Etis nggak sih rasanya kalau saya pribadi bilang bahwa nggak ada yang benar-benar baik di dunia ini kecuali itu datang dari Tuhan? Karena naif aja gitu kalau ada kebaikan yang datang dari manusia, kita malah terobsesi untuk mengikutinya. Tapi bukan berarti saya menutup kemungkinan bahwa setiap orang enggak berhak untuk berbuat baik, dalam artian bahwa ada persepsi yang mungkin cacat dalam menganggap kebaikan.
Memang yang melahirkan kebaikan ini adalah manusia, tetapi hal itu kan terjadi atas dasar kemenangan terhadap kontrol dari dalam dirinya, yang mana bagi setiap orang untuk bisa mengontrol diri sendiri terhadap egoismenya itu cukup sulit.
Enggak mudah, kan, bagi setiap orang tuh buat bisa ngontrol egonya? Ngontrol kemauannya? Boro-boro mau berbuat baik. Kita kalau ketemu sama orang yang nyebelin, apakah masih akan berpotensi untuk berbuat baik kepadanya? Terlepas dari sikap dia yang menyebalkan, dan emosi kita yang ditahan karena berusaha untuk bisa tetap menimbulkan afirmasi positif.
Tapi Kembali lagi, apakah kita akan tetap berbuat baik ketika ada di situasi tersebut? Bisa atau tidaknya, itu kita sendiri yang akan menjawabnya, kita sendiri yang akan menentukan keputusan dalam menghadapi situasinya, karena baik dan buruk hanyalah soal perkara, manusia akan tetap mempunyai nilai yang sama dan setara sebelum dia melakukan pilihannya.
Lalu, mengenai kebaikan yang benar-benar baik hanya datang dari Tuhan? Ya, itu hadir dari kesiapan kita ketika berhasil menghilangkan maunya diri ketika akan menghadapi situasi yang awalnya mustahil kita tolak. Nggak ngerti? Semoga ngerti lah ya. Sederhananya begini, ketika kita dihadapkan dengan orang yang menyebalkan, tetapi kita tetap bisa berbuat baik kepadanya tanpa ada unsur apapun atau tuntutan apapun, maka hal itu menjadi pondasi dasar bahwa kebaikan itu datang dari Tuhan.
Dari segimananya? Dari segi rasa kemanusiaannya ketika kita berhasil menutup ego dan kemauan diri kita untuk tidak berbuat baik kepada orang yang menyebalkan itu, di saat kita tetap berlaku baik kepadanya. Karena, toh umumnya kan kita pasti akan risih terhadap orang yang menyebalkan dan kemauan kita atas dasar egoisme tentu saja akan menolak untuk berbuat baik kepadanya.
Lantas, apakah dengan demikian orang yang berbuat baik pada umumnya itu tidak memiliki nilainya? Atau orang yang berbuat jahat itu masih memiliki potensi untuk melakukan kejahatan yang benar-benar jahat? Kalau di dalam Alqur'an menjawab bahwa baik dan buruk itu diciptakan Tuhan sebagai ujian agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam menentukan pilihan.
Begini, dalam islam itu kan sebenarnya semua perilaku manusia terjadi atas izin Allah, terlepas dari baik dan buruknya, itu nanti masuk ke persoalan moral, pengetahuan, dan ilmu. Analoginya seperti ini, ada sebuah pisau di tangan seorang koki dan pisau di tangan seorang pembunuh. Pisau di tangan seorang koki akan jadi bermanfaat untuk mengolah makanan karena berbasis pada pengetahuan, sehingga pisau tersebut tidak berpotensi untuk melukai. Sedangkan pisau di tangan seorang pembunuh, menjadi berbahaya karena bisa menghilangkan nyawa seseorang. Keduanya akan sama-sama terjadi atas pisau yang digunakan tersebut, karena Allah berkehendak di sana atas fungsi pisau, tinggal manusia yang akan melakukannya seperti apa terhadap pisau tersebut.
Jadi, ketika ada seseorang yang menyalahgunakan pisau tersebut untuk membunuh, bukan berarti bahwa Tuhan yang telah berbuat jahat atau Tuhan yang membunuh, tetapi karena seseorang yang menggunakan pisau tersebut.
Selaras dengan ungkapan Santo Agustinus yang cenderung mengarah pada ajaran neoplatonisme tentang kejahatan, "Kehendak baik itu hasil karya Tuhan; kehendak jahat adalah akibat meninggalkan Tuhan." Agustinus percaya bahwa kejahatan itu tidak memiliki keberadaan yang mandiri, ia adalah sesuatu yang tidak ada, sebab ciptaan Tuhan itu sesungguhnya hanyalah kebaikan, sedangkan kejahatan berasal dari ketidakpatuhan manusia.
Terlepas apakah orang baik yang melakukan kebaikan itu memiliki nilainya atau tidak, itu urusan Tuhan. Kita hanya menjunjung kehendak Tuhan tersebut sesuai koridor yang telah ditentukan. Karena semua yang kita lakukan, akan tetap bernilai dalam pandangan Tuhan.