Sabtu, 28 Mei 2022

Seni menghadapi penderitaan

Tidak asing lagi rasanya bahwa konsep pragmatisme mengenai kebahagiaan dan kesenangan menjadi dalih utama dari tujuan hidup umat manusia. Saking ekstrimnya pragmatisme ini malah bisa jadi sampai membuat doktrinasi, bahwa memang kebahagiaanlah yang sejatinya justru harus diraih oleh manusia.

Secara faktual, kebahagiaan datang dengan euforia yang berlipat ganda, tetapi tidak pernah bisa bertahan lama. Namun sebaliknya, kesedihan malah menjadi salah satu emanasi yang memparadigmakan persepsi, oleh karena rasa sakit yang dialami dalam kesedihan tersebut. Karena begini, pada dasarnya generalisasi terhadap kebahagiaan dan kesedihan itu justru menutup pandangan kita dari sebuah kerelaan, atau pada tingkatan lain dan sederhananya disebut ikhlas. 

Karena kebahagiaan dan kesedihan itu menjadi satu kolase yang tak terpisahkan dari hidup kita, dan mengkategorikan dua hal tersebut menjadi sesuatu yang berbeda, justru membuat taraf keseimbangan hidup manusia menjadi cacat. Artinya memihak salah satu dari keduanya adalah bentuk keegoisan kita dalam hal merasakan. Padahal, kalau sedih ya sedih aja, dihadapi, dinikmati. Sama seperti kebahagiaan yang kala kita mendapatkannya, kita bisa menikmatinya. Kesedihan pun harus demikian.

Nah, adapun penderitaan, kini menjadi salah satu paradigma yang tak asing lagi ditemukan pada setiap makhluk sosial. Penderitaan kadang bisa datang dari mana saja, termasuk dari dua hal tentang kebahagiaan dan kesedihan tadi. Karena pada dasarnya, konsep penderitaan adalah sebuah penolakan yang tidak bisa kita terima secara asumsi. Misalnya begini, ketika kita sedang berbicara dengan orang lain dan kita berharap agar lawan bicara kita dapat memahami apa yang kita sampaikan, lalu kita mulai berasumsi pada orang tersebut melalui cara dia berekspresi dan bagaimana representasinya terhadap penyampaian kita, tanpa kita tahu bagaimana kenyataan sesungguhnya apakah lawan bicara kita tadi dapat memahami atau tidaknya dari apa yang kita sampaikan.

Asumsi yang lahir itu akhirnya membuat satu penderitaan di antara kebahagiaan dan kesedihan. Artinya, konsep kebahagiaan dan kesedihan masih tergeneralisasi dalam bentuk kategori yang berbeda. Lalu cara kita menghadapinya adalah justru dengan menyamaratakan konsep kebahagiaan dan kesedihan tadi sebagai satu tingkatan yang sama sekali tidak berbeda.
Share: