Apa yang ingin kau cari di sini? Ajang pembenaran? Validasi yang diwakilkan? Atau memang kita semua adalah seorang bajingan?
Akhir-akhir ini, kita tengah memasuki era di mana orang-orang dengan bangganya berlomba-lomba menjadi yang paling nakal dalam menceritakan kemaksiatannya. Kendati setengah-setengah perbuatannya masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi cerita yang dihasilkan untuk dijadikan perbincangan, mestilah terbukti dengan pasti, agar tidak dianggap mengarang hanya karena ingin memperoleh atensi.
Zaman sudah terlalu maju, alam semesta sudah terlalu tua, tetapi peradaban manusia masih ada, lalu artinya apa? Kiranya waktu yang terus berlalu, harusnya sudah memberikan cukup jawaban, sekaligus sudah menggerus pragmatisme agamis tentang manusia dalam setiap peradaban.
Lalu, apa yang kau cari di dunia ini, kawan? Surga untuk kehidupan akhirat yang kekal? Atau hanya karena kau terlalu takut dengan siksa neraka yang sama kekalnya? Sehingga tanpa pilihan lain, kau harus mengharapkan surga, untuk sedikit saja merasa aman dari rasa tersiksanya?
Kiranya agama cuma jadi omong kosong, bagi orang-orang yang mengingkari ajarannya. Toh, yang terjadi sekarang, kendati masih ada orang yang percaya dengan agama dan mematuhi ajarannya, masih banyak hal yang terlihat atas kemungkaran dari ingkarnya manusia terhadap agama. Apalagi jika dilihat dari cerita-cerita nakal seseorang tentang maksiat yang penuh dengan kegembiraan, kiranya sudah cukup menjadi gambaran nyata, bagaimana surga dikisahkan secara nyata. Terlepas dari bagaimana nikmatnya minuman sesepele anggur yang membuat diri setengah mabuk, dan hal itu justru membentuk stigma baru terhadap kenakalan yang begitu seru.
Dengan perlahan, waktu akan menggerus pragmatisme tersebut, kredibilitas kenakalan akan memudar sampai akhirnya berganti gelar, sebagai satu nama yang melambangkan loyalitas, hingga nantinya tiba di satu titik di mana status keagamaan seseorang, akan dimusnahkan dari identitas kewarganegaraan. Manusia yang sudah keduluan ingkar atas agamanya, kiranya sudi untuk mengkampanyekan hal ini di kemudian hari. Tak ada lagi dongeng tentang romantisme peribadatan yang dikisahkan oleh manusia-manusia sepuh yang sebentar lagi akan menutup usianya, lantas akhir hidupnya akan berujung dalam tumpukan tanah, atau abu dari api yang telah menghanguskan tubuhnya.
Kawan, kita sudah begitu akrab dengan Tuhan, untuk apa lagi mempercayai agama dengan begitu skeptisnya? Bahkan dari sekian banyaknya agama, apa yang bisa kita harapkan dari semuanya? Sebab beribadah atau tidak, Tuhan tidak pernah dimuliakan apalagi dirugikan, semua hal itu hanya akan dikembalikan kepada diri kita, dan Tuhan akan tetap menjadi yang maha mulia dan paling sempurna. Sementara manusia yang menjadi ciptaan-Nya, dipenuhi oleh berbagai macam tantangan dan pertentangan.
Tuhan menciptakan manusia dengan alasan untuk menjadikannya khalifah di muka bumi ini, lantas jadilah kita umat manusia yang bijaksana dengan saling mengasihi sesama manusia lainnya melalui kebebasan yang ada, tanpa harus terbebani oleh pragmatisme orang-orang tua kita tentang agama yang menurut kita itu terlalu membosankan.
***
Bayangkan jika hal ini terjadi; ketika ada orang yang tengah menyela aktivitas untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang yang beragama, tetapi kemudiannya ia akan dicela, lantas apa untungnya masih mempertahankan kewajiban ketika ada banyak orang yang sudah lancang melakukan semua hal yang dilarang atas nama agama? Kiranya mereka semua itu, sudah berinisiatif untuk membawakan perubahan baru bagi umat manusia yang merasa terkurung dalam jebakan atas nama agama. Masih ada opsi baru untuk menjalani hidup sebagai manusia ideal yang tidak dipengaruhi oleh ketakutan atas nama agama.
Semua perbuatan maksiat yang dulunya terlihat keji, pada akhirnya akan menjadi ajang pelarian terbaik atas setiap kejadian yang terjadi. Tidak ada lagi ketakutan untuk dicela, tidak ada lagi larangan atas semua keinginan yang dikehendaki, karena agama hanya menjadi permainan moral yang membuat kita seolah-olah membangkang, jika kita melanggarnya dan menganggap itu sebagai aturan. Padahal, baik itu akal maupun nafsu, pada akhirnya kita akan tetap dikalahkan oleh kemauan kita sendiri. Semua kesenangan itu, adalah imbas dari rasa keingintahuan kita yang tengah menjalani kodrat sebagai manusia yang telah diciptakan. Benar begitu, kawan?
Mungkin hal itu belum sepenuhnya benar-benar terjadi, tetapi masa-masa transisi yang tengah menunjukkan hal ini, kiranya membuat harapan baru bagi umat manusia di masa mendatang. Bisa jadi masa-masa kita saat ini, ialah masa peralihan untuk tidak begitu beringas meninggalkan semua yang telah membawa peradaban sejauh ini. Kendati akan ditinggalkan secara pelan, tetap saja kita akan menaruh rasa hormat yang begitu dalam. Sebagaimana kita masih menjadi agamawan sejati ketika musim-musim tertentu, mengagungkan nama Tuhan pada hari-hari mulia dalam rangka penghormatan di masa-masa terakhir, tetapi setidaknya kita masih begitu menghormatinya di hari ini. Benar begitu, kawan?
Kenikmatan dunia ini, yang katanya penuh tipu muslihat ini, begitu nyata untuk dinikmati sekejap mungkin dalam jangka waktu yang cukup panjang, jika itu berkaca dari rentang umur kita yang kelihatannya masih lajang. Persetan jika kematian datang dengan segala siksanya atas semua larangan yang diingkari. Perkara surga dan neraka, kita semua sudah sepakat untuk jadi urusan pribadi sendiri-sendiri, bukan?