Saya percaya bahwa setiap orang punya keberuntungannya masing-masing, tetapi tidak semua orang mempunyai kerelaan untuk mencukupi keberuntungan tersebut. Hidup memang dipenuhi oleh banyak enigma yang tak henti-hentinya menyerang amigdala, teriakan demi teriakan berdentum di hati yang diterjang oleh banyak kejadian.
Selalu ada banyak hari, bukan? Yang masih harus dilewati dan dihadapi. Selalu ada banyak waktu, bukan? Yang masih harus diterima dan dijalani. Semua orang akan selalu mengalami banyak kejutan, kendati yang didapat di luar dari harapan yang diinginkan. Namun begitulah hidup, tak pernah semulus maunya manusia. Namun begitulah kebaikan, yang tak pernah bisa dilihat manusia.
Kita kerap kehilangan upaya untuk bertahan, kita lebih merasa nyaman untuk tenggelam dalam kesedihan, mencari banyak validasi untuk sejenak larut dalam kerapuhan. Namun tidak ada pilihan yang berhak disalahkan, masing-masing orang memang berdaulat atas dirinya sendiri dalam setiap keputusan.
Di tengah petang di bulan Ramadhan, saya kembali melakukan rutinitas tahunan seperti biasanya, melakukan street photography di kawasan pasar wadai Banjarmasin. Euforia yang sudah sangat-sangat berbeda dari tahun sebelumnya, juga dengan tempat yang kini berbeda. Jika sebelumnya pasar wadai terletak di taman Kamboja, kini beralih di sekitar kawasan Siring Tendean, dipisahkan oleh sungai Martapura yang membentang indah, kedua sisinya hidup oleh keramaian orang yang berjualan takjil untuk berbuka puasa.
Saya mengawali langkah dari kawasan menara pandang, berkeliling sembari memotret momentum yang terjadi, hiruk-pikuk keramaian merebak di satu tempat, helaan napas beradu dengan hembusan angin yang menerpa dengan begitu syahdu.
Saya ikut berdesakan menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang yang mencari takjil untuk berbuka, sekaligus merekam ingatan untuk setiap kejadian yang dilewati. Menariknya, sepanjang kawasan siring yang membelah sungai Martapura dengan wahana susur sungai menggunakan klotok, menjadikan suasana dipenuhi oleh kegembiraan.
Namun, apa artinya kegembiraan pada hal-hal yang kita lakukan kalau sebenarnya itu hanya sebagai sebuah pelarian? Begini, bulan ramadhan tiba dengan segala macam euforia spiritualitas dan religiusitas yang membuana di banyak jiwa masing-masing manusia. Ada banyak keberuntungan yang menyergap secara tiba-tiba, pun manusia yang dipilih sebagai penikmatnya. Namun demikian, apa artinya?
Kali ini saya tidak akan terlalu banyak bercerita tentang kegiatan saya secara spesifik, sebab momentum yang terjadi begitu singkat dan terbilang ironi. Saya hanya ingin mengurai paradigma di kepala saya tentang pilihan kita semua. Bahwa apa yang mestinya kita bawa dalam realita yang kita hadapi? Sementara pelarian ada di mana-mana, di tempat yang semuanya bisa kita jangkau dalam hal-hal yang menggembirakan.
Sebagaimana ramainya kerumunan orang-orang yang memasang senyum dan wajah bahagia bersama orang-orang terdekat kita, pun orang-orang yang kesepian dalam keramaian itu sendiri, tawa bahagianya menjadi sangat ironi. Entah ada berapa banyak masalah yang kita bawa, tetapi ajang ramadhan yang datang sebagai waktu yang memberikan banyak kebermanfaatan ini, masih selalu diterima dengan cara yang cukup ironi.
Di antara kita semua yang ada di sana, tidak sedikit orang yang mengabaikan kewajibannya sebagai seorang manusia, yang hubungannya bukan hanya sebatas kepada sesama manusia lainnya secara horizontal, tetapi juga kepada Tuhan yang secara vertikal kendati itu adalah masalah personal. Namun demikian, adanya momentum ramadhan seperti ini, dibuat agar kita bisa bergembira tanpa harus meratapi banyak masalah yang justru terus membenak di masing-masing kepala, bukan justru malah mengabaikan kewajiban kita sendiri sebagai manusia yang menjalani takdir sebagai seorang hamba.
Lantas, apa yang sebenernya sedang kita jadikan pelarian? Apa rasanya etis jika menyebut itu adalah keimanan? Tentu tidak. Namun, etika mengatakan bahwa kewajiban secara nyata adalah sudut vertikal yang tidak bisa kita sembunyikan dan realitanya banyak yang mengabaikan. Lantas, pelarian apalagi yang harus kita hadapi dari semua pilihan hidup yang begitu rapuh ini?