Kamis, 18 Januari 2024

Denyut waktu dalam temu yang penuhi rasa rindu

Malam semakin menguarkan keheningan seiring sunyi yang memadati sekitar. Laju mobil yang tengah aku kendarai terus membelah jalanan Banjarbaru yang sepi dari pengendara. Karena lupa waktu, aku terlambat mengantarkannya pulang ke rumah. Pertemuan itu terus terjadi secara tiba-tiba, inginmu selalu aku penuhi dengan penuh rela. 

Aku mulai memelankan laju mobil dan mengarah masuk ke dalam McD yang masih buka 24 jam. Aku menjalankan mobil menuju ke arah Drive thru yang hanya berisi antrian satu mobil.

"Lo mau pesan sesuatu, nggak?" ucapku lirih di sela-sela tidurnya, tanganku perlahan mengusap wajahnya yang telah tidur sepanjang perjalanan tadi.

"Emang kita di mana?" sahutnya kemudian setelah berulang kali mengerjapkan matanya yang baru saja terbangun dari tidur. Dia kemudian melihat ke sekeliling seiring dengan aku yang mulai kembali memajukan mobil dari antrian.

"Aku mau ice cream aja deh ya," ucapnya yang kini mulai menguncir rambutnya yang tergerai berantakan sehabis tidur.

Aku mengangguk mengiakan. Begitu tiba giliranku, aku memesan satu chicken burger beserta Coca cola, dan tidak lupa memesan satu ice creamnya. Begitu pesananku tiba, aku mencari lokasi parkir yang saat itu sangat sepi. Aku memarkirkan mobil di sana.

"Kamu mau makan di sini aja?" tanyanya yang mulai melahap ice creamnya sedikit demi sedikit. 

Aku hanya menganggukkan kepala, lalu bergegas menghabiskan burger yang sudah kupesan tadi. Alunan musik mengalun dari dalam mobil, sejuk dingin AC yang masih menyala terus menerpa tubuh. Setelah selesai menghabiskan burger, aku ingin beranjak dari dalam mobil. 

Baru saja aku mau membuka pintu mobil. "Kamu mau ke mana?" tanyanya lirih. Aku hanya melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali melanjutkan keluar dari mobil. 

Aku duduk di kap depan mobil seraya mengeluarkan bungkus rokok dari kantong celana dan mengeluarkan satu batang dari dalamnya, kemudian aku menyalakan rokok tersebut dan menghisapnya dalam-dalam. Asap mulai mengepul ke atas, ingatanku berputar pada beberapa jam yang lalu. 

Tidak lama kemudian, suara pintu mobil terdengar dibuka, kemudian tertutup kembali. Ada langkah kaki yang mendekat ke arahku, hingga tepat berada di sebelahku. Pandanganku beralih sempurna mengarah kepadanya yang tengah asyik melahap ice cream yang sudah tersisa setengah, wajah cantiknya kembali berseri, bibirnya terlihat sedikit belepotan bekas sisa-sisa ice cream yang tertinggal di sana. Lama sekali aku mengamati tiap inci wajahnya, walaupun ia sama sekali tidak membalas tatapanku. 

Dalam sepersekian detik, aku langsung mengecup bibirnya. Seketika itu pula tubuhnya langsung mematung, ice cream yang tadi tengah ia lahap, kini hanya ia diamkan.

"Kenapa lo?" tanyaku seraya kembali menghisap rokok yang sudah setengah terbakar.

"Pake nanya lagi, harusnya gue yang nanya begitu. Kenapa lo?" sahutnya ketus seraya mencubit perutku dengan serius hingga aku benar-benar merasa kesakitan.

"Gue cuma mau minta ice cream," jawabku seraya terkekeh pelan. 

"Bukan di situ dong," tukasnya lagi yang kini mulai menunjukkan ekspresi salah tingkahnya. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya menghabiskan ice cream terakhirnya. 

"Kalau salting gini, lo lucu, tau, nggak." Ucapku seraya mengacak-acak rambut di puncak kepalanya. 

"Tau, kok. Lucu, gemesin, cantik pula." Pungkasnya seraya merebahkan kepala di bahu kiriku.

"Sialan, iya lagi." Sahutku sambil terkekeh.

Lama kami berdiam diri di atas kap mobil dengan mesin yang masih menyala, membuat hangat di sekitar tempat kami bersandar. "Gimana, lo bahagia hari ini?" tanyaku tiba-tiba memecah keheningan tempat ia menikmati kenyamanan.

"Banget, dan makasih udah bersedia nemenin gue." 

"Sure.


***


Beberapa saat menikmati keheningan malam di tengah parkiran yang terasa lengang, aku akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Baru beberapa ratus meter aku melajukan mobil setelah keluar dari parkiran, rasa kantuk mulai meliputi diriku yang tengah berusaha fokus menyetir. 

"Gantian gih nyetirnya, biar lo bisa tidur bentaran." Ucapannya di sampingku tiba-tiba memecah rasa kantuk. 

Tidak seperti biasanya, aku yang terbiasa begadang malah tiba-tiba merasa mengantuk. Penyakitku ketika nyetir mobil ya memang akan selalu mengantuk karena posisi duduknya yang terlalu nyaman ketimbang bawa motor, apalagi situasinya sudah tengah malam begini.

Awalnya aku menolak, tapi karena mataku sudah benar-benar berat, aku akhirnya mengiakan. Aku melipirkan mobil ke tepi jalan, lalu bertukar posisi duduk. Setelah merebahkan diri di kursi penumpang, dengan gegas aku memejamkan mata. Mungkin belum ada 50 meter mobil melaju, aku sudah larut dalam lelap.

Mendadak aku terbangun ketika ada yang menepuk-nepuk pipiku. Dengan kepala yang masih terasa berat, aku berusaha mengerjapkan mata. "Sayang, bangun," lirihnya yang masih berada di kursi kemudi, tetapi anehnya dia sudah berganti dengan setelan baju tidurnya.

Aku menatap ke sekitar, mobilnya sudah terparkir rapi di garasi. Sementara aku baru terbangun dari tidur. Reflek aku melirik ke arloji yang sudah menunjukkan hampir pukul satu pagi. 

"Hah, kok udah jam segini? Berapa lama aku tidur di sini?" Tukasku seraya mengucek-ngucek mata sambil mengumpulkan kesadaran.

"Nggak nyampe setengah jam, barusan tadi aku ke atas buat ganti baju, terus balik lagi ke sini buat bangunin kamu. Kalau masih ngantuk tidur dulu aja di dalam," ungkapnya.

"Nggak usah, aku langsung balik aja, nggak enak sama orang rumah. Aku mau nyuci muka dulu deh ya, sebelum jalan balik." Ucapku seraya keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk mencuci muka.

Selesai mencuci muka, akhirnya aku kembali merasa segar, tidur sejenak barusan berhasil mengembalikan energiku kembali. Dengan gegas aku berpamitan padanya untuk kembali pulang ke rumah. 

"Hati-hati ya di jalan, maaf merepotkan, kabarin kalau sudah sampai rumah." ucapnya dari depan pintu rumah. Aku mengangguk tersenyum, kemudian langsung menaiki motorku dan melajukannya untuk kembali pulang.

Di tengah perjalanan pulang, aku sempat singgah sebentar ke Indomaret yang terdapat stand Coffe Point. Aku memesan satu long black Americano dan menikmatinya sejenak di tengah hening malam yang semakin sunyi. Sembari mulutku mengepulkan asap-asap dari rokok yang baru saja aku sesap, hatiku dipenuhi oleh rasa lega dengan segenap pemaknaannya.

Mungkin waktu-waktu yang kita habiskan itu, masih tidak akan cukup menuntaskan apa yang ada di tengah-tengah pertemuan. Perasaan ingin memenuhi, akan selalu menjadi dalang utama kenapa kita selalu mencari-cari alasan untuk tetap bersama, tetapi bukan itu tujuannya. Bertahan atas diri yang sudah cukup tegar menerima bentuk waktu yang dipenuhi beragam kejadian, kiranya cukup menjadi alasan dalam menumbuhkan harapan, dari jarak yang utamanya memenuhi peran. Harap yang selalu dijaga dan dipelihara dengan penuh rasa cukup untuk tidak berlebihan dari setiap pilihan yang kita lakukan.

Share: