihat orang tuanya saat itu, membuat saya cukup kuat untuk mengurungkan niat saya. Andai saja orang tuanya belum menegur anak itu, sudah tentu dia akan mendapatkan kejutan yang memang pantas untuk diterimanya.

Sebelum saya melanjutkan langkah untuk pergi meninggalkan anak itu, semua dari kami menyemangati pada pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Sedang waktu di saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Memang belum cukup larut, tetapi untuk anak seusianya, dia kehilangan jam tidur seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Jika suatu saat nanti saya kembali melakukan street photography di tempat itu dan kembali bertemu dengan dia, saya hanya ingin langsung memberinya kejutan tanpa basa-basi. Semoga nanti waktu kembali mengatur manusia-manusia seperti saya dan yang lainnya untuk bertemu dengan saling membagikan kebahagiaan.
Saya dan teman saya akhirnya mengistirahatkan diri di depan sebuah taman. Cukup lama saya bersantai di sana sekaligus mengambil foto diri sendiri setelah sekian banyak memotret dan mengejar momentum tak terduga. Sekitar pukul setengah satu malam, kami semua akhirnya beranjak menuju parkiran untuk pulang. Selama melangkah menuju parkiran, saya belum memasukkan kamera saya ke dalam tas, dan siapa sangka jika saya menemukan satu memontum tak terduga.
Setibanya di parkiran, saya tidak langsung pulang menuju rumah, melainkan lebih dulu mengantarkan teman saya sekaligus bersantai sebentar di sana. Salah seorang dari teman saya mengajak kami untuk makan bersama, mendengar hal itu saya sontak mengingat jika saya juga belum ada memakan nasi semenjak berbuka puasa. Inilah ketelodaran saya saat punya rencana yang bagi saya sangat harus saya lakukan. Akhirnya saya membelanjakan mereka semua makanan sebagai tanda terima kasih saya karena telah ditemani.
Di rumah teman saya, kami bersantai menikmati keheningan malam. Menyadari akan kepergian bulan Ramadhan, serta menyiapkan diri menyambut hari kemenangan. Naifnya, di hari yang fitri ini semua orang mendadak geger momentum dan memiliki kesan yang norak dalam merepresentasikannya.
Sekitar pukul dua pagi, akhirnya saya pamit kepada teman saya untuk pulang ke rumah. Sessampainya di rumah, masih ada banyak hal yang perlu saya benahi. Saya lebih dulu menyalakan pendingin ruangan di kamar saya karena merasa cukup gerah, kemudian meletakkan peralatan kamera secara sembarang di atas tempat tidur, setelahnya saya lebih dulu membersih diri agar terlihat lebih segar.
Saat saya sudah kembali ke kamar, saya bergegas membereskan kamera. Biasanya saya akan membersihkan kamera secara telaten, tetapi tidak di malam itu, saya hanya membersihkan seadanya saja kemudian langsung kembali menyimpannya di dalam dry box. Tidak lupa juga saya kembali mencharger satu baterai kamera yang sudah benar-benar habis, sedang satunya masih tersisa setengah. Setelah sebelumnya sempat mengeluarkan kartu memori dari dalam kamera, kini saya beralih ke atas meja belajar dan membuka laptop untuk menyalin serta mengupload semua file foto ke drive agar teman-teman saya juga bisa memilikinya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat saya sudah menyelesaikan aktivitas saya. Meskipun ada sedikit rasa kantuk dan lelah, saya juga khawatir jika tidur di jam seperti ini nantinya akan bangun kebablasan di siang hari. Maka saya memutuskan untuk menunggu waktu hingga subuh dengan memainkan ponsel. Namun, karena internet rumah saya sedang digunakan untuk mengupload foto ke drive, alhasil kecepatan internet unduhan menjadi sangat lemot. Dan akhirnya saya tertidur entah saat waktu sudah menunjukkan pukul berapan, tetapi untungnya saya kembali terbangun saat lantunan tarhim masih bersenandung dari pengeras suara yang ada di masjid dekat rumah saya. Untung saja tidak kebablasan tidur, gumam saya dalam hati.
Saya kemudian bergegas menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat subuh, disusul dengan sholat ied nantinya. Ya, akhirnya tibalah seluruh umat muslim merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh bertarung melawan hawa nafsu. Satu-satunya alasan mengapa saya membawa daily journal hingga ke bagian ini karena saya ingin menceritakan sesuatu yang tidak sempat saya ceritakan pada seseorang.
Setelah sholat ied selesai dilaksanakan. Saya pulang ke rumah, biasanya saya dan keluarga akan berkunjung ke rumah keluarga saya yang lainnya di hari lebaran yang kedua atau ketiga. Di hari itu, perasaan saya sedikit campur aduk. Di satu sisi saya begitu berlawanan dengan fenomena maaf-maafan banyak orang dari sosial media, di sisi lain saya juga menghaturkan maaf pada beberapa orang yang memang ingin saya jelaskan lebih rinci mengenai idealisme saya ini. Saya rasa ini sudah cukup egois bagi diri saya, karena secara tidak langsung saya seperti mengkontamisi pikiran orang lain agar menyetujui apa yang menjadi idealisme dalam kepala saya. Pemicu utamanya adalah karena saya merasa apa yang ada dalam kepala saya itu adalah sesuatu yang benar.
Namun, agaknya saya memang tidak diizinkan untuk memiliki ruang agar bisa menceritakannya. Mungkin cukup dari tulisan ini, semoga mereka mengerti bahwa idealisme saya ini tidak harus menjadi bagian dari pemakluman mereka, bahkan idealisme saya ini sangat layak untuk dibenci. Mengingat idealisme yang saya miliki selalu bertentangan dengan keadaan yang sedang dialami banyak orang.
Bahkan karena cukup muak melihat drama di sosial media dengan fenomena geger momentum ini, ditambah lagi dengan perasaan gundah saya karena tidak menemukan tempat bercerita. Akhirnya saya menjauhkan ponsel dari diri saya dan tenggelam dalam buku yang saat itu sedang saya baca. Bahkan di sela-sela waktunya saya menyempatkan diri untuk menulis blog ini. Karena bagi saya, tidak ada alasan kehilangan tempat bercerita, jika saya masih mempunyai media yang saya ciptakan memang untuk membahagiakan diri saya sendiri. Mungkin dari sini saya menjadi cukup percaya untuk tidak mengharap apa-apa dari orang lain, sedekat apapun kita pernah berinteraksi dengannya. Karena pada akhirnya, yang utama ada dalam diri kita, dan pilihan untuk berbahagia juga ada di sana.
Selamat hari raya idul fitri 1442H
Minal aidzin wal faizin
Ampun maaf dzohir bathin