Dialog-dialog sederhana yang sering kita analogikan, menjadi salah satu konklusi tertinggi mengenai ekspektasi. Bahkan terkadang, kita bisa menjadi bagian dari ekspektasi itu sendiri, saat kita tidak merasakan apa-apa mengenai istimewanya anugerah yang kita terima.
Ini bukan kali pertama aku merasa berterima kasih kepada apapun yang telah mempertemukan kita. Sehingga kolase mengenai pencarian menjadi satu-satunya alasan mengapa kita ada untuk tetap bertahan.
Mungkin ini lebih dari sekadar romansa cinta, yang didramatisir oleh dialektika prakata. Sebab menumbuhkan relasi tidak soal menjatuhkan hati, tetapi perkara belajar bagaimana berhati-hati di antara dua hati. Mungkin itu pula sebabnya kita ada dan bertaut untuk saling memahami, bukan untuk saling mengasihi.
Karena aku percaya, kita sama-sama dibangun oleh idealisme masing-masing mengenai peradaban, belajar dari mana saja mengenai landasan dan falsafah kehidupan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk tenggelam di dalam arus kehidupan yang tidak diinginkan. Meski omong kosong sekali rasanya kalau kita tidak pernah menginginkannya, tetapi konsep yang kita pahami mengenai waktu akhirnya menjadi landasan untuk tetap bertahan dalam rasa nyaman yang masing-masing kita temukan, tanpa melibatkan perasaan.
Meski ada banyak kalimat omong kosong yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak begitu piawai memaknai perasaan, kita tetap bertahan untuk membungkam mulut-mulut yang haus dengan pembenaran. Melalui argumentasi yang dibawakan, kita seolah menjadi dua orang yang saling mengendalikan.
Meski tahu orang tidak akan peduli, tetapi kita mempunyai implikasi mengenai peradaban sebuah hari. Waktu-waktu yang mengitari kehidupan seorang manusia, dimanipulasi oleh dua hal yang diwakili oleh logika. Satu kepuasan, satunya lagi keharusan. Keduanya terdinding tipis oleh yang namanya harapan.
Kadang orang memang sebegitu ambigunya mehamami harapan sebagai kepuasan, seolah harapan adalah manifestasi kepuasan dan kebahagiaan. Hingga akhirnya kita lupa bahwa ada yang lebih besar dari itu semua, yakni kesederhanaan, dan itu menjadi bagian dari keharusan yang di dalamnya bisa kita carikan kepuasan.