Sabtu, 13 Mei 2023

Kekuatan interpretasi persepsi atas rumitnya hidup yang kita jalani

Kenapa mayoritas orang banyak mengeluhkan tentang hari-harinya yang melelahkan? Kalau dipikir-pikir jika karena kita kurang bersyukur, make sense, nggak? Tapi, kurang dari segi mananya dulu kapasitas rasa syukur kita ini sehingga bisa dikatakan tetap bisa mengeluh walau sudah merasa bersyukur? Nggak ada barometernya, kan? Jadi, jangan apa-apa disuruh bersyukur terus, jadi orang agamis jangan terlalu perfeksionis, tetap lihat manusia dari segi humanismenya, karena manusia bisa memeluk agama, tapi agama nggak bisa memeluk manusia, agama itu dipeluk oleh manusia. Nah dari situ nantinya kita bisa punya alasan-alasan ideal kenapa akhirnya kita terus-terusan mengeluhkan hari-hari dalam hidup kita yang senantiasa melelahkan. 


Manusia modern ketika dihadapkan oleh situasi rumit, bawaannya pengen ngeluh dengan dalih semangat untuk bangkit, tapi bingung mau mulainya darimana. Akhirnya stres, depresi, tapi bahkan uniknya manusia modern tuh mereka masih bisa meromantisasi stress dan depresinya dengan hal-hal primitif, dan itu nggak ada solusinya sama sekali, cuma sekadar validasi. Iya, kan?


Nih misalnya pas lagi stres, dalih yang dilakukan tuh kan cuma sekadar jadi validasi. Ngeluh sana sini, biar diliat orang lain bahwa kondisi kita tuh gini, nih. Padahal kan ngeluh tuh nggak ada salahnya, bagus malah, kita kan jadi bisa ngeluarin unek-unek yang ngeganjal. Cuma ya karena manusia modern ini nggak bisa dihindarkan dari krisis eksistensinya, semua kondisi bisa jadi cara buat nunjukin dirinya. Padahal nunjukin diri tuh nggak begitu konsepnya.


Hidup tuh kan sebenarnya rumit, kita terus bergesekan dengan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Seperti harapan, ketakutan, pilihan, benar - salah, tuntutan sosial, relasi hubungan, dan masih banyak faktor lainnya. Nah dari itu semua, kita tentunya sadar dong di mana aspek melelahkan hidup kita itu datang? Kita jadi berkata capek ya karena kita kesulitan untuk mengontrol itu semua, sedangkan waktu terus berjalan menentukan semua yang belum kita jadikan pilihan, dan di satu keadaan kita tiba-tiba dihadapkan oleh satu kenyataan yang tidak kita duga sebelumnya. Ya karena emang dari awal kita kesulitan untuk mengontrol semua aspek itu. 


Dari sini kita akhirnya bisa ngerti sama kapasitas diri, bahwa kita nggak seagresif itu untuk bisa mengontrol semua aspek di satu waktu yang sama. Kalau kita terang-terangan mengakui bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya, harusnya kita sudah punya peluang untuk merasa bebas, tapi kenyataan yang menyerang hidup kita secara bertubi-tubi tanpa persiapan yang kita hadapi, akhirnya membuat kita menganggap bahwa hidup itu selalu melelahkan. 


Ya, karena kita terus mempertanyakan semua kejadian itu, kita terus mencari alasan-alasan kenapa semua itu datang? Padahal kalau kita punya kerelaan untuk menerima, kita juga mudah untuk melewatinya tanpa harus mengeluh banyak. Walaupun susah, seenggaknya kita udah punya potensi untuk tidak merasa keberatan apalagi sampai merasa kewalahan. Hidup ini kita yang menjalaninya sendiri, jadi ya hadapi aja, ngeluh ya ngeluh aja, cari batasannya untuk diri sendiri, terus kembali lagi hadapi kenyataannya.


Karena yang berat dari hidup itu bukan tahun, bulan, apalagi hari, yang berat dari hidup itu cuma persepsi. Kebetulan aja karena emang waktu nggak pernah lepas dari hidup kita, kita sesumbar memihak waktu sebagai dalih dari segala perih. Padahal ya emang isi kepala kitanya aja yang nggak bisa dikontrol dengan baik.


Makanya membentuk persepsi untuk tidak memandang peliknya hidup sebagai sebuah beban, menjadikan realita yang ada menjadi sedikit lebih ringan, kendati beberapa keluhan akan tetap terucap atas keberanian kita dalam menghadapinya sebagai sebuah perlawanan. Semata-mata agar kita tidak dikalahkan oleh hidup kita sendiri.

Share: