Selasa, 06 April 2021

Perjalanan Makna



Pada hari Minggu kemarin 5 April 2021, saya melakukan kegiatan motret street photography di lapangan Murjani Banjarbaru pada malam hari. Simpel saja sebenarnya tujuan saya mengapa begitu ingin motret di tempat yang cukup jauh dari rumah saya, terlebih saya berangkat pada malam hari dan baru pulang ke rumah saat hari akan menjelang subuh, karena saya ingin merasa cukup dekat dengan mereka-mereka yang sudah terlampau akrab dengan jalanan dunia malam. Sebelum malam cukup larut, saya ikut berkecimpung di tengah keramaian orang-orang yang menikmati hiburan malam itu. Ada banyak momen dan kejadian yang terekam di kepala saya, yang turut serta juga saya abadikan di beberapa foto yang semoga saja dapat tersampaikan dengan cukup baik.





Seperti yang bisa sama-sama kita renungkan, bahwa di tengah-tengah keramaian banyak orang dalam menikmati hiburan, ada mereka yang berjuang untuk memenuhi standar kehidupan. Mereka ada di tengah-tengah keramaian tersebut, membentuk persinggahan, menciptakan rasa nyaman, dari banyaknya rasa lelah untuk bisa sampai dan tiba pada keadaan yang diinginkan.



Tak ada yang pernah tahu bagaimana setiap orang merangkul hidupnya hingga sampai di titik perjuangan yang masih mampu memberikan senyuman pada orang-orang yang masih cukup ceria menikmati hiburan. Titik peluh bukan lagi satu-satunya alasan mengapa kita harus mengeluh, sebab setitik keringat yang jatuh di mata mereka yang berjuang demi hidup, adalah cucuran arti yang membawa pulang makna dan materi untuk keluarga. Dan setitik keringat yang jatuh di mata mereka yang cukup ceria menikmati hiburan, adalah cucuran rasa syukur yang membuat perasaan dipenuhi oleh kebahagiaan.


Beberapa di antara kita akan begitu mudah menyingkirkan keterasingan. Duduk bersama dan berbincang hangat bersama orang baru, mampu menjadi salah satu upaya paling ajaib dalam menyembunyikan kepahitan hidup yang cukup naif. Ada cerita yang jauh tidak kita kenal dan hanya bisa kita dapat dari pengalaman orang lain, yang darinya kita mampu mendapatkan keluasan rasa syukur. Mereka adalah orang-orang tangguh, yang telah berbagi ketangguhan pada kita yang sudahh begitu siap mendengarkan.



Hidup memang tidak seutuhnya mampu kita lawan dengan berbagai macam penolakan, dan kita hanya mampu menghadapinya dengan penuh rasa keberanian. Sebab seberapa jauh pun kaki melangkah untuk  berlari, kita masih akan tetap hidup di dalam dunia yang sama, dunia yang penuh oleh euforia dan prasangka pada masing-masing isi kepala manusia.


Hampir dua jam saya dan teman saya berjalan kaki mengelilingi tempat hiburan yang dihuni sementara oleh manusia-manusia yang inign memberikan kegembiraan untuk keluarga kecilnya itu. Tak terasa malam sudah mulai larut, beberapa orang ada yang sudah bergegas pergi dan pulang, begitu pula dengan orang-orang yang berjualan di sana. Mereka juga sudah mulai mengemas barang-barang dagangannya, menyisakan senyum hangat sebagai hadiah untuk keluarga kecil di rumah. Sepercik lelah yang menjadi rasa syukur penuh hikmah.


Saat saya ingin berjalan menuju parkiran yang cukup jauh, saya mendapati seorang penjual siomay yang nangkring di pinggir jalan. Saya melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri, melihat waktu malam yang sudah beranjak larut. Saya pikir beliau berhenti karena sedang menunggu pembeli, ternyata ada orang yang tengah membeli dagangan beliau. Mulanya saya juga ingin membeli karena saya pikir belum ada orang yang singgah untuk membeli. Namun ketika melihat ada orang lain yang sudah lebih dulu membeli, saya hanya bisa mengambil momen tersebut dan berdoa untuk kelancaran rezeki mereka dan kita semua yang masih diberikan umur untuk hidup lebih lama di dunia ini. Dan semoga kita selalu bisa memberikan kebahagiaan untuk mereka yang masih meraihnya dengan penuh perjuangan.

Di tengah perjalanan pulang menuju Banjarmasin, saya merangkul sebagian lelah yang tertutupi oleh kepuasan tentang hal-hal yang mampu saya dapatkan kala itu. Gemerisik angin malam berdendang syahdu di kedua telinga saya, memutar ulang sejenak langkah kaki yang membawa saya pada kejadian-kejadian penuh makna. Dulu, saya serupa dengan mereka yang begitu bergembira menaiki arena-arena permainan yang seru, tertawa lepas tanpa ada beban yang terhempas. Namun, kini semuanya hanya tentang ingatan yang saya putar ulang di keadaan yang jauh berbeda. Keadaan yang membawa saya untuk lebih akrab pada hal yang bernama hidup.

Setibanya di Banjarmasin, jam sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi. Saya dan teman saya singgah berhenti sebentar di trotoar pinggir jalan A Yani yang terdapat kursi untuk bersantai. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas melewati jalan tersebut. Sunyi dan hening merajai sekitar dengan begitu penuh, di dekat kami singgah, saya mendapati seorang penjual kerupuk yang sedang tertidur pulas di atas kursi.


Di kepala saya ada banyak lintasan-lintasan rasa yang tumpah begitu saja saat melihat keadaan beliau, bahkan teman saya menyampaikan kemungkinannya pada saya, apakah orang itu sudah berkeluarga atau belum. Namun, spekulasi tidak tentu belum bisa memenuhi semua yang masih menjadi tanda tanya di dalam kepala. Kata teman saya, sekeras apapun seseorang bekerja untuk keluarganya, selalu ada waktu dan kesempatan baginya untuk merasakan kepulangan, yang tentunya sangat dinanti-nantikan oleh keluarga kecilnya. 



Dalam hati saya hanya bisa berdoa, semoga kita semua mampu memberikan kebahagiaan untuk mereka yang masih berusaha meraihnya dengan penuh perjuangan.

Share: