Baru saja aku merebahkan diri di kamar usai pulang dari sebuah kedai kopi, tiba-tiba suasana sekitar mendadak hening, sehening-heningnya. Tentu saja aku berada di kamar. Namun, tanpa ada suara detak jam dinding, tidak ada suara deru AC musabab dingin hujan yang menyelimuti, tidak ada suara bising knalpot kendaraan dari kejauhan, tidak ada suara bising laptop yang menyala, tidak ada suara katak yang biasanya akan berisik ketika hujan sudah reda, pun juga tidak ada kicauan binatang-binatang malam yang biasanya menembus telinga. Hanya ada sunyi yang entah kapan terakhir kali aku nikmati sedalam ini.
Suasana seperti ini muncul secara tiba-tiba, dan entah kenapa aku lebih memilih untuk merebahkan diri dan mulai membuka hp, tahu-tahu keadaan sudah sesunyi ini. Biasanya, ketika baru pulang dari luar, aku pasti bergegas untuk menyalakan laptop dan dimulailah semua deru bising kipas-kipas external yang cukup berisik. Sunyi yang mendadak aku rasakan seperti ini membuat kepalaku juga tiba-tiba dipenuhi oleh keramaian. Esensi kesunyian yang meramaikan isi kepala seperti ini akan membentuk sebuah enigma yang mengguncang amigdala.
Ada jeda sejenak usai aku menulis dua paragraf di atas, dan 20 menit berlalu dengan isi kepala yang hilir mudik minta dimuntahkan. Mungkin agar tetap berkaitan, aku ingin mengungkit kesunyian sebagai sebuah jalan, entah itu untuk menggapai tenang, atau justru membuat diri gelagapan.
Waktu kecil, aku benci ketika barus tiba-tiba terbangun di tengah malam, karena kesunyian membuatku benar-benar sukses merasa ketakutan dan akhirnya aku kesulitan untuk mengembalikan tidur. Tidak jarang aku akan memanggil orang tuaku untuk minta ditemani ke toilet, agar setelahnya aku bisa memastikan bahwa orang tuaku juga ikut bangun bersamaku dan kembali mencoba untuk tidur kembali seperti yang aku usahakan saat itu.
Namun, sunyi yang aku benci ketika kecil dulu, adalah sunyi yang kerap kali akrab kutemui ketika gundah menghampiri. Rentang waktu yang menumbuhkan usia mengubah amigdala tentang sunyi yang menimbulkan sebuah enigma. Lagi-lagi menjadi paradigma, bagaimana sesungguhnya kesunyian itu terasa?
Kesunyian dipolarisasi dalam sebuah persepsi, sedangkan situasi hanyalah peran bagi kesunyian, dan kesunyian yang tadinya menjadi persepsi, adalah sebuah ruang hampa dalam hidup seseorang yang kerap kali dirundung sepi.
Poros waktu membentuk kerangka berpikir yang dinamis, segala bentuk perlawanan bagi diri yang kerap merasa kesepian, ialah dengan menciptakan keramaian di dalam kepala dengan merelakan banyak kecewa untuk larut, hingga kita tahu akhirnya bahwa yang kerap kali membuat kita kesepian, adalah rasa bersalah yang kita peluk dengan kekecewaan. Maka, hiduplah dengan rasa kepercayaan diri yang utuh tanpa harus membuat seisi jiwa menjadi rapuh, dan biarkan kesunyian masuk untuk membuka lebar pintu-pintu jawaban yang perlahan kita rajut.
Pukul 00:35, perlahan-lahan suara bising dari deru knalpot kendaraan mulai terdengar, sesekali suara decit cicak yang berdecit ikut terdengar, dan situasi mendadak kembali normal ketika di depan rumahku terdengar suara motor yang berhenti tetapi dengan kondisi mesin yang masih menyala diiringi oleh obrolan singkat. Setelahnya, aku beranjak dari tempat tidur dan mulai menciptakan sedikit kebisingan dengan menyalakan pendingin ruangan dan laptop untuk kembali bermain.
Sekian, catatan tidak penting ini ditulis guna gabut musabab sunyi yang tiba-tiba muncul.