Apa saja yang kita miliki dari dalam kita sendiri, adalah keluasan anugerah Tuhan dalam mengiradatkan bagian dari sifat Tuhan itu sendiri. Konteks ini berlaku pada sebuah pengenalan diri bagi seseorang yang benar-benar ingin mengenali tentang dirinya. Namun sejatinya tidak ada yang pernah benar-benar ia pahami tentang dirinya tanpa menggunakan bantuan orang lain, meskipun ia sudah teramat cinta akan apa yang sampai saat ini ada dalam dirinya. Karena sejatinya orang lain itu masih menjadi bagian dari fitrah Tuhan dalam memperkerjakan logika untuk menemukannya pada sebuah makna.
Misalnya, saat seseorang begitu ingin mengenali apapun yang ada dalam dirinya, maka ada sebuah usaha yang menuju pada sebuah pencapaian tentang keberhasilannya dalam mengenali dirinya sendiri. Namun, di balik kenalnya ia dengan dirinya, masih ada hal lain yang tidak ia kenali pada dirinya.
Sesuatu yang sebenarnya kita kenali dari dalam diri kita sendiri mempunyai jangkauan yang tak terbatas, semua tentang eksploitasi langkah dan sebuah pahaman akan terus bertambah, tanpa sedikit pun mengurangi dari apa yang sebelumnya telah kita dapatkan.
Berhenti katakan bahwa setiap kita mempunyai kemampuan yang terbatas, dalam banyak konteks mungkin adalah kesabaran. Padahal lebih jauh dari itu, apapun yang mampu kita pahami dan kenali, semua tidak akan pernah bisa untuk dibatasi. Termasuk waktu dalam menapaktilasi usia yang sejatinya tidak pernah berhenti berdetak dalam kehidupan kita.