Bagi sebagian orang, kesehatan fisik dan psikis menjadi sesuatu yang bertolak belakang adanya. Biasanya orang-orang yang beranggapan seperti itu adalah orang yang sedang sehat fisiknya, tetapi tidak sehat psikisnya. Namun, dia menolak untuk menyadari dan mengakui bahwa psikisnya sedang tidak baik-baik saja.
Ada banyak hal di dunia ini yang cukup rentan mempengaruhi kondisi psikis kita, sesederhana ketika kita mengajak orang lain untuk pergi ke suatu tempat tetapi orang yang kita ajak menolak tawaran kita, maka itu sudah cukup membuat kondisi psikis kita menjadi sedikit tidak baik. Euforia dan perasaan yang kita rasakan sudah pasti berbeda. Dan kita tidak pernah menyadari akan hal-hal seperti itu sebagai satu keadaan yang mempengaruhi psikis kita, dan secara perlahan jika tidak diatasi dengan baik akan mempengaruhi fisik kita.
Berpura-pura pada sesuatu yang sudah jelas-jelas kita tahu kenyataannya tidak baik, tidak akan membuatnya kembali menjadi baik. Di dalam psikologi ada istilah yang disebut dengan Emotion Wellnes yaitu kondisi kesehatan secara keseluruhan yang meliputi kesehatan emosi kita. Orang yang sehat secara emosi akan mampu menyadari apa yang dirasakannya. Orang yang sadar terhadap apa yang dirasakan, maka dia akan mampu mengendalikan perasaannya.
Pada saat kita mengalami satu kondisi yang tidak baik, untuk bisa memiliki emotional wellnes, kita perlu melatih coping skill kita. Coping skill itu terbagi menjadi dua, ada yang fokus terhadap basis solusi, ada yang berfokus terhadap basis emosi.
Selama kita masih diberi kesehatan secara fisik dan emosi dengan baik. Tidak perlu kita selalu mengeluh dengan mengisi harapan untuk selalu baik, tidak melulu kita harus selalu menghadapi hal-hal baik, tapi bagaimana cara kita bereaksi terhadap kebaikan yang kita pilih sebagai satu kendali kita untuk mempunyai emosional yang lebih baik lagi.
Jadi, yang paling mempengaruhi terhadap kesehatan mental kita tuh ya tergantung dari seberapa beraninya kita menghadapi kenyataan, seperti misalnya bahwa keadaan kita sekarang yang sedang enggak baik-baik aja, lalu kita mengakuinya. Maka hal-hal kayak gitu bisa jadi dorongan ke diri kita buat mengerti bahwa kalau lagi nggak baik, ya nggak apa-apa, hadapi aja. Toh nggak selamanya kalau lagi nggak baik itu buruk.