Rabu, 08 Maret 2023

Kilas balik manusia dalam usia

Dari sekian banyaknya waktu dan dari sekian banyaknya hari, aku menyadari bahwa enggak semua hal bisa dengan sempurna aku mengerti. Kendati semua hal terasa masuk akal di kepala, tetapi bukan jadi suatu kemudahan untuk kemudian bisa dicela. Ini bukan perkara benar atau salah, tapi tentang memperkaya diri dengan hikmah dari semua masalah.

Hari ini, umurku genap 20 tahun dan secara resmi akan memulai hari selanjutnya pada usia di kepala dua. Mungkin ini akan terdengar klise atau remeh temeh, tapi aku hanya sekadar berbagi apapun yang selama ini aku dapatkan, serta ingin mengulang kembali kepingan-kepingan ingatan di antara semua kejadian yang telah aku rasakan.

Angka 20 yang sekarang ini dirasa, jadi terdengar begitu lama jika dipikir-pikir ulang semenjak kali pertama aku bisa mengingat masa kecil. Tentu ketika masih balita, aku tidak bisa mengingat banyak, tetapi yang jelas aku masih mengingat di mana banyak sekali hal-hal acak yang terjadi di kepalaku. Mungkin kisaran usia 3-4 tahun, aku mempunyai ingatan di mana aku mulai diberikan kepercayaan untuk berjalan sendiri meski masih diberikan pengawasan oleh orang tuaku. Dan dari banyaknya kejadian, aku selalu mengingat momen di mana aku diberikan waktu untuk mengenal dunia luar bersama orang tua, waktu di mana hiruk pikuk keramaian kota masih terasa menyenangkan.

Aku masih mempunyai ingatan ketika aku masih bisa menangis ketika akan didaftarkan di sekolah TK. Menjadi manusia pendiam ketika memasuki jenjang sekolah dasar, dan meraih prestasi dengan ranking pertama selama berturut-turut hingga ke kelas tiga. Sisanya, aku bertransisi menjadi orang yang lebih mengeksplorasi banyak hal, bermain bola ketika sore di lapangan dekat rumah, bermain layang-layang, gasing, yoyo, kartu gambar, dan banyak hal lainnya. Dulu juga aku tidak diperbolehkan keluar malam, dan batas aku bermain di luar hanya boleh sampai jam 6 sore. Lewat dari itu, sudah dipastikan pintu rumah akan dikunci dan aku tidak bisa masuk hingga menjelang adzan maghrib tiba. Dan pastinya aku pernah mengalami hal itu, aku bermain kelewat batas hingga adzan maghrib hampir tiba, begitu sampai di rumah, pintunya sudah terkunci dan aku tidak bisa masuk ke dalam hingga orang tuaku selesai sholat maghrib. Pengalaman yang cukup mengesankan.

Aku juga masih memiliki ingatan di masa-masa SMP, masa di mana kenakalanku mulai terbentuk, dari yang dulunya tidak boleh keluar malam, akhirnya berani keluar malam, membawa motor sendiri walau belum punya SIM. Pada masa SMP juga aku pertama kali memberanikan diri untuk pergi liburan bersama teman-temanku, dan pengalaman paling mengesankan dulu adalah ketika seorang bocah yang cukup ingusan ini, nekat mendaki sebuah bukit, walaupun tidak terlalu tinggi, tapi aku merasa alam membentuk manusia yang memberanikan diri untuk bersahabat dengannya, sampai pada suatu momen aku harus meninggalkan salah satu yang menjadi hobiku itu. Pada masa SMP juga aku mulai berpacaran, berkali-kali ganti pacar, bahkan sampai ada yang sekaligus punya dua pasangan berbeda tanpa diketahui, malam mingguannya di siring, makan jagung bakar, pegangan tangan, jalan berdua, sesuatu yang benar-benar sederhana kala itu. 

Beranjak menuju SMA, adalah awal pembentukan karakter diriku, masih tetap nakal, sedikit, tapi dari yang dulunya cukup liar, kini menjadi lebih terkontrol, dan berusaha untuk tidak melampaui batas. Sejak SMA juga aku mulai jatuh cinta pada buku, aku suka membaca, aku suka riset, membaca buku-buku filsafat, mulai menulis, dan mempunyai karya buku pertama di awal usia 17 tahun. Tapi tidak berhenti di sana, aku terus mengembangkan diri dengan perjalanan-perjalanan hidup yang seperti itulah adanya. Sebuah pencapaian yang cukup hebat menurutku. Maka dari karena itu, aku juga ingin mengawali usia 20 tahun ini dengan hal-hal hebat. 

Dan hari ini, usiaku genap 20 tahun, dan aku masih menjadi seorang mahasiswa, menekuni keilmuan di bidang jurusan akidah dan filsafat islam. Dan tepat di hari ini, ada banyak hal yang harus mulai aku benahi. Aku ingin mengawali usia kepala dua ini dengan banyak mimpi, dengan banyak aksi, walaupun gagal adalah konsekuensi, maka aku harus menemukan kegagalan itu. Karena sejauh ini, aku hanya menciptakan rangkaian-rangkaian mimpi tersebut, maka aku harus menjemput banyak kegagalan itu terlebih dulu. Aku sangat percaya bahwa kesuksesan yang dialami oleh banyak orang, lahir dari banyak kegagalan yang diterimanya dengan sangat baik, kegagalan yang tidak mematahkan harapan untuk terus meraih impian.

Satu-satunya mimpi terbesarku ketika ingin mencapai usia dua puluh tahun adalah bisa menggapai seratus juta pertama, dan itu bukanlah sebuah keharusan, apalagi kewajiban. Karena setiap orang punya finansial yang berbeda-beda, dan itu bukanlah sebuah masalah. Ini hanyalah perihal impian yang tidak mesti terjadi, tapi cukup diamini. Mungkin di antara banyak orang akan banyak nyinyirnya, toh itu semua bukan hasil keringat sendiri, bukan hasil usaha dan perjuangan karena bekerja sendiri. Betul, itu sangat betul. Tapi kan ini perihal pengelolaan, ada kok orang di luar sana yang hidupnya persis seperti aku atau bahkan lebih, tapi enggak punya kesiapan finansial seperti aku. Dan bahkan sesekali aku juga pernah merasakan bagaimana susahnya perjuangan menghasilkan uang. Pada akhirnya, semua hanya perihal bagaimana kita bisa menghargai apa yang kita lakukan. Terlepas itu adil atau tidak di mata orang lain, setidaknya jalan yang kita tempuh tidak merugikan mereka. Semangat untuk tetap berjuang menjalani hari.

Lantas, apakah impian tersebut tidak aku usahakan? Begini, aku belajar mengelola keuangan dengan baik, walaupun itu masih diberi, toh pemberian itu kan adalah suatu kepercayaan untuk digunakan dengan baik. Setiap buku-buku yang aku beli, itu adalah hasil tabungan dari setiap uang-uang jajan yang diberikan kepadaku, aku tidak pernah meminta untuk dibelikan buku, aku hanya mengatur bagaimana aku bisa mengelola tanpa harus meminta. Cukup ketika diberikan, tanpa harus ada yang dilebih-lebihkan. Fun fact, di umur 16 tahun, aku pernah ikut seminar kewirausahaan, dan dari sana adalah awal aku mulai mengenal yang namanya investasi. Bahwa ada loh cara kita untuk bisa memperkerjakan duit kita, dan hasil-hasil return investasi itu cukup menjanjikan.

Sebelum mengenal instrumen investasi lebih jauh, aku juga sempat bertemu dengan seorang mentor yang membantuku untuk belajar membaca laporan keuangan perusahaan, cara membeli saham, dan mengelola aset-aset dari saham yang kita miliki agar tidak boncos dan rugi. Karena semuanya butuh ilmu, investasi tanpa ilmu, yang ada hanya menghabiskan uang karena kebodohan. Makanya sebelum berinvestasi aset, investasi dulu leher ke atasnya.

For your information juga, masuk di dunia investasi itu terbilang keputusan yang cukup berani bagiku di saat belum sepenuhnya berpenghasilan sendiri, tabungan-tabunganku yang ada itu hampir 90% aku alokasikan ke perusahaan-perusahaan BUMN dengan underlaying berupa surat berharga kepemilikan saham.

Dan beberapa waktu lalu, aku sempat memindahkan dana investasi dari satu sekuritas ke sekuritas lainnya. Karena awalnya dulu aku mempunyai dua instrumen investasi yang sekuritasnya berbeda, reksadana di bibit, saham di ajaib. Tapi kini aku mau menggabungkan keduanya di satu sekuritas yang sama, agar lebih mudah dan tidak memakan banyak ruang untuk aplikasi. Tentu saja aku kaget dengan hasil reksadana yang terkumpul itu, di atas 60 juta. Karena jujur saja, aku hampir tidak pernah mengecek hasil reksadana ini, aku hanya rutin menabungkan uangku untuk menambahkan nilainya, sampai akhirnya terkumpul sebanyak itu.

Tapi kembali lagi, itu memang bukan sepenuhnya hak milikku, orang tuaku memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengelola sebagian dari rekeningnya untuk aku tempatkan di reksadana, dan aku diberikan hak untuk mengklaimnya sebagai kepunyaanku, selama itu tidak dipakai dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Karena memang konsepnya mau berinvestasi untuk jangka panjang, makanya aku diberikan kepercayaan untuk menggunakannya sebagai penambah nilai investasi.

Itu hanya satu hal, terkait apa yang harus aku benahi dari hari ini, ada banyak hal yang harusnya bisa aku ceritakan. Namun, aku memilahnya untuk sebuah kepantasan. Aku bukan seseorang yang begitu pintar atau pun cerdas. Aku hanya seorang mahasiswa pemalas di jurusan aqidah dan filsafat islam yang kebetulan suka membaca buku, suka belajar, suka dan suka mengenai banyak hal baru. Tapi itu semua bukan jaminan kecerdasan, bukan? Aku hanya menyukainya, terlepas dari aku mengetahui hal tersebut, masih ada banyak hal yang tidak aku kuasai di dalamnya.

Realitas-realitas hidup yang aku jalani pun demikian, tidak semua hal yang aku tahu harus bisa aku kuasai. Aku hanya mengetahui sebagai sebuah tanda atau pun fenomena, bukan karena ingin menguasainya, karena, toh apapun yang ada di dalam dunia ini, kita akan terlalu kerdil jika begitu egois untuk menjadi salah satu orang yang bersikeras untuk menguasainya.

Dan aku, di sini, di dunia ini, ingin hidup dengan proses yang terus menerus aku jalani. Aku ingin membentuk nilai yang tidak bisa ditentukan oleh orang lain, aku hanya ingin membentuk nilai itu dengan diriku sendiri hingga kemudian orang lain menghargai nilai tersebut.

Dan salah satu hal yang ingin aku coba adalah, memulai bisnis. Aku bertekad kepada diriku sendiri untuk lebih mawas lagi soal impian-impian itu, oleh karenanya sejak hari ini, konsep-konsep mengenai bisnis itu sudah aku rancang, meskipun belum sepenuhnya matang. Tapi aku tahu, yang harus aku lakukan adalah memulainya, agar aku tahu apa saja kesalahan-kesalahan yang harus aku benahi dari semua awalan ini.

Bukan tanpa alasan mengapa aku menempatkan semua aset-asetku di investasi dan reksadana, bukan tanpa alasan aku belajar persoalan tentang ekonomi, atau pun sebagainya. Aku ingin menjalankan apa yang tidak semua orang bisa dan berani untuk melakukannya. Aku ingin melawan itu, menerjang semua kesulitan itu. Karena aku yakin, kegagalan yang aku bentuk nantinya, adalah kumpulan-kumpulan dari kepingan hikmah yang aku dapatkan. Terlepas dari akhir segalanya nanti akan berhasil atau tidak, itu hanyalah tentang cara kita bagaimana bisa menerimanya dengan hati yang berlapang dada.

Maka, di usiaku yang genap 20 tahun sekarang ini, semua mimpi-mimpi besarku, perlahan akan terus aku hidupkan. Meski jelas, sejak umur 17 tahun saja aku telah memulai hal-hal kecil mengenai impian tersebut. Dan bagiku, untuk membagikan hasilnya di saat sekarang, setelah waktu berjalan 3 tahun lamanya dari kemarin, masih bukan waktu yang tepat untuk mengklaimnya.

Gerusan-gerusan ideologi yang sampai saat ini aku bentuk, membuatku berhasil memandang sinis terhadap masa lalu. Namun, justru memang masa lalu yang kita dalami ke diri kita sendirilah, yang akhirnya membuat kita lebih cepat berkembang. Maka dari karena itu, seberkas catatan acak yang aku tulis ini, kelak akan menjadikan itu sebagai mozaik-mozaik atas jawaban hidup yang siapa tahu nantinya akan kita perlukan. Toh, apapun yang kita cari dari hidup ini, berasal dari dalam diri kita sendiri, maka untuk menemukannya, kembalilah kepada diri sendiri. Dari aku, yang menulis untuk diriku sendiri.
Share: