Kamis, 05 September 2024

Gaya hidup yang ideal nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial

Mau seidealis apapun lu menghadapi hidup, dengan standar yang lu bangun sesimpel apapun demi menunjang kelangsungan hidup, atau apapun itu lah dengan seabrek alasan dan harapan lu bertahan hidup. Lu cuma akan jadi bidak catur yang ada di dalam papan permainan, selama lu nggak berusaha keluar untuk berganti posisi sebagai seorang pemain, bukan diposisi yang dimainkan. Nggak ngerti?

Gini, realita kehidupan sosial kita sekarang tuh dibentuknya dari apa sih? Mayoritasnya kan dari media sosial yak, dunia maya. Semua standar dan bayang-bayang harapan, itu dibangun di atas algoritma dari paparan yang ada di media sosial. Lu nggak mungkin berbicara tentang healing dalam konteks liburan, kalau selama ini lu nggak terpapar sama standar media sosial. Iya, kan? Dan toh kenyataannya memang demikian. Konotasi healing akan mengarah kepada liburan, di luar makna harfiah yang berarti penyembuhan. Kendati konteks healing sebagai liburan juga dapat menjadi sarana penyembuhan dari sisi-sisi tertentu.

Namun, coba kita tarik lebih jauh lagi strukturnya, bagaimana standar sosial dan gaya hidup ideal, dibangun dari dua hal yang mestinya tidak saling berkaitan, menjadi saling berkaitan. Sehingga menjadi pilar ideologi di kepala kita yang cukup kerdil untuk memangkunya. Karena kerangka berpikir kita diatur oleh arus yang lebih besar; bernama algoritma. Dan dari semua sistem saraf yang ada di otak kita, sulit untuk menolak segala hal yang rasanya kian lumrah untuk diseragamkan, sehingga kita terbuai dan menjadi tidak berdaya atas standar hidup yang kita bangun untuk diri kita sendiri.

Paparan algoritma, dan bias kerangka berpikir kita, menyeret paksa diri kita untuk membangun standar sosial yang setara, sehingga terbentuklah pola hidup baru, yang menjadi standarisasi paling normal, sesimpel healing tadi salah satunya. Dalam contoh lain, sesimpel nongkrong di cafe, terus di story in sebagai ritual atau penyembahan atau validasi, atau apa lah itu, terserah. Terus nonton film di bioskop sambil story in tiketnya, atau story in judul film nya pas sudah di dalam studio. Terus nonton konser musisi favoritnya, atau konser musisi legendaris yang bahkan lu baru tau lagunya pas lu beli tiketnya, tapi lu tetap bela-belain datang ke konser itu demi menunjang eksistensi diri lu, dan jangan lupa, hampir nggak pernah ada orang yang absen dari mengangkat kamera hp nya, dan mengabadikannya di insta story. Masih banyak lagi lah yang lainnya, sialan, taik banget nulisin ritual Gen Z ini cokkk. Padahal aku gen Z, tapi aku nggak se-berdaya itu buat menyembah segala hal dari apa yang ada di media sosial.

Intinya nih ya, dari segala hal itu, dari pola hidup baru itu, dan karena standarisasi yang dinormalisasi itu, emang lu bisa membangun gaya hidup yang ideal di tengah realita sosial yang ada? Sedangkan gaya hidup ideal, nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Gini deh, idealis yang lu bangun aja kek gimana sih? Bisa menunjang kehidupan diri sendiri demi kelangsungan hidup, kan? Kalau iya, emang lu bisa nggak terpapar sama pola hidup baru sesimpel nongkrong-nongkrong di cafe gitu? Belum dengan meluapnya cafe-cafe yang punya nuansa berbeda yang semua orang akan menormalisasi untuk selalu berpindah tempat nongkrong dari cafe ke cafe.

Ah, nggak usah deh, katakan lu nggak suka nongkrong, introvert gitu, kek yang lagi nulis tulisan ini. Introvert tapi bacotan di tulisannya songong, iya itu saya. Ah lanjut, jadi lu cuma kerja nih, buat mencukupi hidup lu, demi kelangsungan hidup lu, udah nih cukup. Lu nggak peduli dengan semua kebisingan yang dilakukan oleh sebangsa lu. Tapi apa lu yakin, lu bisa tetap selamat dari paparan algoritma? Selama lu masih mengakses dunia maya? Ada banyak dunia hiburan yang disediakan media sosial, salah satunya judi online. Tapi ada satu kata nih buat pemain-pemain judol ini, "TOLOL".

Katakan lu nggak tertarik sama hiburan begituan, oke bagus lah, nggak usah jadi orang tolol minimal. Jadi lu tetap dengan ideologi lu yang ada nih, lu cuma perlu ngelakuin hal-hal yang menunjang kelangsungan hidup lu dengan cara bekerja. Oke, bagus. Tapi apa lu yakin, lu bisa survive dengan kondisi sosial di tengah finansial yang sistem ekonominya nggak begitu stabil? Udah bagus nih ideologinya cuma kerja buat menunjang kelangsungan hidup, pertanyaannya sekali lagi, apa lu bisa survive di tengah gejolak finansial yang nggak begitu stabil? Kalau lu cuma kerja dan terima gaji terus lu tabung tanpa lu berpikir tentang stabilitas ekonomi, apa lu bisa tetap survive?

Sekarang lu cek nilai tukar fiat lu, apakah itu naik atau turun? Gini ya, untuk yang kesekian kalinya diulang, ideologi kita atas gaya hidup yang ideal, itu nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Dengan seminimalnya lu kerja tanpa perlu nongkrong, healing, nonton, dan segala hal lainnya, lu tetap akan dihajar sama hidup, karena toh hasil terima gaji lu, berada di dalam aturan yang semuanya sudah dikontrol dengan sangat apik. Semua upaya lu menyimpan hasil gaji lu dengan berhemat, ujung-ujungnya itu hasil keringat lu akan tetap digerus oleh sistem ekonomi bernama inflasi, deflasi, devaluasi, dari hasil kebijakan moneter.

Simpelnya gini, harga-harga barang pokok lambat laun akan terus naik, jadi otomatis kebutuhan daya beli lu juga jadi ikutan naik dong seiring waktu, nah tapi gaji lu nggak ikutan naik sesignifikan daya beli lu. Maka ujung-ujungnya? Lu juga tetap dihajar sama kehidupan sosial yang memang nggak sebanding lurus sama realita sosial. Dan ujung-ujungnya, lu hanya akan tetap menjadi bidak catur yang tengah dimainkan kehidupan, kendati sekeras apapun ideologi lu membentuk tentang gaya hidup ideal.

Bukannya bermaksud nyangkut pautin sama hal-hal sensitif berbau ekonomi apalagi finansial, tapi kan realitanya memang demikian adanya. Dan pada akhirnya, paradigma di dalam media sosial akan ngebuat hidup lu penuh dengan delusi; bahwa selama ini lu sudah cukup pintar melewati banyak hal, lu cukup bijak dalam mengambil pilihan, lu cukup kuat dalam menghadapi kehidupan, dan itu semua terjadi tanpa pernah lu sadari, bahwa di antara semua yang lu lakukan, ada di dalam bias yang sama sekali nggak pernah terjamah oleh pikiran lu.

Sekian, bacotan panjang lebar tak ada gunanya, terima gaji

Share: