Jumat, 04 Februari 2022

Dark jokes primitif dan agama yang dikebiri

Sudah sejak satu tahun terakhir ini saya merasakan familiarnya dark jokes di kalangan kelompok manusia, sebuah komedi gelap yang umumnya menyoroti terhadap sesuatu yang tabu dan sensitif, terutama topik yang dianggap menyakitkan apabila dibahas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kedatangan dark jokes ini, tetapi masyakarat Indonesia selalu saja menyalah kaprahinya. Setidaknya itu asumsi saya.

Dark jokes sebenarnya adalah hiburan yang setingkat lebih tinggi daripada komedi biasa pada umumnya, apalagi jika hal tersebut dibawakan oleh orang yang cukup berkompeten untuk menguraikan konteks di dalamnya. Menurut informasi yang saya temukan di internet, dark jokes pertama kali dikenalkan oleh comika bernama Coki Pardede, yang saya asumsikan bahwa bercandaan soal agama juga mulai merambah karena dia.

Tidak, saya tidak menjustifikasi apapun kepada dia, tidak etis juga rasanya kalau mencari benar salah kepada orang lain atas kekesalan saya terhadap orang yang mengikuti gaya komedinya. Saya hanya ingin mengulas sedikit bagaimana persepsi saya mengenai dark jokes dan bercandaan karena agama ini, yang kemudian bagi saya disalah-kaprahi oleh (tidak semua) masyarakat Indonesia.

Kali pertama saya mengenal Coki Pardede adalah ketika saya mengikuti konten Habib Husein Ja'far Al Hadar yang judulnya "Islam jadi asyik, (feat Coki Pardede), di sana Habib Ja'far dan Coki berdiskusi soal agama, di situ saya baru tahu sedikit lebih jauh soal Coki, apalagi saat dia mengaku bahwa dia agnostik.

Sedikit pernyataan, setelah melihat konten diskusi habib Ja'far bersama Coki, saya mulai tertarik dengan diskusi dan pemikiran-pemikiran yang dibawakannya di konten apapun, terlebih kalau Coki sedang diundang sebagai narasumber oleh konten kreator. Saya mengagumi cara dia bernalar dan memikirkan sesuatu secara objektif dan logis, serta rasional. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, saya akui saya cukup banyak belajar darinya.

Terlepas dari bagaimana dia berdiskusi, saya juga tertarik dengan gaya dia berkomedi, apalagi dengan humor yang terkesan gelap. Meskipun ada yang beberapa menyinggung dalam ranah agama, tetapi itu tidak masalah, dan bagi saya itu lucu. Di kepala saya, itu adalah pengemasan komedi yang membuat orang tertawa karena dia berhasil membuat orang lain merenungi terhadap agamanya sendiri, sekali pun dia sendiri tidak beragama.

Namun, fenomena geger momentum--kiranya begitulah saya menyebut orang-orang yang latah sama sesuatu yang lagi ngetrend. Apa-apa diikutin, apa-apa dikategoriiin, apa-apa dibecandaiin, semua yang lagi ngetrend bahkan jadi perbincangan hangat buat orang-orang yang butuh validasi sebagai makhluk sosial yang berintelektual--yang dialami oleh sebagian orang membuat saya menyorotinya dengan sinis. Untuk komedi dark jokes yang biasanya digunakan orang-orang sebagai bahan bercandaan di tongkrongannya, tidak menjadi masalah bagi saya, lebih tepatnya di telinga saya, pribadi tentunya. Sekali pun cringe sekali rasanya kalau apa-apa harus menggunakan dark jokes sebagai bahan bercandaan, seolah-olah primitif sekali humor mereka jika harus menggunakan tersebut.

Setingkat lebih tinggi dari dark jokes adalah bercandaan soal agama, dan perbandingan antara orang yang bercanda karena agama dan membercandai agama itu memiliki sekat yang cukup tipis. Artinya seseorang bisa saja membercandai agama hanya untuk sebuah humor yang sama sekali tidak ada kejenakaannya sama sekali, setidaknya itu menurut saya. Terlebih untuk orang-orang tolol yang memodifikasi kekafiran, bahkan sekaliber Tuhan, dan tradisi di luar muslim sebagai objektivitas bercandaan. Seolah-olah keberadaan mayoritas Islam di Indonesia menjadikan semua hal-hal yang di luar Islam menjadi objek bercandaan yang begitu jenaka bagi pemeluk--yang katanya--agama Islam itu sendiri.

Saya sebenarnya tidak peduli dan bodo amat sama orang-orang yang memiliki selera humor dan bercandaan karena agama, jika itu tidak melecehkan apa pun yang ada di dalam agama itu sendiri, mau pun agama lain. Tetapi telinga saya cukup muak mendengar bercandaan tentang agama yang seperti dikebiri oleh selera humor mereka yang cukup primitif. Seolah-olah komedi tidak mendapati kejenakaan jika itu berada di luar keagamaan. Karena semakin familiar kita menemukan, semakin sederhana kita mempermainkan. 

Selain selera komedi orang-orang yang latah dengan dark jokes dan agama, masih ada yang dikebiri di luar konteks agama dan komedi, yakni plesetan-plesetan yang menurutnya bercanda, dan itu di luar humor dalam konteks kejenakaan. Tapi, untuk hal ini saya masih berpegang teguh pada keapatisan yang saya miliki. Saya tidak memiliki urusan terhadap mereka yang mempermainkan dan memperalat agama untuk kepribadiannya sendiri, karena itu bukan urusan saya. 
Share: