Kita selalu memiliki banyak hak dan pendapat atas diri sendiri, sebuah prinsip yang nantinya akan kita dapatkan untuk diri kita sendiri. Namun, ada yang jauh lebih penting daripada membicarakan tentang hak, pendapat, dan prinsip, yaitu tentang keadaan diri kita sendiri, tentang kepedulian untuk diri sendiri, seberapa inginnya diri kita untuk berpengaruh besar terhadap orang lain.
Di tengah-tengah zaman yang semakin berevolusi, ada titik keadaan yang mengerdilkan legalitas logika yang manusiawi, mengubah pandangan hidup dengan segala intimidasi. Kita seolah-olah hidup sebagai makhluk sosial, tetapi kita terlalu apatis terhadap dunia sosialisasi, bahkan dengan kemungkinan besar, ada banyak orang yang semakin asing terhadap makna sosial, dan sosialiasi.
Ada banyak orang yang meneriakkan suara-suara kebenaran, menegakkan suara-suara keadilan, mengerdilkan sifat manusia yang direnggut oleh peradaban. Namun mereka lupa bagaimana menjadikan diri mereka sendiri sebagai manusia, yang lebih mengerti terhadap apatisnya dunia sosialisasi. Karena dengan suara teriakan di tengah keramaian, kita akan semakin mengerdilkan status kemanusiaan.