Sejatinya pencitraan tentang toleransi hanya menjadi sandaran bagi banyak idealisme yang begitu egois untuk dimenangkan dari keinginannya, tetapi dengan tutur kata yang mengasumsikan toleransi tentunya. Semua yang diprasangkai oleh hal-hal positif sering kali diterima dengan asumsi yang asumtif, seolah-olah citra sebuah perspektif hanyalah tentang kebaikan.
Nyatanya, keburukan juga ingin menempati kebaikan dengan diterimanya keburukan itu sendiri pada ranah kebaikan, hanya saja cara kebanyakan orang menganalisis hal-hal seperti ini menjadi sebuah ironi paling negatif.