Sadar nggak sadar, peduli nggak peduli, mental pengemis itu selalu hadir di sekitar kita, atau bahkan di diri kita? Tau itu semua karena apa? Karena kita terkontaminasi sama kenyamanan ketika diberi, dengan usaha yang hanya perlu apresiasi. Gila, bro pikir cara dunia bekerja semudah itu? Aku akan ngomongin hal yang paling sensitif dan krusial, yakni uang dan kemiskinan.
Berdasarkan data dari BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2024 berkisar sebanyak 25,22 juta orang. Tau apa artinya? 25 juta orang sekian ini, akan menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang punya power untuk mengeksploitasi kemiskinan mereka, untuk mendapatkan hati mereka, untuk mendapatkan simpati mereka, dengan cara memberikan bantuan secara cuma-cuma entah itu dengan memberikan bahan pokok, uang, atau kebutuhan hidup lainnya. Sekilas, memang terlihat baik, bukan? Tapi yang namanya hidup, akan selalu mempunyai timbal balik yang berdasar, dalam hal ini jelas sekali konteksnya adalah maksud yang terselubung.
Indonesia adalah negara dengan penganut sistem demokrasi, sehingga tantangan para penguasa untuk mendapatkan kekuasaan adalah mendapatkan suara terbanyak dari rakyat. Idealnya, ketika elite politik ingin menduduki suara terbanyak untuk mendapatkan kekuasaan, mereka harus melakukan kampanye, menyuarakan visi dan misi mereka selama nanti ketika menjabat sebagai pemimpin negara. Namun, ironinya, yang justru terjadi adalah, mereka menggunakan cara kotor yang terkesan bersih dan kita semua tau bagaimana bentuknya, tapi kita terkesan acuh karena merasa lumrah untuk dilakukan.
Berdasarkan pernyataan direktur eksekutif perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyati, "penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) dari sumber anggaran negara (APBN/APBD) termasuk kategori politik uang saat masa kampanye". Dilansir dari website perludem. Sebagaimana yang aku tau dan temukan, realitanya ada banyak orang yang menganggap hal itu wajar dan sah-sah saja, ini seolah-olah menjadi semacam dogma tak berdasar yang sialnya dengan mudah untuk dianut oleh setiap orang. Apalagi ketika masyarakat yang memang secara ekonomi itu terbilang rendah, mereka sukar untuk menolak, mengingat kondisi hidupnya yang pas-pasan atau kurang. Hal ini menjadi beban berat untuk menolak tawaran yang diberikan ketika ada bantuan sosial. Bahkan ketika kasus bansos di masa pandemi misalnya, memperlihatkan bagaimana bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru dijadikan alat politik. Bukannya memberdayakan, bantuan ini malah memperpanjang ketergantungan masyarakat pada elite politik.
Kendati demikian, sasaran empuk ini tak berhenti dari situ saja, ada banyak konten kreator yang memanfaatkan kemiskinan dari masyarakat Indonesia sebagai komoditas bagi pertumbuhan followersnya. Aku mau mencoba membedah ini secara perlahan, di titik ini memang ada banyak hal yang terkesan tumpang tindih.
Memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan daripada kita itu sebenarnya baik, bahkan sangat baik. Tapi sejak awal luruskan dulu niatnya, luruskan dulu tujuannya. Memang faktanya, banyak kita temukan di media sosial bagaimana seorang konten kreator dapat mempublikasi aksinya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Di titik ini, ada banyak persepsi yang bisa jadi tumpang tindih. Pertama, bisa menjadi baik karena akan mengundang simpati orang lain untuk ikut membantu. Kedua, bisa menjadi bahan bersyukur ke orang lain yang ternyata hidupnya masih lebih beruntung. Ketiga, bisa membentuk mental pengemis kepada setiap orang yang merasa dirinya, itu juga perlu untuk diberi. Atau bisa jadi ada persepsi lain selain ini.
Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa menghakimi setiap orang akan berada di posisi yang mana. Tapi agak kurang etis untuk mempertimbangkan baik buruknya dari segi konten kreator yang membagikan aktivitasnya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang membutuhkan. Di satu sisi, ada banyak orang yang bisa terbantu dengan aksinya. Di sisi yang lain, juga ada banyak orang yang bisa jadi berharap lebih kepada si konten kreator agar dirinya juga bisa diberi. Karena dengan data 25 juta lebih rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, kelompok ini menjadi target empuk, bukan hanya bagi politisi yang ingin mengamankan suara melalui bansos, tetapi juga konten kreator yang mencari engagement dengan memberi 'hadiah' tanpa menyelesaikan akar masalah.
Di sini aku mau membahas lebih jauh tentang mental miskin yang secara tidak langsung itu seperti ditanamkan ke dalam otak kita melalui apa yang kita konsumsi di sosial media. Ini bisa merujuk ke apa aja, kebanyakan pada label giveaway. Secara umum, tujuan dan diadakannya giveaway itu bagus, bisa jadi untuk mengapresiasi diri. Namun, ironinya ketika giveaway ini lumrah terjadi, ada banyak orang yang justru meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Entah karena memang awalnya terjadi karena rutinitas sebagai bentuk perayaan ketika apa, gitu, bisa jadi. Nah, ketika orang mulai merengek meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Secara nggak langsung, kan, itu menumbuhkan mental pengemis. Kita tau enaknya diberi, dan kita tau bahwa si orang yang memberi ini akan mudah memberikannya, dan kita melumrahkan hal ini terjadi. Belum lagi ketika giveaway berlangsung, kita berkompetisi dari banyak orang sebelum akhirnya menjadi pemenang. Ketika menang, dikata memang sudah rezekinya. Ketika kalah, bilangnya memang belum rezeki. Kendati demikian memang benar begitu konteksnya, tapi bisa menggeser bagaimana maksud sesungguhnya.
Rezeki itu datang ketika kita berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya. Kendati dalam konteks giveaway kita juga melakukan usaha untuk mendapatkannya, misal dengan melakukan semua syarat yang diberikan, dan itu juga jadi salah satu bentuk ikhtiar. Benar, dan itu sah-sah aja. Tapi kalau akhirnya sampai ngegampangin rezeki lewat giveaway, ironi sekali. Bahkan utamanya rezeki itu kan mempunyai nilai ibadah untuk meningkatkan takwa. Kalau giveaway memang demikian membuatmu bertaqwa, alangkahnya dzolimnya dirimu sendiri terhadap rezeki. Di titik ini, minimal belajar bertahan di atas kaki sendiri.
Dengan demikian akhirnya membuat label giveaway, yang awalnya terlihat sebagai cara influencer untuk 'berbagi rezeki', ternyata juga punya dampak buruk. Ketika pola ini jadi rutinitas, banyak orang mulai meminta lebih, berharap lebih, tanpa memberikan usaha yang sebanding. Ini adalah benih mental pengemis yang berbahaya: sebuah siklus di mana kita lebih fokus untuk menerima daripada berusaha menciptakan sesuatu sendiri.
Aku bukan orang yang berkompeten untuk mengomentari masalah kemiskinan ini, dan aku juga bukan orang yang banyak berkontribusi. Tapi yang mau aku sampaikan adalah, kalau tingkat kemiskinan di negara kita masih begitu tinggi, ini harus jadi pertimbangan erat kepada pemerintah untuk mengentaskannya. Bisa jadi dengan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, kendati kita semua tau, bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan di negara ini.
Membagikan bantuan sosial juga sebenarnya bukan solusi utama, karena akan menjadi percuma ketika bantuan sosial diberikan secara masif, kalau masyarakatnya masih belum bisa berpikir kritis, minimal rasional, untuk keluar dari jerat kemiskinan. Karena kemiskinan tidak bisa dientaskan dengan hanya memberi, melainkan dengan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk bangkit sendiri. Kendati hal ini juga berkaitan erat dengan kepentingan para elite dalam mengeksploitasi hal ini. Mohon maaf, aku mau menyebut sesuatu yang terkesan kurang etis dan kurang ajar, yakni bagaimana masyarakat dibiarkan nyaman untuk diberi dan membiarkannya dalam lingkaran setan bernama kemiskinan, karena eksploitasi dari hal yang paling fundamental, yakni kebodohan
Karena sebenarnya antara kebodohan dan kemiskinan itu bisa jadi dua hal yang saling berkaitan. Orang akan sulit mendapatkan akses ke pendidikan tinggi karena kurang mampu secara biaya, sehingga taraf pendidikan banyak orang bisa jadi hanya sampai kepada pendidikan wajib yang masih ditanggung oleh negara. Itu pun, beberapa dari mereka bahkan ada yang tidak bisa mendapatkan akses karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan operasionalnya, seperti membeli seragam, sepatu, alat tulis, dll. Bahkan ironisnya, pendidikan wajib yang ditanggung oleh negara pun, memiliki sistem yang kurang baik jika itu dijadikan kiblat utama bagaimana masyarakat menempuh pendidikan.
Asumsi liarku selalu mengatakan ini; masyarakat kita tuh seolah-olah dibiarkan dalam lingkaran setannya masing-masing, dengan suatu kenyamanan atau kebodohan. Dibiarkan dalam artian, semua yang terjadi dalam kehidupan sosial kita tuh terkesan akan terjadi secara baik-baik saja tanpa ada kurang, misalnya. Hal ini akan membatasi kita untuk berpikir lebih jauh, bagaimana semua sistem ini bekerja.