Kamis, 16 Maret 2023

Membedah statement agama adalah sebuah dongeng dari perspektif filsafat

Sebelumnya, disclaimer dulu nih, ini persepsi pribadi yang basicnya nggak terlalu pintar-pintar amat dan hanya bermodal nekat, walaupun secara kebetulan saya sedang menempuh studi jurusan tersebut. Hitung-hitung evaluasi materi lah, toh ini platform saya sendiri wkwk, jadi enggak usah berharap akan menemukan jawabannya, tapi kalau mau menambah khazanah sudut pandang pemikiran, dipersilahkan.

Awalnya saya menemukan sebuah utas di Twitter yang menanyakan bahwa "Mengapa ibadah menyembah Tuhan butuh izin kepada manusia?" Sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu mengenai konteks pertanyaan tersebut, intinya saya hanya menangkap itu sebagai pertanyaan yang lurus-lurus aja, toh memang setiap pertanyaan itu tidak ada yang salah. Hanya jawabannya aja yang beragam, telepas dari benar atau salah nantinya, itu hanyalah sebuah persepsi.
Yaaa gimana yak, argumentasi se ekstrim itu kadang dibuatnya nggak asal-asalan, tentu ada yang melatarbelakangi hal tersebut sehingga memicu argumentasi tadi. Pertanyaannya, apakah itu benar atau salah? Poinnya sih bukan ada di benar atau salahnya ya, bukan juga soal adanya kesenjangan konteks di antara si penanya dan penanggap, tapi lebih ke perspektif apa yang harusnya ada di kepala kita ketika mengetahui hal itu.

Kapasitas kita untuk menganggap bahwa agama adalah bikinan manusia ini harus punya titik berangkat yang jelas dulu, justifikasi sesudahnya akan menentukan bagaimana nantinya. Misal, kita menganggap bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, tetapi titik berangkat kita menganggap bahwa Tuhan dengan segala Rahman Rahim-Nya menciptakan manusia untuk menyembah diri-Nya sebagaimana yang termaktub di dalam QS Adz dzariyat ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." 

Nah, poin dari statement itu turunnya dari Alquran, Alquran kan kitab sucinya umat islam yak, jadi gimana tuh? Apa masih bisa kita menganggap bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia? Tapi di Al-Qur'an juga dijelaskan bahwasanya nanti akan ada suatu kaum yang menganggap bahwa agama ini hanyalah sebuah dongeng. 

Tapi sebelum lanjut lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui sejarah agama terlebih dahulu supaya memperjelas perspektif kita nantinya, yang pertama agama dalam konteks barat, jadi dalam konteks barat agama itu dipandang sebagai musuh dari kemajuan. Di awal abad modern, agama itu jadi suatu penghambat karena para tokoh gerejalah yang menentang para ilmuwan. Namun, di awal abad ke 19 Karl Marx mengatakan bahwa agama itu adalah candu, karena agama dibuat sebagai opium atau sarana ketenangan bagi orang yang menderita. Itulah yang kemudian mendorong Marx mendirikan proletar untuk menentang orang kapitalis dan orang yang tertindas, yakni karena agama. Namun, Marx sendiri juga pernah menganggap bahwa sebenarnya Tuhan itu hanyalah ciptaan manusia dan agama adalah proyeksi buatan manusia. Di sinilah teori kiri yang kemudian banyak diadopsi oleh pengikut setelah Marx. Ketika negara komunis pertama berdiri di rusia yang ditandai dengan agama yang tidak boleh beroperasi.

Adapun agama dalam perspektif filsafat Islam, yang perlu kita ketahui sebelumnya bahwa pada prinsipnya filsafat Islam itu adalah gabungan antara tradisi yang ada di luar Islam, dengan tradisi yang ada di dalam Islam itu sendiri. Tradisi yang ada di luar Islam itu adalah tradisi pemikiran Yunani, sedangkan tradisi yang ada di dalam Islam adalah isi yang terkait dengan persoalan-persoalan teologi atau keyakinan yang ada dalam konteks Islam. Sehingga ada relasi yang bersifat timbal balik antara akal dan wahyu dalam filsafat Islam. 

Di satu sisi filsafat Islam itu lahir dari tradisi pemikiran, di sisi lain pemikiran itu digunakan dalam rangka untuk mengulas atau menguraikan lebih jauh doktrin-doktrin atau ajaran-ajaran tentang teologi-teologi Islam, sehingga kemudian bisa dikatakan sebetulnya filsafat Islam ini adalah filsafat yang merepresentasikan relasi antara akal dan wahyu dalam Islam. Persoalan filsafat yang ada di dalam Islam ini sebetulnya hadir dalam rangka merespon persoalan-persoalan teologi yang muncul dalam persoalan akidah dahulu.

Dari kedua perspektif tersebut, jelas bahwa ada perbedaan yang sangat besar, tetapi keduanya benar dalam ranah ilmu pengetahuan. Bahwa agama menjadi penghambat, itu benar, dan fakta, tetapi dalam versi barat. Namun, dalam Islam sendiri, agama menjadi salah satu alat dalam merepresentasikan apa yang kita yakini, dan itu jelas dibahas dalam persoalan filsafat terutama dalam ranah teologi.

Sebenarnya, mau bagaimana pun kita menganggap bahwa agama itu adalah dongeng bikinan manusia, titik berangkat pemahaman kita (bagi orang yang mengaplikasikan pemikirannya) tetap jatuh kepada agama dengan argumentasi yang mendasari ritual-ritual peribadatan kita. Sebagaimana kita menganggap bahwa Tuhan adalah tujuan dari perjalanan hati kita, dan titik berangkat pemikiran kita tidak bisa mendustakan adanya agama yang mendasari perjalanan batin seseorang. Jadi, gimana? Sudah jelas salah dong harusnya orang yang mengatakan bahwa agama ini adalah dongeng bikinan manusia? Tentunya ini terlalu cozy untuk menjustifikasi benar salah.

Lantas, apasih ujungnya dari argumentasi orang itu tadi? Kan jawabannya sesederhana apakah argumentasi orang itu salah atau benar menurut pandangan agama, kan?  Atau paling nggak ini orang terjadi mispersepsi, yang satu nanya apa, satu jawabnya apa, gitu kan, yak? Mungkin bisa kali kita coba permisalkan kalau kita menolak bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, dengan mengutip sebuah ayat Alquran di surat Al mutaffifin yang menyatakan bahwa apabila dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang yang melampaui batas, maka mereka akan menganggap bahwa ayat Alqur'an tersebut hanyalah sebuah dongeng orang zaman dahulu.

Nah, dari situ mungkin kelihatan jelas ya poinnya, bahwa ketika ada orang yang menganggap agama ini adalah dongeng atau bikinan manusia, maka itu adalah orang yang melampaui batas seperti yang dimaksud dari ayat Alqur'an tadi. Namun, kalau kita telaah kembali dari statementnya yang lebih panjang lagi, ada sebuah poinnya yang mengatakan bahwa agama bisa bikin ini itu dll, termasuk memecah belah umat manusia. 
Benar, bisa jadi dalam hal ini agama diperalat oleh manusia demi kepentingan pribadinya, karena atas nama agama, manusia bisa bertindak semaunya, tentu saja dengan menjual agama sebagai tameng utamanya.
Lantas, siapa yang sebenarnya melampaui batas? Dia yang mengatakan agama hanyalah dongeng, atau sebenarnya malah kita yang melampaui batas karena mengeksploitasi perilaku kita atas nama agama? Kalau katanya Habib Husein Ja'far Al Hadar, utamanya kita mendidik orang lain itu agar dia bisa menjadi manusia, masalah agamanya apapun itu urusan pribadi dia. Karena orang mau didoktrinasi agama bagaimana pun, kalau rasa kemanusiaannya belum benar, maka dia akan menjadikan agama sebagai alat untuk melestarikan ego kebinatangannya.

Lalu, bagaimana sejatinya menyikapi statement agama adalah dongeng bikinan manusia ini? Karena, dipikir-pikir ada benarnya juga. Konteksnya bisa jadi sedang menyiratkan kepada orang-orang yang memperalat agama sebagai kepentingan pribadi, atau suatu kelompok. Sehingga dari pernyataan bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, adalah agama yang digunakan oleh sekelompok orang-orang tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Toh, kalau memang kita benar-benar menjadi orang yang beragama yang kita bangun adalah spritualitas kita kepada agama yang kita peluk dengan asas rahmatan lil alamin ini, yakni rahmat bagi semesta alam. Bukan tugas yang mudah untuk merepresentasikan rahmatan lil alamin ke dalam diri kita, karena itu berkaitan erat dengan spiritualitas kita yang hablumminallah dan hablumminannas. Hubungan vertikal kepada Tuhan, dan hubungan horizontal kepada manusia.

Seharusnya masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita bangun dari statement tersebut, karena dari pertanyaan itu kita akan terus menggali serta sekaligus mengkritisi statement itu dengan landasan ilmu pengetahuan. Namun, sebagai penutup, intinya adalah, seradikal apapun pertanyaan atau pun pernyataan, tanggapilah dengan sekritis mungkin. Kita ini diistimewakan oleh Tuhan karena dianugerahi akal sehat, maka gunakanlah akal tersebut sebaik mungkin. Kita jangan hanya terbatas pada benar atau salah, tetapi melangkah lebih jauh lagi kepada sebab-sebab yang memicu lahirnya persoalan tersebut, sehingga kita dapat mengidentifikasi permasalahan tersebut secara filosofis. Karena di dalam ilmu mantiq, kalau kita mau berpikir maka kita harus menghadapi masalah dan mengidentifikasi jenis masalah, baru nantinya kita bisa menguraikan permasalahan tersebut dengan logis dan sistematis.
Share: