Sebagai seseorang yang selalu terpukau dengan garapan karya-karyanya Makoto Shinkai, Suzume No Tojimari adalah salah satu film yang tidak mungkin bisa saya lewatkan. Film ini bercerita tentang tokoh Suzume yang memiliki trauma masa lalu karena bencana alam yang membuat dia kehilangan ibunya. Ketika dia sudah berumur remaja dan bersekolah SMA, dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Soutta yang menanyakan kepada Suzume tentang sebuah tempat yang pernah dilanda bencana tsunami sebelumnya, dan pemuda itu mengatakan bahwa dia sedang mencari sebuah pintu.
Rasa penasaran yang ada pada Suzume itu akhirnya membuat dia menghampiri tempat yang dia sebutkan pada pemuda itu, dan Suzume memang menemukan sebuah pintu di sana. Ketika Suzume mendekati pintu tersebut dan membukanya, dia bisa melihat sesuatu yang sangat indah di balik pintu tersebut, dan disebutkan pada film itu dengan nama "ever after". Namun, Suzume tidak bisa masuk ke dalamnya ketika ia mencoba memasukinya dari pintu tersebut.
Membahas mengenai ever after yang dilihat oleh Suzume dari balik pintu, itu seperti membuka alam bawah sadar dia atas ingatan-ingatan yang pernah dilewatinya, karena seperti yang dijelaskan oleh Soutta bahwa ever after adalah tempat untuk orang yang sudah tidak ada di dunia, dan Suzume melihat keindahan yang disebut dengan ever after itu ketika ia sering bermimpi saat tidur. Melihat keindahan seperti yang ada pada mimpinya secara nyata dari balik sebuah pintu, justru membuka rasa trauma masa lalu Suzume ketika dia kehilangan ibunya saat sebuah tsunami melanda kampung halamannya. Karena rasa trauma tersebut, membuat dia kehilangan ingatan kenapa ibunya meninggalkannya.
Di pertengahan film, Soutta terjebak di dalam ever after, dan Suzume terobsesi untuk menyelamatkan Soutta. Menariknya, ketika awalnya Suzume tidak bisa memasuki ever after walaupun dia bisa melihat keindahan ever after tersebut dari balik sebuah pintu yang tempatnya pernah dilanda gempa bumi, pada akhirnya dia bisa memasuki ever after tersebut ketika dia menghampiri kampung halamannya yang dulu pernah dilanda gempa bumi. Hal ini disebabkan karena Suzume terobsesi ingin menyelamatkan Soutta dan mencoba untuk berdamai dengan kenyataan pahit di masa lalunya ketika kehilangan ibunya. Di kampung halamannya tersebut, Suzume menemukan sebuah buku diary miliknya di mana ia pernah terus bercerita tentang hari-harinya dalam buku diary tersebut, dan sebelum gempa bumi itu melanda kampung halamannya, Suzume menggambar sebuah pintu, lalu dia mengingat pintu itu yang berada di dekat rumahnya. Melalui pintu itulah Suzume bisa memasuki ever after dan menyelematkan Soutta.
Ketika Suzume berhasil memasuki ever after, dan berhasil menyelamatkan Soutta, Suzume sempat bertemu dengan seorang gadis yang masih kecil dan ternyata itu adalah dirinya sendiri, yang bertanya-tanya ke mana ibunya pergi, dan gadis kecil itu juga sekaligus mencari-cari keberadaan ibunya. Suzume remaja bisa berkomunikasi dengan Suzume masa kecil di dalam ever after secara nyata. Namun, mengapa Suzume bisa berada di dalam ever after? Karena dia membawa trauma masa lalunya yang membuat dia bisa meraih ever after tersebut.
Suzume remaja memberikan motivasi kepada Suzume kecil bahwa meskipun hidup itu berat tetapi dia harus tetap menjadi orang yang kuat. Hal itu dikatakan oleh Suzume sesaat sebelum dia keluar dari ever after dan menutup pintunya yang sekaligus juga menutup pintu trauma di dalam dirinya, hingga akhirnya Suzume berdamai atas rasa kehilangannya terhadap ibunya.
Secara keseluruhan, yang tidak boleh luput untuk dibanggakan dari film ini adalah visualnya, Makoto Shinkai tidak pernah gagal dalam memoles setiap detail-detail tiap scene yang ditayangkan menjadi gambar yang begitu memukau. Secara alur cerita, memang terasa lumayan tergesa-gesa, mengingat setiap kejadian yang dilalui oleh Suzume terutama ketika dia bertemu oleh laki-laki bernama Soutta, ini digambarkan dengan sangat tiba-tiba, begitu pula ketika Suzume yang tiba-tiba terobsesi untuk membantu Soutta. Namun, film ini tetap mengesankan, pengemasannya masih tidak kalah epik dari film-film anime Makoto Shinkai sebelumnya, tetapi kalau menurut saya pribadi, Suzume No Tojimari masih belum bisa menggeser posisi Kimi No Nawa secara keseluruhan isinya.