Setiap kritikan selalu mengandung tujuan, ke mana kritik itu ingin dibawa untuk bersinggah. Di mana di dalam kritik tersebut berisikan sebuah harapan untuk bagaimana kita mewujudkan harapan tersebut. Namun, harapan di mata orang-orang banyak sering kali hanya menjadi sebuah mimpi yang belum tentu bisa menjadi kenyataan. Seolah-olah harapan hanya akan menambah rasa kecewa. Mungkin benar, harapan akan menumbuhkan kekecewaan, ketika harapan yang kita inginkan tidak terwujudkan.
Permasalahannya, bagaimana kita bisa tahu harapan kita tersebut memiliki sebuah peluang untuk merefleksikannya pada kenyataan, jika argumentasi kita hanya tersendat pada kemungkinan-kemungkinan yang membuat harapan itu menjadi sebuah kegelapan yang kita takuti. Bukankan tujuan dari kritik itu berisikan usaha untuk bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan? Lantas mengapa menaruh kemungkinan buruk dalam kritikan tersebut? Anda ingin memberikan kritik atau hanya ingin menakut-nakuti?
Kritikan memang ada dengan beberapa kemungkinan yang memenuhi resiko, bukan berarti dengan resiko itu kita harus menaruh rasa takut lebih besar terhadap harapan yang ingin kita wujudkan. Mau sampai kapan akhirnya kita menerima perbedaan? Bedakan antara menjadi satu dan bersatu. Tujuan mengkritik anda apa? Ingin anda yang maju, atau kita semua menerima kemajuan?