Minggu, 28 Januari 2024

Harga sebuah kejujuran

    Berulang kali teleponku terus memutar nada dering, berulang kali juga aku mengacuhkannya. Namun semakin lama dibiarkan, aku mulai merasa terganggu. Entah sudah panggilan yang ke berapa itu sampai-sampai aku muak mendengarkan dering yang terus menggema memenuhi seisi kamarku. Dengan keadaan setengah sadar dan ngantuk yang masih memuncak, aku meraih handphone dan berusaha memaksa untuk membuka mata dan melihat layar handphone untuk mengetahui siapa yang tengah memanggil. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku, dengan gegas aku langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.

    "Apaan?" ucapku begitu panggilan mulai tersambung ke seberang sana.

    "Lama banget sih ngangkat teleponnya, lo masih tidur apa jam segini?" omelnya kemudian.  

    "Hmmmm," sahutku dengan malas-malasan.

    "Dih, nggak sehat banget hidupnya, siang-siang begini masa masih tidur,"

    "Ini kalau lo masih mau lanjut ngomel, gue lanjut tidur ya, gue biarin aja nih panggilan telepon nyambung terus, ntar kalau udah matiin sendiri aja." Sergahku langsung memotong ucapannya, aku pun menyalakan loud speaker dan kembali meletakkan HP di samping tubuhku.

    "Ih jangan gitu dong, samperin gue kenapa, nggak kangen lo? Gue lagi di Banjarmasin ini."

    "Apa-apaan lo tiba-tiba di sini, ngapain heh?" kataku dengan sedikit terkejut dan kembali meraih handphone. 

    "Bosen gue di rumah, tadi sempat ngumpul bentar sama temen-temen gue. Terus mereka udah pada balik, nah gue masih belum pengen pulang, makanya gue telepon lo."

    "Terus?" timpalku kemudian.

    "Ya inisiatif nyamperin kek, gitu," ketusnya dengan nada agak kecewa.

    "Atau lo nggak pengen ketemu gue, ya?" lanjutnya dengan suara yang sedikit terisak.

    Mendadak aku langsung mendudukkan tubuh seraya mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video, tak butuh waktu lama, wajahnya sudah terpampang memenuhi layar handphoneku. Dan benar saja dugaanku, raut wajahnya sedang menunjukkan kesedihan. Posisinya sedang berada 

    "Apaan jelek banget mukanya kalau sedih gitu, mirip kambing nyengir, hahaha," kelakarku diiringi oleh suara gelak tawa dari mulut. 

    Dia tidak terima dan langsung mengumpat kepadaku, semua hinaan mendadak tersemat di balik namaku. 

    "Itu lo lagi di mana kayak gelap gitu?" 

    "Gue lagi di parkiran mall, bimbang mau balik atau nanti aja," sahutnya masih menunjukkan wajah sedihnya. 

    "Balik aja, nggak sih?" timpalku iseng menanggapi.

    "Yaudah kalau lo mau gitu," ketusnya langsung menyambar ucapanku, membuatku terkekeh pelan.

    "Udah ah jangan sedih gitu, gue mau mandi dulu, ntar gue samperin. Sabar, ya." Tuturku tanpa meminta persetujuan darinya dan langsung melompat menuju ke kamar mandi.

    Selang setengah jam kemudian aku sudah mengendarai motorku dan tiba di parkiran mall. Dengan gegas aku melangkahkan kaki menuju ke parkiran mobil untuk menemuinya. Begitu langkahku sudah dekat dengan keberadaan dirinya, muncul seonggok manusia yang baru saja keluar dari mobil dan dengan tergesa melangkahkan kakinya ke arahku.

    Mendadak wajahnya terlihat ceria dan penuh semangat serta memamerkan senyum semringahnya. Begitu tiba di samping tubuhku, ia dengan sifat impulsifnya langsung bergelayut manja. Langkah kaki kami bergerak pelan menuju pintu masuk mall tanpa tujuan apa-apa.

    "Perasaan tadi pas vc lo masih pake hoodie, kenapa sekarang cuma kaosan begini?" Aku mendelik melihat ke arah tubuhnya di sampingku.

    "Emang, hoodie nya gue lepas, itu gue taroh di mobil, gerah soalnya."

    Aku mendadak menghentikan langkah dan langsung mengamati seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, ia mengenakan kaos Acme lengan pendek dengan motif beruang besar di depannya, serta celana jeans panjang abu-abu yang tidak sampai menyentuh mata kakinya. Rambut hitam legamnya yang panjang itu menjuntai di balik jepitan rambut yang menyatukan helaiannya.

    "Kenapa lo?" tanyanya ketika aku mendadak menghentikan langkah.

    "Ini gue masih tidur apa udah bangun, ya?" imbuhku.

    "Kenapa sih?" timpalnya ikut merasa kebingungan dengan ucapanku.

    "Gue kayak lagi lihat siluman katak lagi geloyotan sama gue," celaku yang kemudian langsung membuat dia menghajar tubuhku dengan pukulan di tangannya.

    Padahal aku cuma sengaja mengalihkan rasa terperangahku yang melihat penampilannya dengan begitu menawan, berbanding terbalik dengan diriku yang asal comot begini. Sedih sekali. 

    "Ini kita mau ngapain, dah?" tanyaku begitu kami kembali melanjutkan langkah.

    "Gak tau juga, nonton kali, ya?" usulnya.

    "Yeh, yang ada malah lanjut tidur gue kalau nonton mah," timpalku menjawab usulannya.

    "Lo udah makan belum?"

    Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepala.

    "Nah, pas banget kalau gitu. Kita makan aja dulu, habis itu temenin gue belanja, ada yang mau gue beli nanti." 

    Dengan gegas kami mulai melanjutkan langkah menuju restoran yang diinginkannya, sedangkan aku hanya mengikuti saja kemauannya.

***

    "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," lirihnya beberapa saat setelah kami menuntaskan makan.

    Aku hanya membalas ucapannya dengan menautkan alis dan menatap serius ke arah wajahnya yang seperti sedang diliputi raut gelisah. Tidak seperti biasanya dia bertingkah seperti itu. Matanya berulang kali mengedip, seperti sedang mengumpulkan kepercayaan untuk membicarakannya kepadaku. Sementara aku sendiri memang cukup penasaran dengan apa yang ingin dia sampaikan.

    "Janji dengerin penjelasan aku dulu, ya?" lirihnya lagi berusaha tegar dari keraguannya. Lekas aku menganggukkan kepala dan meraih pergelangan tangannya, dia mendadak terkejut ketika aku menggenggam tangannya.

    "Jujur, tadi aku habis ketemu sama mantan aku. Awalnya aku ke sini emang sama teman-teman cewek aku, tapi aku enggak sengaja ketemu sama dia di sini, dan dia ngajakin aku jalan. Awalnya aku nolak, tapi kata dia cuma minta temenin bentar. Jadi aku pamit duluan sama temen-temenku, terus nemenin dia jalan. Dia emang enggak tahu kalau sekarang aku tuh ada hubungan sama kamu, makanya mau nolak karena alasan itu juga aku sungkan, mending aku iyain aja. Niatnya kalau udah kelamaan dan aku enggak nyaman, mau aku tinggalin duluan, tapi dia beneran megang omongannya yang cuma sebentar itu. Tapi," ucapannya terjeda begitu saja. Aku yang sejak tadi terus menyimak penjelasannya, mendadak muncul dugaan-dugaan tidak jelas di dalam kepala, ada amarah tertahan yang berusaha aku sembunyikan, meski jelas itu akan memompa rasa sesak di dalam dada.

    "Tapi apa?" timpalku yang masih merasa penasaran.

    "Dia bilang masih nyaman sama aku, dia minta aku meluk dia sebelum kita pamit pulang."

    "Terus, lo iyain?" potongku berusaha tetap menerima kenyataannya.

    Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Tapi sepanjang kita jalan, kita pegangan tangan kaya dulu."

    "Cuma itu?" tanyaku kembali memotong ucapannya, kepalanya mengangguk pelan sebagai jawaban, rasa gelisahnya masih terpampang jelas di raut wajahnya.

    Aku mendengus kasar, berulang kali aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarah yang masih tertahan, berusaha agar dia tidak menyadari emosiku, aku tidak ingin membiarkannya menyesal karena sudah memilih bercerita jujur kepadaku.

    "Maafin aku, ya." lirihnya memohon dengan perasaan bersalah.

    Aku masih bergeming setelah mendengar ucapannya, emosiku masih meluap-luap mendengar pengakuannya yang menusuk hati sedemikian kuatnya. Meski aku sadar, aku bisa apa atas kehidupannya? Lambat laun aku berusaha mengontrol emosi, meredakan amarah. Melihat dia yang masih gelisah, aku memindahkan posisi duduk ke sampingnya, aku raih tubuhnya untuk menyandar di pundakku. 

    "Sebenarnya gue nggak bisa terima, tapi gue bisa apa atas hidup lo? Itu semua hak lo buat ngelakuin itu, selama itu nggak berlebihan dan matahin kepercayaan yang udah gue berikan, rasa-rasanya gue masih bisa maklumin. Gue nggak mungkin se abusive itu buat bisa ngatur segala tindak-tanduk di hidup lo, dan padahal hidup kita itu berbanding jauh, tau. Gue juga masih heran kenapa bisa-bisanya lo ngeruntuhin pertahanan gue, setelah kekecewaan terbesar gue dulu?" 

    "Ih, kamu kok ngomongnya gitu," racaunya menimpali ucapanku.

    "Enggak, maksud gue, lo padahal berhak kok milih hidup lo sama siapa, mau lo pengen memperbaiki hubungan sama mantan lo juga, itu pilihan lo, kalau lo emang mau, jalanin itu."

    “Maksud kamu, aku belum selesai sama masa lalu aku gitu? Jangan samain masa lalu aku yang jelas beda sama masa lalu kamu, dong. Aku tuh jelas-jelas udahan karena emang akunya yang udah enggak nyaman, beda sama kamu yang udahan karena masih ninggalin rasa nyaman apalagi masih menempatkan harapan. Beda, ya.” Sentaknya menjelaskan panjang lebar, emosinya seakan tersulut karena ucapanku barusan. 

    “Maaf, gue nggak ada maksud buat nyinggung masa lalu lo. Maaf, gue kebablasan cemburu pas ngebayangin cerita lo tadi. Maaf banget, gue salah. Lo udah berani jujur aja, gue bangga, tapi maaf banget udah bikin lo salah paham sama sikap bodoh gue.” 

    Satu-satunya yang aku sadari dari konflik dalam sebuah hubungan adalah, emosi yang saling membumbung di antara keduanya akan selalu berebut mencari pengakuan untuk dibenarkan. Dan aku lekas mengalah untuk mengakui bahwa aku memang salah, karena yang aku kejar dari ego merasa benar adalah melihat bahwa sesungguhnya aku merdeka untuk tidak memenangkannya. 

     Kedua mataku kini melirik ke arah wajahnya yang sudah dipenuhi kekesalan, bisa jadi masih banyak ego-ego lain yang masih membara di dirinya sejak aku memantik emosinya tadi, dan aku berusaha menerima realitanya, menerima semua sikapnya untuk beberapa saat ke depan yang masih dipenuhi kekesalan.

    Lambat laun, dalam gemingnya yang tak jua merespon apa-apa setelah ucapan terakhirku tadi, akhirnya raut wajahnya berubah datar, menatap kosong di depannya dalam beberapa saat.

    "Yang perlu kamu tahu, aku tuh cuma menuhin permintaan dia, aku sebenarnya juga enggak nyaman. Makanya setelah itu aku nelpon kamu, aku mau langsung cerita jujur, aku nggak mau nutupin ini,” ungkapnya kembali membuka suara.

    Aku menelan ludah, melihat betapa kuatnya dia menceritakan kejujuran itu kepadaku yang entah telah menganggapou menganggap aku sebagai apa di hatinya, tapi aku benar-benar bangga dengan semua pilihan yang dia lakukan. Aku seperti melihat diriku yang selama ini terbiasa berkompromi dengan isi kepala sendiri, dalam bentuk wujud seorang manusia yang mempunyai isi kepala berbeda.

    "Udah, ya, over thinking nya?" lirihnya di samping tubuhku.

    "Dih, siapa yang over thinking, nggak ada over thinking di kamus hidup gue," selaku cepat.

    "Ketahuan kok itu, kamu lagi ngerespon emosi dalam dirimu dengan baik, kan? Sampai aku nggak pernah punya rasa takut buat jujur soal apapun ke kamu. Walaupun ada ragunya, gelisahnya, tapi kamu menghadapi semua itu dengan baik, aku cuma berharap semoga itu nggak destruktif ke kamu," ungkapnya yang kini meraih pergelangan tanganku dan membenamkan sela-sela jemariku dengan genggaman tangannya, dan itu menenangkan sekali. Aku mendadak diam, kepalaku kembali mengurai apa yang baru saja aku hadapi, ucapan-ucapan seperti apa yang sudah aku lontarkan.

    "Maaf ya, kalau udah bikin perasaanmu nggak nyaman," ucapnya lagi saat aku masih bergeming dengan pikiranku sendiri.

    "Lo belajar dari mana sih, tiba-tiba ngerti beginian?" Tanyaku heran.

    "Ngerti beginian tuh maksudnya apa?" timpalnya malah kebingungan.

    "Itu, lo bisa-bisanya ngerti sama perasaan gue," imbuhku cepat.

    Dia mendadak tertawa, wajahnya menyeringai lebar, kedua sudut bibirnya melengkung indah seakan menghapus seluruh gundah di benak kepalaku. "Tau nih, ketularan lo kaya nya."

    Sontak aku mengacak-acak puncak kepalanya dengan gemas, menyentil keningnya yang berkerut karena tersenyum semringah. "Makasih, ya," imbuhku. 

    Tak lama setelahnya, dia lanjut mengajakku untuk menemaninya berbelanja. Sepanjang siang menuju sore kala itu, aku menemani hari-harinya yang tidak seperti biasa. Intensitas pertemuan kami terbilang jarang, aku selalu mengindahkan pertemuan atas hal-hal krusial yang mengacuhkan atensi dengan beragam drama. Tak ayal dia selalu bisa berkompromi dengan ideologi yang sama-sama kami sepakati. Berulang kali rasa syukur terus terpanjat begitu menerima kehidupannya yang membawaku pada makna-makna yang terajut di ujung kepala. 

Share: