Senin, 09 Januari 2023

Mau tahun baru bagaimana pun, semua hari sama saja

Hallo, apa kabar aku? Bagaimana rasanya menulis setelah sekian lama tidak lagi konsisten dan disukai, meski sesekali masih tetap menulis alakadarnya? Tentu saja aku merasakan ada banyak kebingungan, ragam kosa kata yang melimpah ruah di kepala, seketika hilang begitu saja. Namun, inilah aku, yang kembali menulis dengan tiba-tiba.


By the way, 2022 baru saja berakhir beberapa hari terakhir, dan semenjak tulisan ini saya buat dan diposting di blog ini, 2023 sudah berlalu mungkin seminggu atau bisa jadi lebih. Faktor utama yang membuat saya ingin menulis lagi dan memuat tulisan di blog ini (walaupun memang tidak ada yang membaca) saya cuma ingin membagikan momentum akhir tahun yang saya jalani, tentunya dengan idealisme yang nggak lurus-lurus kayak kebanyakan orang pada umumnya, ya.


Tepat pada sore di penghujung tahun 2022, saya menghampiri salah satu pusat keramaian yang ada di kota Banjarbaru. Ya, lagi-lagi saya selalu menjadikan tempat tersebut sebagai opsi ketika saya ingin mencari euforia yang berbeda dari tempat tinggal saya di Banjarmasin. Seperti biasa, saya menelusuri sekitaran lapangan Murjani yang sepertinya semenjak pasar wadai ramadhan kemarin tidak banyak perubahan, semua tempat perbelanjaan dan wahana permainan tetap ada, meski sedikit ada perubahan pada tata letaknya. Namun, ini menjadi seperti sebuah perkembangan yang menarik minat masyarakat untuk menjadikan daerah di lapangan murjani ini sebagai pusat wisata yang berubah cukup signifikan.

Karena saya merasa tidak ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, ditambah momen-momen candid yang tiba-tiba dari sekitar kurang menarik, akhirnya saya melipirkan langkah di sebuah bazar buku yang menjual buku-buku dengan harga murah. Saya yang basicnya suka membaca buku, akhirnya terpaku lama di sana karena membaca beberapa buku yang tertarik dibaca sesaat, tetapi tidak satu pun buku yang saya bawa pulang.

Puas bereksplorasi dengan buku-buku tersebut, akhirnya saya lanjut berjalan dan langsung menuju ke parkiran. Sore di penghujung tahun 2022 itu benar-benar tidak ada yang membuat saya menarik untuk diabadikan menjadi sebuah foto, akhirnya saya menyambangi sebuah coffe shop yang letaknya tidak cukup jauh.

Di coffe shop tersebut, saya melakukan kecerobohan yang biasanya jarang saya lakukan, yakni memformat isi memori kamera tanpa sengaja, tanpa sadar, dan tanpa rasa bersalah wkwk. Padahal waktu sore itu saya sudah mendapatkan beberapa foto bagus untuk diupload di media sosial, tau-taunya malah keformat dan mengharuskan saya kembali lagi ke lapangan murjani setelah sholat maghrib.

Oh iya, setelah dari coffe shop, kami beranjak ke mesjid untuk sholat maghrib sebentar. Nah, setelah usai sholat maghrib dan roda motor kembali menggerus jalan raya utama yang mengharuskan saya untuk mencari marka jalan yang menyediakan untuk berputar balik, saya iseng untuk singgah sejenak di dekat jpo (jembatan penyeberangan orang) yang terbilang cukup baru di Kalimantan Selatan, dan saat itu jpo tersebut belum beroperasi, karena masih ada beberapa sedikit pengerjaan. Alhasil saya iseng membuka kamera hp saya dan mencoba memotret dari bawah jpo tersebut.

 Sebenarnya dulu di Banjarmasin juga ada jpo, tetapi karena usianya yang sudah cukup tua atau entah karena apa, jpo tersebut dihancurkan, dan baru sekarang di Banjarbaru ada di bangun jpo kembali. Foto di atas adalah hasil potret iseng saya menggunakan kamera hp dengan mode pro, siapa sangka menurut saya hasilnya cukup menarik. Saya lanjut berjalan dan berniat ingin mengambil dari sisi seberang sana.

Tidak begitu lama, saya langsung tancap gas lagi menuju lapangan murjani. Di waktu inilah orang-orang mendadak memenuhi kawasan tersebut, lahan parkir mendadak sempit, saya sempat memutari kawasan sekitar untuk mencari tempat parkir yang sekiranya nanti memudahkan saya untuk keluar, karena saya tidak akan berniat lama untuk memutari kawasan ini. 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, nuansa di sini tidak jauh berbeda sebagaimana nuansa pasar wadai ramadhan kemarin, sebab stand-stand penjualan makanan yang masih sama pun juga dengan wahana permainan yang masih sama. Hanya beda perkara waktu dan situasi dalam menghadapi saja.


Mungkin di tengah riuh ramai yang menggelora ini, kepala saya memikirkan satu hal, bagi orang-orang yang begitu effort mencari euforia untuk merayakan malam pergantian tahun, itu untuk apa? Ingin mengenang dan mengucap selamat datang untuk hari-hari yang dilewati? Bukannya setiap momen itu bergantung dengan pilihan kita sendiri, terlepas dari apakah waktu ikut andil di dalamnya, kan waktu cuma berfungsi sebagai satuan.

Namun, itu hanya gangguan-gangguan di kepala saya saja. Toh semua orang bebas mengekspresikannya mengenai pergantian tahun ini, mau dia berbuat apapun juga, toh itu urusan mereka, bukan urusan kita.

Namun, lagi-lagi saya merasa miris. Kalau orang-orang di zaman kita sekarang aja begitu terbatas menciptakan kreativitas, bagaimana nanti masa yang akan datang? Yang saat mereka dengan usianya saat itu masih asyik bermain lompat-lompatan, maka ketika mereka menginjak usia yang belum sempurna matang, mereka sudah lebih dulu dihajar habis-habisan dengan dramatisir yang lebih parah dari kita. 

Kemampuan bertahan hidup kita sekarang ini kan tercipta karena ada banyaknya media yang bisa kita jadikan validasi untuk membuang seluruh emosi. Di luar dari cara apapun yang digunakan, tetap saja media tersebut tercemar oleh sempitnya kerangka berpikir kita dalam membuang emosi secara mentah dan menganggapnya sebagai sampah.

Dan untuk membenarkan preposisi emosi yang dibuang atau pun dilampiaskan, adalah dengan memandang bahwa emosi yang dikeluarkan itu menjadi sesuatu yang manfaat. Karena kita terlalu menganggap remeh akan sesuatu yang buruk untuk kita jalani dalam hidup, dan kita mengalami banyak kegagalan untuk mengelola apapun masalah kita menjadi pola yang mampu menjawab permasalahan tersebut.

Tidak banyak semoga yang terpanjat untuk tahun 2023, sebab kejadian diciptakan oleh kesadaran diri yang kendalikan pilihan. Waktu hanyalah metafora dalam menjalankan hidup yang semoga saja masih bisa untuk diberi makna.

Oh iya, tidak begitu lama di sini, saya langsung kembali mengarahkan langkah kaki menuju parkiran. Beberapa saat setelah adzan isya berkumandang, dan jam sudah menunjukkan pukul delapan, saya memutuskan untuk kembali pulang ke Banjarmasin. Sebab saya juga ada acara kumpul bersama teman musabab ini adalah momen sederhana yang berhak dibanggakan. Tidak muluk-muluk mencari euforia besar, cukup bisa kembali bercengkrama setelah begitu lama waktu memisahkan semuanya, kiranya patut membuat kita mencukupinya.

 
Share: