Berbagai rasa takut yang datang dalam hidup kita kadang bisa menjadi kecemasan tertentu yang akhirnya membuat hidup kita tertekan. Bahkan perasaan stres yang sering dialami oleh banyak orang, juga menjadi salah satu aspek emosi dalam diri kita yang mungkin tidak sempat terkendali, kendati saya sendiri kerap mengalami hal ini. Untuk bisa menghadapi kecemasan tertentu, kita perlu tahu dulu perasaan cemas bagaimana yang membuat hidup kita akhirnya terganggu.
Apapun tekanan yang menimpa dalam hidup kita, entah itu rasa takut yang melahirkan kecemasan, perasaan marah yang tidak dapat tersampaikan, atau perasaan kecewa yang tidak bisa diungkapkan, semua perasaan itu terjadi secara alamiah. Dalam dunia psikologi, di bagian otak kita ini ada limbik yang disebut dengan amigdala, secara sederhana fungsinya itu adalah merespon emosi secara alamiah. Semua perasaan yang membuat kita tertekan, amigdala ini akan merespon emosi tersebut lalu kemudian mengirimkan sinyal tersebut ke dalam otak bagian tengah, bahwa saat kita tertekan, apa yang nantinya harus kita lakukan? Sehingga otak bagian tengah inilah yang nantinya berperan sebagai titik utama di hidup kita dalam mengambil keputusan.
Maka yang bisa kita kendalikan bukan rasa takut atau kecemasan kita, melainkan reaksi kita terhadap perasaan tersebut. Nah, dari reaksi inilah yang kadang membuat banyak orang ambigu karena tidak menyadarinya, hingga akhirnya respon dan reaksi kita terhadap rasa takut atau kecemasan ini menjadi berlebihan hingga akhirnya membuat imun tubuh kita berkurang.
Penjelasannya ilmiahnya ada dikatakan dalam sebuah penelitian bahwa ketika kita sedang merasa cemas, hormon yang muncul di dalam tubuh kita itu adalah kortisol, dan pada saat cemas seperti itu, sistem yang berdetak dalam tubuh kita adalah jantung. Jadi, stress ini adalah respon alamiah di saat kita sedang menghadapi sebuah tekanan. Maka dari karena itu sistem tubuh kita akan berubah, dan yang paling berasa adalah detak jantung dan napas kita.
Kadang saya juga sering keliru dalam merespon emosi alamiah ini, ketika saya merasa sedang tertekan, maka ego yang ada dalam diri saya akan membludak penuh secara menyeluruh, apapun yang saya ingin lakukan agar bisa menghilangkan tekanan tersebut, maka akan saya lakukan. Kekeliruannya adalah karena pada saat itu saya tidak bisa menyadari respon dan reaksi saya terhadap emosi tersebut.
Namun, dari reaksi alamiah ini, beberapa solusi yang kita anggap sepele kedengarannya, akan jadi sangat berguna manfaatnya. Contoh, ketika perasaan tertekan tadi kita sadari, reaksi sistem di tubuh kita akan berubah, salah satunya napas kita akan menjadi pendek, apabila napas kita pendek, maka kita akan kekurangan supply oksigen yang menuju ke jantung, pada saat supply oksigen kita sedikit, hormon yang muncul di tubuh kita tidak akan bisa memproduksi dopamin (hormon positif, biasanya kalau orang lagi bahagia, maka hormon yang ada di tubuhnya adalah dopamin) dan malah membuat hormon kortisol kita menjadi tambah banyak, hingga akhirnya semakin melemahkan imun tubuh kita.
Dalam penjelasan ilmiahnya, hormon kortisol itu akan mengaktifkan sistem kortisol alami, tetapi dia juga akan melemahkan anti bodi kita. Ketika kita sedang mengalami sebuah perasaan tertekan, tubuh kita perlu yang namanya limfosit (sel darah putih), tetapi saat kita sedang merasa tertekan lalu respon dan reaksi kita terhadap emosi tersebut sangat berlebihan, (terlebih jika itu sama seperti kasus yang saya alami) kortisol akan menekan sel-sel limfosit ini, sehingga akhirnya sistem imun kita berangsur-angsur menurun. Nah, mencoba merileksasikan diri dengan mengatur pernapasan, menghirup udara dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan, secara tidak langsung akan membuat hormon dopamin muncul ke dalam tubuh kita.
Jadi, berusahalah untuk menyadari bagaimana seharusnya kita bereaksi ketika sedang tersulut oleh emosi, apapun itu bentuknya. Karena sering kali keputusan-keputusan yang kita ambil di kondisi tersebut, akan membuat kita kehilangan banyak pertimbangan sebelum memutuskannya.