Kayaknya orang jadi mudah untuk memandang remeh dari segi tingkah laku, tetapi begitu kesulitan memandang luar biasa pada hasil yang diciptakan. Bisa jadi ini adalah faktor strugling semua orang, kita keliru bertindak di segala hal, pandangan kita terlalu cacat untuk menilai, sehingga apapun hasil yang keluar, semua nggak akan pernah sesuai.
Orang yang fokus kerja banting tulang untuk membiayai hidupnya, denial sama orang kuliahan yang katanya nggak berguna, apalagi sama gaya hidupnya. Orang kuliahan yang fokus mengasah intelektualitas kemampuan berpikirnya, tetap cacat dalam menilai seseorang yang setelah lulus sekolah memilih bekerja dan tidak memilih kuliah sebagai opsi hidupnya. Sindiran-sindiran tentang validasi bagi diri dilempar sebagai sebuah mahakarya. Apa yang sebenernya sedang kita jadikan perlombaan? Menjadi benar atas pilihan yang kita pilih, begitu?
Memang pada akhirnya semua orang akan mencari pembenarannya masing-masing, dan itu menjadikan kultur yang nggak sehat bagi perkembangan intelektual kita, apalagi terhadap perkembangan mental. Kita sering tersandung kalau soal ini, rapuh untuk mencari alasan tetap hidup, melarutkan banyak kesedihan sebagai penderitaan, dan lebih parahnya kita menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup.
Beragam persepsi yang tumpang tindih di sekitar kita justru menjadi problematika yang gagal disusun sebagai solusi, dan sebaliknya kita malah mendapati berbagai aspek ruang bagi kebencian untuk berdiri. Hingga akhirnya kita akan saling serang di dunia yang separuh nyata ini, dan semuanya akan terus berlanjut sebagai sebuah kenaifan yang begitu niscaya atas manusia-manusia yang ada di sekitar kita.