Misal, ada seseorang yang tiba-tiba datang ke kita dalam keadaan stress, entah apa itu penyebabnya. Sekalipun diceritakan sebabnya, kita sebagai pendengar sering kali merasa bingung harus merespon seperti apa, di sisi lain kita juga merasa kasihan dengan kondisinya. Salahnya kita dalam mengambil tindakan ialah ketika menanggapinya dengan sesuatu yang nggak seharusnya kita tanggapi di saat-saat seperti itu. Contohnya "Nggak semua orang kok punya beban berat seperti ini, masih ada banyak orang lain di luar sana yang juga sama seperti ini, jadi yang sabar ya." Kalimat responsif seperti itu sebenarnya bertujuan baik oleh si pendengar, tapi sayangnya bagi si korban yang merasa stress, itu malah menjadi teror mentalnya untuk kembali bangkit.
Yang sejatinya harus kita lakukan ialah dengan mengandilkan perasaan kita kepada si korban, dengan kita memahami perasaan si korban, dan meyakinkan kepada si korban bahwa hal-hal seperti itu adalah pembuka jalan yang lebih baik lagi untuk merasa kuat ke depannya, untuk merasa hebat ke dapannya. Itu sebabnya kenapa saya pernah menulis tweet seperti ini, 'Ada dua jenis perkataan manusia yang tidak dapat kita percaya.
1. Ketika ia sedang merasa bahagia
2. Ketika ia sedang merasa kecewa
Karena nafsu dan ego akan menguasai salah satu di antara keduanya, dan satu-satunya perkataan paling sempurna adalah rasa kesepian yang kita peluk dengan begitu mesra. Bahkan terkadang, kebijakan berempati sering kali mematikan mentalisme seseorang untuk melakukan kebangkitan dalam dirinya.