Selasa, 11 April 2023

Paradigma people come and go sebagai sumber validasi yang merusak citra diri

Akhir-akhir ini sedang banyak orang yang meyakini bahwa setiap kita akan menghadapi fase people come and go, yakni orang yang datang kemudian pergi. Namun, apa jadinya people come and go ini sebagai sebuah trend yang ikut-ikutan untuk dipercaya atau diyakini? Dengan maksud-maksud dan dari segi mananya dulu untuk kemudian dijustifikasi demikian?

Konsep orang yang datang kemudian pergi itu kan sebenarnya hal yang lumrah terjadi ya di kehidupan kita, lantas mengapa harus dijustifikasi sebagai people come and go dengan konteks kesedihan atau trauma, atau lebih spesifiknya hal yang mutlak atas kehidupan dengan unsur drama? Hal ini saya rasa menjadi salah satu problematika yang gagal disorot dalam perkembangan intelektual, sebab kita terlalu cetek dan nyaman dalam arus validasi yang diseragamkan oleh banyak orang.

Mungkin beberapa orang sering mengkontekstualisasikan people come and go ini pada setiap pasangan yang kemudian hubungannya berakhir, entah itu secara baik-baik atau tidak, ada juga dalam konteks pertemanan, persahabatan, yang semua memori dan kenangan indah tersimpan di dalamnya bersama orang tersebut. Namun, kenapa harus memasukkan people come and go sebagai dalih perpisahan? Itu kan jadinya cuma sekadar validasi, itu cuma pelampiasan, itu cuma pelarian. People come and go itu lumrah, yang nggak lumrah itu cara kita menghadapi dan menerimanya.

Katakanlah bahwa ketika dia datang ke dalam hidup kita, maka pilihan kita untuk menyambutnya justru harus dibarengi oleh kesiapannya untuk pergi, enggak ada orang yang selamanya akan tetap tinggal di sisi kita, sekalipun orang tua kita, teman, sahabat, semuanya. Kesedihan atas kepergian orang yang berharga menurut kita, itu memang sudah menjadi bagian dari keputusan hidup masing-masing. Jangan merasa seolah-olah kita akan selalu menjadi korban dari tiap-tiap kesedihan yang datang, padahal kita juga bisa sekaligus menjadi pelaku dari tiap-tiap kesedihan orang lain yang setimpal dengan rasa sedih kita. 

People come and go itu bukan validasi bagi kesedihan, people come and go itu cuma sebuah fenomena yang wajar untuk dihadapi, kendati memang hidup akan membawakan hal demikian. Jangan kepalang egois untuk maksa orang lain agar selalu ada untuk kita, sebab semua orang punya dunia dalam hidupnya masing-masing, maka hiduplah sesuai pilihan kita sendiri.
Share: